Hukum Memakan Marus (Dideh)

Artikel690 Dilihat

Marus atau dideh, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah darah (sapi, ayam, dan sebagainya) beku yang dimasak atau dikukus. Di beberapa daerah Jawa, marus kerap diolah menjadi pelengkap hidangan utama seperti sate dan makanan berkuah, baceman untuk pelengkap gudeg, nasi pecel, atau nasi campur.

Islam, melarang mengonsumsi atau memakan darah. Nahdlatul ulama (NU) menulis, ketentuan itu, ada di dalam Surat Al-Maidah ayat 3 yang isinya menjelaskan perihal makanan yang haram dikonsumsi, salah satunya adalah darah dengan kutipan ayat sebagai berikut:

 

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ

 

Artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai dan darah…” (Al-Maidah ayat 3).

Dengan ayat ini, jelas hukumnya mengonsumsi darah adalah Haram, baik dalam keadaan mentah maupun biasanya sudah dalam keadaan masak dengan berbagai pengolahan seperti rebus, goreng, atau bakar.

Berbagai tafsir juga menyebutkan, bahwa masyarakat Arab Jahiliyah zaman dahulu kala menuang darah hewan ternak pada usus lalu membakarnya, kemudian memakannya ketika masak. Sedangkan Allah, mengharamkan praktik memakan darah pada era Islam.

 

والحكمة من الذبح: مراعاة صحة الإنسان العامة، ودفع الضرر عن الجسم، بفصل الدم عن اللحم وتطهيره من الدم؛ لأن تناول الدم المسفوح حرام بسبب إضراره بالإنسان، لأنه مباءة الجراثيم والمكروبات

 

Artinya: “Hikmah penyembelihan hewan adalah penjagaan atas kesehatan manusia secara umum dan penolakan mudharat dari tubuh manusia dengan memisahkan darah dari daging hewan dan menyucikannya dari darah karena mengonsumsi darah yang mengalir hukumnya haram karena membahayakan manusia; karena darah merupakan sarang kuman dan bakteri,” (Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1984 M/1404 H], juz III, halaman 649).

Sementara sejumlah ulama juga mengatakan, hikmah penyembelihan hewan yang menumpahkan darahnya bertujuan untuk membedakan daging dan lemak halal dan yang haram, serta pengingat atas keharaman bangkai lantaran darahnya yang menetap pada dagingnya. (Az-Zuhayli, 1984 M/1404 H: III/649).

Wallahua’lam..

Oleh: Mizan Iktafa, Santri Semester 5 Ma’had Aly PMH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *