Anjing Suci, benarkah? 

Forum Diskusi897 Dilihat

Bagi umat Islam, untuk menjalankan ibadahnya kepada Allah terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. Diantara syarat tersebut adalah harus suci dari najis. Najis merupakan segala sesuatu yang dianggap kotor menurut syariat dan hal tersebut dapat menghalangi sahnya salat(1). Najis sendiri statusnya sudah ditentukan atau disepakati pada benda-benda tertentu, seperti air kencing, darah, dan nanah. Ketiga benda ini sudah dipastikan status najisnya. Namun, pada benda-benda tertentu ulama’ berselisih tentang status kenajisannya, seperti halnya anjing(2)

Para imam mazhab berbeda pendapat mengenai status kenajisan anjing, Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hambal menganggap bahwa anjing dan seluruh keturunannya dikategorikan sebagai najis. Bahkan, termasuk golongan najis yang berat (mugholadzoh)(3). Kemudian, Imam Abu Hanifah memandang anjing sebagai suatu barang yang tidak najis secara‘ainiyyah, Akan tetapi, beliau menganggap ada beberapa bagian dari anjing yang dianggap najis, seperti mulutnya (termasuk juga air liurnya) serta kotorannya(4). Dari pandangan ketiga mazhab ini dapat kita lihat bahwa anjing dapat dikategorikan sebagai benda yang najis.

Namun, dalam pandangan mazhab Maliki anjing termasuk pada kategori benda yang suci. Sebagaimana diungkapkan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Muin:

قال مالك وداود: الكلب طاهر ولا ينجس الماء القليل بولوغه وإنما يجب غسل الإناء بولوغه تعبدا.

Imam Malik dan Dawud berkata, anjing merupakan benda yang suci dan air yang sedikit tidak dapat menjadi najis sebab jilatannya. Adapun wadah bekas air tadi tetap wajib dibasuh sebab terkena jilatannya sebagai bentuk ta’abbud

Hal ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana cara Imam Malik beristidlal atau menggali dalil sehingga memutuskan bahwa anjing adalah benda yang suci. Mengenai hal tersebut, mazhab Maliki memiliki dua alasan sebagaimana telah dijelaskan oleh Syekh Al Habib Bin Tahir dalam kitab Al Fiqh Al Maliki Wa Adilatuhu:

تعددت الأدلة داخل المذهب المالكي على طهارة الكلب من وجهتي نظر: الأولى: مبنية على الأدلة السابقة فقد قاس أصحابها سؤر الكلب على أسار السباع إذ الكلب سبع من السباع وحكموا بطهارته بدليل القياس وقد تقدمت أدلة طهارة أسار السباع.

Pendapat yang pertama mazhab Maliki memandang bahwa anjing itu suci karena mereka menyamakan bekas jilatan anjing (su’rul kalb) dengan bekas jilatan hewan buas lainnya yang dihukumi suci, karena anjing termasuk salah satu dari jenis hewan buas. 

الثانية وأصحابها يرون نجاسة أسار السباع، فلم يلحقوا الكلب بها، وإنما الحقوه بالهرة والعلة التي ألحقوا بها الكلب بالهرة هي التطواف، ففي قوله عليه السلام في الهرة: إنما هي من الطوافين عليكم تعليل بأن عدم نجاسة الهرة راجع إلى أنها من الطوافين، والكلب يشترك معها في العلة.

Pendapat kedua, tidak menyamakan bekas jilatan anjing dengan bekas jilatan hewan buas, karena pendapat kedua mengatakan bahwa bekas jilatan hewan buas dihukumi najis. Akan tetapi mereka menyamakan sucinya anjing dengan kucing. Hal ini dikarenakan anjing dan kucing memiliki kesamaan dalam hal tathwaf (mengitari manusia atau berjalan-jalan di sekitar manusia).

Kemudian, ketika anjing dihukumi sebagai binatang yang suci hal ini akan menyebabkan perbedaan cara pandang terhadap hadis : 

عن أبي هُرَيرَةَ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: (إِذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِي إناء أحدكم فليغسله سبعا). رواه البخاري

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, Apabila ada seekor anjing minum di wadah salah seorang dari kalian, maka hendaklah ia mencucinya tujuh kali. (HR, Bukhari, No. 170).

 

Dari hadis tersebut, mazhab yang berpandangan bahwa anjing itu najis menganggap adanya basuhan tujuh kali disebabkan karena kenajisan anjing. Sedangkan, dari mazhab Maliki yang berpandangan bahwa anjing itu merupakan binatang yang suci menganggap adanya basuhan tujuh kali pada hadis tersebut sifatnya ta’abudi (murni perintah), sebagaimana yang diungkapkan Syekh Ibnu Daqiqil ‘Ied dalam kitab Ihkamul Ahkam: 

وَحَمَلَ مَالِكٌ هَذَا الْأَمْرَ عَلَى التَّعَبُّدِ، لِاعْتِقَادِهِ طَهَارَةَ الْمَاءِ وَالْإِنَاءِ. وَرُبَّمَا رَجَّحَهُ أَصْحَابُهُ بِذِكْرِ هَذَا الْعَدَدِ الْمَخْصُوصِ، وَهُوَ السَّبْعُ؛ لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ لِلنَّجَاسَةِ: لَاكْتَفَى بِمَا دُونَ السَّبْعِ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ أَغْلَظَ مِنْ نَجَاسَةِ الْعَذِرَةِ. وَقَدْ اكْتَفَى فِيهَا بِمَا دُونَ السَّبْعِ.

Imam Malik mengarahkan amr (perintah) basuhan tujuh kali pada perintah yang sifatnya ta’abudi karena beliau meyakini kesucian air dan wadah yang telah digunakan untuk minum anjing. Bahkan ashab Maliki mengunggulkan pendapat bahwa penyebutan bilangan “tujuh” ini memiliki makna khusus, karena jika air dan wadah tadi dianggap najis maka cukup untuk membasuhnya kurang dari tujuh kali karena kenajisan wadah tadi yang berasal dari air liur anjing tidak lebih berat dari najisnya kotoran.

Kesimpulannya, mazhab Maliki menganggap kesucian anjing dengan dua alasan. Alasan yang pertama anjing disamakan dengan binatang buas yang hukumnya suci. Alasan yang kedua menyamakan anjing dengan kucing dalam segi tathwaf (binatang yang mengitari manusia). Kemudian, mengenai hadis yang menyatakan bahwa bekas wadah yang digunakan minum anjing harus dibasuh tujuh kali, perintah basuhan tersebut sifatnya ta’abbudi (murni perintah tanpa ada alasan).

 

Catatan kaki

 (1) Syekh Zakaria Al Anshari, “ Tuhfatut Thullab ”, (Indonesia: Dar Al-Rahmah Islamiyah, tt), halaman 20.

(2) Al-Ustadz Wahbah Al-Zuhaili, “ Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu ” ( Beirut Dar Al-Fikr,2020 hal 262 263 )

(3) Di tempat yang sama

(4) Syekh taqiyudin Abi fath Syihab bin daqiiqil ‘ied, “ Ihkamul Ahkam ”, (Beirut : Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2014) halaman 29 juz 1.

Majlis Musyawarah Ma’had Aly

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *