Anwār al-Bashāir: Mahma Kānat Qolīlatan

Berita650 Dilihat

“Seminar Bedah Kitab Anwār al-Bashāir: Mahma Kānat Qolīlatan” 

Turats merupakan peninggalan para ulama dan cendekiawan umat Islam terdahulu. Dari mereka, kita dapat memahami Al-Qur’an dan sunah serta kondisi umat Islam terdahulu, khususnya bangsa Arab yang hidup semasa dengan Nabi Muhammad SAW.

Turats kemudian berkembang. Beberapa pakar sejarah memberikan batas bahwa hasil karya ulama dan cendekiawan sebelum masa Abbas Pasha dari Dinasti Ali Pasha di Mesir, disebut sebagai turats dan setelahnya disebut sebagai kitab-kitab kontemporer. Begitu juga di Kajen, terdapat banyak para kiai yang mahir dalam mendalami turats dan kitab-kitab kontemporer lainnya. Salah satu tokoh kiai yang terkenal di Kajen serta dikagumi baik dari tutur katanya, gaya kepemimpinannya dan keilmuannya ialah KH. MA. Sahal Mahfudh. Beliau telah menulis berbagai kitab, diantaranya Thariqat al-Hushul ‘ala Ghayat al-Wushul, Tsamrat al-Hajaniyyah, Intifakh al-Wadijain, Anwar al-Bashair ‘ala Ta’liqat al-Asybah wa an-Nadhair, dan lain-lain.

Kita sebagai santri Kiai Sahal dan sebagai generasi penerusnya, tentu ingin mendalami hasil pemikiran-pemikiran beliau. Maka dari itu, Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Himpunan Santri Ma’had Aly Pesantren Maslakhul Huda fi Ushul al-Fiqh dalam rangka ta’allum wa at-tafaqquh fi ad-din menyelenggarakan seminar untuk membedah salah satu kitab karya KH. MA. Sahal Mahfudh yang berjudul Anwar al-Bashair ‘ala Ta’liqat al-Asybah wa an-Nadhair”. Kegiatan tersebut dipandu oleh moderator K. Muhammad Mirza, Lc. dengan narasumber K. MA. Abdulloh Harits dan diikuti oleh seluruh santri Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda kelas 1-4. Adapun teknis pelaksanaannya dilakukan secara luring yang bertempat di Aula Mubtadiat Lantai II pukul 13.00-17.00 WIB (14/02). Tujuan dilaksanakannya seminar tersebut ialah memberikan pengetahuan dan pemahaman keilmuan turats lebih mendalam kepada para santri serta membekali para santri agar bisa berfikir kritis tentang keilmuan turats.

Acara Seminar Bedah Kitab tersebut berjalan dengan lancar. Peserta sangat antusias dalam mengikuti rangkaian acara. Dan ketika sesi tanya jawab dilanjutkan diskusi, moderator dan narasumber memberikan guyonan ilmiah sehingga suasana menjadi semakin hidup.

Pada sesi pemaparan materi, K. MA. Abdulloh Harits menjelaskan, bahwa tidak pernah terbesit dalam benak Kiai Sahal bahwa catatan-catatan yang pernah ia tulis dalam lembaran kitab al-Asybah wa an-Nadha’ir akan mampu menerangi khazanah keilmuan generasi setelahnya. Yang ada dalam sanubari Kiai Sahal saat mengkaji kitab tersebut di Pesantren Sarang hanyalah berusaha dengan sungguh-sungguh mencatat setiap penjelasan yang ia dapatkan dari mahagurunya. Namun siapa sangka, ternyata catatan-catatan tersebut di kemudian hari layak untuk dinyatakan sebagai kitaban muallafan, yakni sebuah kitab yang sedari awal memang sengaja ditulis. Dan catatan-catatan itu oleh Kiai Sahal diberi nama Anwar al-Basha’ir ‘ala Ta’liqat al-Asybah wa an-Nadha’ir.

Sebagaimana yang tertulis dalam mukaddimah kitab tersebut, Kiai Sahal menjelaskan bahwa sebagian besar catatan-catatan tersebut ia dapatkan dari Kiai Zubair Dahlan saat mengaji kitab al-Asybah wa an-Nadha’ir karya Syekh Jalaluddin as-Suyuthi. Maka dari itu, Kiai Sahal menyatakan bahwa Kiai Zubair adalah Sang ‘Umdah (pilar utama) bagi terciptanya Anwar al-Basha’ir. Selain itu, Kiai Sahal menjelaskan bahwa dirinya juga menuliskan catatan-catatan yang ia dapatkan dari berbagai kitab fikih. Perlu diketahui bahwa kitab al-Asybah wa an-Nadha’ir yang dimiliki oleh Kiai Sahal saat itu merupakan cetakan penerbit Mathba’ah Mustafa Muhammad pada tahun 1936 M.

Mengacu pada catatan-catatan Kiai Sahal, ternyata dalam cetakan tersebut ditemukan cukup banyak kekeliruan dalam hal penulisan. Sebagaimana diketahui dalam dunia literatur khazanah klasik bahwa kekeliruan penulis memberikan imbas terhadap kekeliruan pemahaman. Oleh sebab itu, dalam karya tersebut kerap ditemukan catatan-catatan Kiai Sahal yang menuliskan tentang koreksi naskah yang dilakukan oleh Kiai Zubair. Dan pada titik ini memang kekaguman Kiai Sahal akan luasnya penguasaan ilmu fikih Kiai Zubair harus disepakati. “Falillāhi durruhu ‘aliman bil fiqhi,” ungkapan kekaguman Kiai Sahal pada sang guru.

Tidak hanya ragam koreksi saja yang dicatat dengan sangat cermat oleh Kiai Sahal, beragam penjelasan Kiai Zubair juga ditulis dengan sangat apik di sela-sela redaksi kitab al-Asybah. Dan setiap penjelasan ataupun koreksi yang didapatkan oleh Kiai Sahal dari Kiai Zubair selalu diakhiri dengan kalimat “intahā syaikhunā”. Sedangkan catatan yang memang berasal dari Kiai Sahal sendiri seringkali diakhiri dengan kalimat “intahā kātibuhu”. Akan tetapi, tidak semua penjelasan dari Kiai Zubair diterima dengan legawa oleh Kiai Sahal. Ada beberapa koreksi atau penjelasan dari Kiai Zubair yang dirasa oleh Kiai Sahal masih menyisakan kejanggalan. Dan untuk itu Kiai Sahal pun tidak segan-segan menuliskan pandangannya yang berbeda dari sang guru.

Terlepas dari itu semua, memang catatan-catatan yang diabadikan oleh Kiai Sahal dalam Anwar al-Bashair tidak begitu banyak. Berbeda dengan catatan-catatan beliau yang diabadikan dalam Thariqat al-Hushul. Bahkan, ada beberapa halaman yang tidak ada catatannya sama sekali. Oleh sebab itu, dalam mukaddimah Anwar al-Bashair Kiai Sahal menyatakan:

مهما كانت قليلة

Muncul persepsi bahwa naskah asli dari beberapa halaman tersebut hilang dan diganti dengan naskah lain. Namun, ketika melihat riwayat mata rantai keilmuan Kiai Sahal saat mengaji Asybah wa an-Nadhair melalui jalur Kiai Zubair Dahlan, ternyata Kiai Sahal menuliskan:

فقد سمعت الأشباه والنظائر بتمامه إلا في بعض مواضع يسيرة

“Dari sini dapat diketahui bahwa memang ada beberapa tempat dalam Asybah wa an-Nadhair yang tidak dilalui oleh Kiai Sahal dengan cara mendengarkan kajian kitab tersebut dari KH. Zubair Dahlan. Bagaimanapun itu, dengan melalui “catatan-catatan kecil” Kiai Sahal yang diberi nama Anwar al-Bashair ini saya pribadi dapat sedikit membayangkan betapa dalamnya penguasaan fikih K.H Zubair Dahlan serta betapa telitinya dalam mengkaji sebuah kitab.” Jelas K. MA. Abdulloh Harits.

Oleh karena itu, dalam Anwar al-Bashair kerap ditemukan catatan-catatan Kiai Sahal yang menjelaskan tentang koreksi naskah yang dilakukan oleh gurunya yaitu KH. Zubair Dahlan. Misalnya,

( قوله محتملا ) الذي صوبه شيخنا “محتمل” بالرفع، قال : أي وهو أي كل منهما محتمل

Contoh lain misalnya,

(قوله ورد الزكاة ) في نسخة “ونصب الزكاة”, وهي التي صوبها شيخنا. أي اعطائها للمستحقين

Namun, ada juga pembacaan KH. Zubair Dahlan yang oleh Kiai Sahal dirasa kurang tepat. Misalnya dalam catatannya Kiai Sahal menuliskan;

لعل الواو للحال وإن زائدة، أي والحال أنه لم يكن فعلهما معصية، خلافا لما قرره شيخنا من أنه‍ا غاية.

Sebagaimana yang pernah dikisahkan oleh Kiai Aniq Muhammadun bahwa Kiai Sahal pernah berkata, “tidak ada karya ulama yang final”. Perkataan ini dapat dipahami bahwa karya-karya ulama dahulu masih membuka peluang dan masih memberikan kesempatan agar dikembangkan lagi oleh generasi selanjutnya, termasuk di antara karya-karya tersebut adalah Anwarul Basha’ir.


Ditulis oleh: Ima Nur Diana, santri Ma’had Aly semester IV.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *