Ilmu Dalam Ibadah, Antara Urgensi Dan Implikasi

Artikel1066 Dilihat

Manakah yang lebih penting? Ilmu atau ibadah? Bicara tentang urgensi ilmu dan ibadah, keduanya merupakan dua hal penting yang tidak bisa terpisahkan yang menjadi poros dari tindakan manusia di dunia, ibadah tanpa ilmu akan menjadi sia-sia, ilmu tanpa disertai ibadah maka ilmu tersebut tidak berguna, namun ironisnya dalam realitas sosial yang banyak kita temukan, banyak sekali seseorang dalam melaksanakan ibadahnya tanpa disertai dengan ilmu, alhasil tanpa disadari ia telah keliru dalam memahami aturan syarat dan rukunnya,

Imam Al Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin menuturkan “Ilmu lebih mulia dari pada ibadah” dari pada itu Nabi Muhammad SAW. bersabda :

نظرة إلى العالم أحب إلي من عبادة سنة صيامها وقيامها

Memandang seorang yang berilmu lebih Aku cintai daripada beribadah satu tahun berpuasa siangnya dan mendirikan shalat malamnya.

Ilmu diibaratkan seperti pohon dan ibadah adalah buahnya, kemanfaatan sebuah pohon terletak pada buahnya namun buah tidak akan ada dan memberikan sebuah manfaat tanpa adanya pohon karena pohon adalah asal dan pokok dari semua hal[1].

Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin menyebutkan tentang keutamaan sebuah ilmu pada sebuah hadits yang berbunyi:

مَنْ سَلَكَ طَريقا يَبْتَغي فيه عِلْما سَهَّل الله له طريقا إلى الجنة، وإنَّ الملائكةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتها لطالب العلم رضًا بما يَصنَع وإنَ العالم لَيَسْتَغْفِرُ له مَنْ في السماوات ومَنْ في الأرض حتى الحيتَانُ في الماء، وفضْلُ العالم على العَابِدِ كَفَضْلِ القمر على سائِرِ الكواكب وإنَّ العلماء وَرَثَة الأنبياء، وإنَّ الأنبياء لم يَوَرِّثُوا دينارا ولا دِرْهَماً وإنما وَرَّثُوا العلم، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بحَظٍّ وَافِرٍ (رواه أبو داود و الترمذي)

Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga, bahwasanya malaikat meletakan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang ia lakukan,dan bahwasannya penduduk langit dan bumi hingga ikan di air memintakan ampunan untuknya , keutaman seorang ahli ilmu dengan seorang ahli ibadah bagaikan cahaya bulan (yang dapat menyinari sesuatu) daripada bintang-bintang (yang sinarnya menetap pada dirinya sendiri), bahwasannya para Ulama’ adalah pewaris para Nabi, yang mana mereka tidak mewarisi dinar dan dirham melainkan mewarisi Ilmu, barang siapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang sempurna. (HR.Abu Dawud dan Tirmidzi)[2].

Ibadah merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim, untuk menjalankannya seorang hamba harus memiliki pengetahuan dalam menjalankannya, sebuah syi’ir menyebutkan:

وكل من بغير علم يعمل ÷ أعماله مردودة لا تقبل

Setiap orang yang beramal (ibadah) tanpa disertai ilmu amalnya tidak diterima dan ditolak[3].

Esensi dalam menjalankan suatu ibadah adalah mengetahui dzat yang disembah, serta bagaimana tata cara ibadah itu sendiri, jika seseorang belum memiliki pengetahuan terlebih dahulu mengenai sebuah ibadah ia tidak akan mengetahui hal-hal yang dilarang dan hal yang dapat membatalkannya, beda halnya dengan seorang yang berpengetahuan, ia dapat menjalankan hal-hal yang boleh dilakukan dan yang harus ditinggalkan sesuai pengetahuan yang sudah ia dapatakan, maka dari itu seorang hamba harus memiliki pengetahuan atau Ilmu terlebih dahulu karena menjadi dasar dan pijakan dari sebuah ibadah, wallahu a’lam bish showab.

 

Oleh : Arif Rahman Taufiq, Santri semester 5 Ma’had Aly PMH

[1] Imam Ghazali, Minhajul Abidin ila Jannati Rabbil Alamin, (Darul minhaj – Beirut), hlm. 45

[2]  Imam Nawawi Ad Dimasyqi, Riyadhus Shalihin, (DKI – Jakarta), hlm. 359

[3] Syamsuddin Ar Ramli, Ghoyatul Bayan syarah Zubad ibnu Ruslan, (DKI – Beirut), hlm. 6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *