KEDISIPLINAN SANTRI DALAM MUHADLOROH DI MA’HAD ALY MASLAHUL HUDA

Makalah334 Dilihat

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang sangat penting karena pendidikan mempunyai tugas untuk menyiapkan SDM bagi pembangunan bangsa, negara, dan juga agama. Begitu juga pendidikan di pesantren, pendidikan di pondok pesantren mempunyai ciri khas yang unik dan tentunya berbeda dengan pendidikan formal yang ada di luar pesantren. Dan sejauh ini, SDM dipondok pesantren itu lebih maju dan tentunya lebih berkembang dibanding non pesantren.

Kedisiplinan pun juga penting bagi para pelajar maupun para santri, karena disiplin itu mengajarkan seseorang untuk memperbaiki diri dan menciptakan sebuah keteraturan hidup. Dan oleh sebabnya, kedisiplinan itu sangatlah penting bagi pelajar khususnya para santri. Santri yang seharusnya disiplin dan aktif dalam bidang apapun, khususnya dalam muhadlorohnya. Dan para guru di pondok pesantren itu telah membimbing dan mengajarkan para santri untuk disiplin, baik itu berupa pemeparan maupun langsung dengan pekerjaannya. Apalagi para santri di ma`had aly pmh ini, padahal mereka memiliki tauladan yang sangat disiplin.

Kegiatan muhadhoroh adalah kegiatan pengembangan diri yang wajib untuk diikuti seluruh santri. Pelaksanaannya dilakukan setiap hari kecuali hari Jum’at pukul 08.00  WIB sampai selesai. Kegiatan ini dilakukan seluruh santri sesuai jadwal yang telah ditentukan sebelumnya. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan oleh peneliti di Ma’had aly maslahul huda bahwasannya kuliah tersebut merupakan  kejuruan yang memegang teguh nilai-nilai Islami sehingga tidak heran apabila berusaha keras untuk menciptakan lulusan-lulusan yang tidak hanya terampil dalam hal kejuruan, namun harus pula terampil dalam berdakwah atau mensyiarkan agama Islam ke khalayak umat dengan cara melaksanakan kegiatan muhadhoroh.[1]

Akan tetapi dalam kegiatan muhadhoroh ini perlu adanya hal yang inovatif dan produktif untuk mengembangkan skill dan kedisiplinan oleh santri ma’had aly. Faktor pendukung implementasi kegiatan muhadhoroh dalam menumbuhkan life skill santri tersebut:

  1. Adanya keinginan dari pihak manajemen untuk meningkatkan sdm dan menciptakan kader-kader ‘ulama yang siap terjun dimasyarakat,
  2. Adanya motivasi santri ma’had aly untuk belajar berdakwah, munculnya rasa ingin tahu dan ingin bisa sehigga siswa bersemangat dalam mengikuti kegiatan muhadhoroh tersebut,
  3. Adanya antusias atau simpati dari santri dalam pelaksanaan kegiatan muhadhoroh. Sementara itu faktor penghambat yang ditemui dalam implementasi kegiatan muhadhoroh dalam menumbuhkan life skill santri adalah: 1) rendahnya motivasi beberapa santri untuk belajar dan mengikuti kegiatan muhadhoroh, 2) adanya rasa sungkan terhadap guru(dosen) karena sering tidak berangkat muhadhoroh, 3) kurangnya persiapan dari santri sehingga pada saat tampil hanya sekedar tampil dan terkesan asal-asalan, 4) adanya beberapa anak petugas muhadhoroh yang tidak masuk pada saat pelaksanaan kegiatan muhadhoroh. Kegiatan muhadhoroh ini memang sangat bergantung pada motivasi dari masing-masing santri serta bakat yang memang telah mereka miliki sebelumnya, sehingga tidak heran apabila terdapat beberapa santri yang terkesan asal-asalan apabila ditunjuk sebagai petugas muhadhoroh, 5) adanya tanggung jawab yang banyak sehingga tak bisa berangkat, 6) kurangnya kesadaran santri dan malasnya sebagian santri dalam melakukan muhadhoroh.[2]

Dalam penelitian ini, penulis mencoba mendeskripsikan kegiatan muhadloroh yang dilaksanakan santri ma’had aly Maslakul Huda, yang oleh sebagian kecil santri ma’had aly setempat tradisi santri(sebagai murid) tersebut mulai ditinggalkan karena di nilai bertentangan dengan ajaran para guru, sebab sebagian santri mempunyai kesibukan dan tanggung jawab tersendiri. Oleh karena itu, peneliti  ingin mengungkap dan menguraikan yang sebenarnya terjadi pada santri ma’had aly Maslakul Huda ini. Karena di desa Kajen, sangat banyak pondok-pondok ahlu as-sunnah yang masih memegang teguh adat para guru mereka yang dalam melaksanakan kegiatan muhadloroh yang sudah berlangsung secara turun temurun dari generasi ke generasi di tengah masyarakat yang mulai berpikir terbuka dan modern.

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, peneliti mencoba mengambil rumusan masalah dari pokok-pokok judul, yaitu:

  1. Bagaimana pelaksanaan muhadhoroh yang dilakukan Santri Ma’had Aly Maslakul Huda?
  2. Mengapa santri Ma’had Aly Maslakul Huda melaksanakan kegiatan muhadhoroh hanya beberapa?

 

3. TUJUAN PENELITIAN

Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hal yang melatarbelakangi mengapa santri Ma’had Aly di pondok pesantren Maslakul Huda yang selama ini dikenal sebagai para santri yang benar-benar mendalami keilmuan fikih secara mendalam dan diharapkan bisa menjadi rujukan masyarakat dalam mencari solusi masalah justru terkesan merubah nama baik Ma’had Aly menjadi miris dan diragukan oleh masyarakat.

4. LANDASAN TEORI

Manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah di atas makhluk yang lain, dititahkan sebagai khalifah Allah dalam kehidupan di muka bumi ini. Pengertian khalifah atau pengganti, berfungsi penugasan dan pembebanan (taklif) kepada manu- sia untuk melaksanakan tugas-tugas kehidupan di dunia ini. Dalam hal ini manusia dibekali potensi dan kekuatan fisik dan kemampuan berpikir. Manusia diberi kekuatan untuk menggunakan akal secara penuh. Ini tidak berarti bahwa akal manusia adalah satu-satunya potensi absolut yang mampu memecahkan segala persoalan hidupnya, karena manusia juga diberi rasa dan nafsu yang saling mempengaruhi dalam setiap proses pengambilan keputusan atau penegasan sikap. Bahkan kecenderungan nafsu ke arah negatif pada umumnya lebih kuat, terutama bila pikir dan rasa tidak mampu mengendalikan[3]. Kegiatan muhadloroh yang dilaksanakan di ma’had aly tersebut sering kali diabaikan oleh santri, karena ada sebagian santri yang dipondok niatnya bukan kuliah, akan tetapi mondok. Di berbagai daerah di Jawa memiliki ciri khas pondok tersendiri dalam metode maupun kegiatannya, tetapi yang diajarkan hampir sama, dari segi belajar dan kegiatan yang dilakukan, mulai dari waktu ngaji, tujuan dari rumahnya, adab atau akhlak yang diajarkan, dan macam-macam keilmuan yang disajikan. Termasuk di dalam ma’had aly Maslakul Huda sendiri, ada beberapa santri yang memiliki  kegiatan dan tradisi dengan ciri khas yang tentu berbeda dengan santri yang lain.

Berdasarkan hal tersebut, peneliti mencoba untuk mendeskripsikan kegiatan muhadhoroh yang dilaksanakan oleh santri ma’had aly setempat dengan menggunakan metode penelitian kualitatif.  Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah,  dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.[4] Adapun bentuk penelitiannya adalah deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan hanya bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena dalam situasi tertentu. Untuk mendeskripsikan suatu budaya, sebagaimana tujuan penelitian ini maka penggunaan teori pendekatan etnografi dirasa sebagai teori yang tepat. Penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi merupakan salah satu penelitian yang dimana penelitian tersebut mempelajari tentang kelompok sosial ataupun budaya (adat) sebagian santri secara lebih mendalam yang mengharuskan peneliti bersentuhan langsung dan mengikuti kegiatan keseharian objek yang ditelitinya. Hal tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Creswell (dalam Sugiyono, 2014) yang mengatakan bahwa etnografi merupakan penelitian yang melakukan studi terhadap budaya kelompok dalam kondisi alamiah melalui observasi dan wawancara.

Penelitian etnografi tidak selamanya bekerja di lapangan. Hal tersebut dikemukakan oleh Daymon (2008) yang menjelaskan bahwa penelitian etnografi dapat dilakukan dalam bentuk deskripsi, kisah atau laporan tertulis mengenai suatu kelompok masyarakat yang dihasilkan oleh peneliti yang melewatkan waktu yang cukup panjang. tujuan dari bentuk deskripsi tersebut adalah untuk menggambarkan realitas sosial dalam sebuah kelompok sehingga para pembaca etnografi dapat dipahami dengan mudah.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, peneliti menggunakan teori pendekatan etnografi sebagai rujukan. Peneliti merujuk pada teori tersebut karena definisi yang dipaparkan sesuai dengan tujuan penelitian ini, yakni mendalami adat dan tradisi sebagian santri ma’had aly Maslakul Huda dalam bentuk deskripsi. Peneliti sendiri juga bersentuhan langsung dan mengikuti keseharian objek yang diteliti. Sehingga teori tersebut di rasa tepat untuk digunakan dalam penelitian ini.

B. PEMBAHASAN

Akhir-akhir ini, pondok pesantren membuka bidang perkuliahan yang dijuluki Ma’had Aly, yang juga semakin tersorot karena keilmuan dan pelajaran yang diajarkan di Ma’had Aly itu sangatlah relevan bagi para santri yang ingin meneruskan jenjang yang lebih tinggi. Dan tersorotnya itu tidak hanya karena mata kuliahnya, akan tetapi lulusan-lulusan dari Ma’had Aly ini rata-rata hebat ketika terjun dimasyarakatnya masing-masing, baik dalam keilmuannya, penyampainya, dan juga termasuk akhlaknya. Oleh karena itu nama Ma’had Aly, diluar sana menjadi sangat luar biasa.

Akan tetapi kenyataan yang ada di Ma’had Aly Maslakul Huda sendiri, belum begitu sesuai dengan apa yang telah disangka baik oleh masyarakat diluar sana. Semestinya, para santri Ma’had Aly harus lebih tinggi cita-citanya dan juga bisa memberikan contoh yang lebih baik(khususnya didalam melaksanakan kegiatan muhadhoroh). Akan tetapi kenyataan lumayan sulit, karena sebagian santri Ma’had Aly Maslakul Huda ini mempunyai wadzifah(kesibukan) tersendiri. Baik ada yang khidmah di ndalemnya kyai dan bu nyai, menjadi musyrif/musyrifah, khidmah didapur, mengurus dan merawat taman, dan ada juga yang malas dalam suatu hal(khususnya melakukan kegiatan muhadhoroh).

Ma’had Aly merupakan lembaga perguruan tinggi khas pesantren yang menyelenggarakan program pendidikan yang bersifat spesifik (Takhasus) didalam mengkaji keilmuan Islan yang secara spesifik. Dan juga para lulusan Ma’had Aly diharapkan menjadi kader-kader yang mumpuni dalam belajar dan mengajarkan keagamaan Islam. Pemerintah dalam hal ini, Kementerian Agama menetapkan bahwa lulusan Ma’had Aly bergelar sarjana Agama (S.Ag).

Ketua Lembaga Penjamin Mutu (LPM) Ma’had Aly Al-Tarmasi PIP Tremas Pacitan Bapak Muhammad Amruddin Latief mengatakan bahwa Nomenklatur Ma’had Aly sudah jelas disebutkan didalam dua Undang-Undang, yakni didalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan tentang Undang-Undang No 12 Tahun 2012 yang menjelaskan terkait pendidikan tinggi.[5]

C. KESIMPULAN

Yang namanya takhassus (Ma’had Aly) sudah tidak asing di telinga khalayak umum, khususnya dikalangan santri dibeberapa pondok pesantren. Dan tidak asing juga, pelajaran yang ditelaah didalam takhassus tersebut. Mata kuliah atau pelajaran yang di dalami oleh santri-santri Ma’had Aly itu tidak jauh beda dengan pelajaran yang diajarkan di Tsanawiyah dan Aliyah. Hanya saja agak beda dalam muhadhoroh nya, yang mana para santri takhassus ini diajari bagaimana menyampaikan suatu fan (bidang ilmu) dan bagaimana cara mengajar.

Dan sebenarnya, para santri di Ma’had Aly Maslakul Huda ini penulis kira sudah cukup baik dalam melaksanakan kegiatan muhadhoroh. Mungkin saja bisa dicemari nama baiknya oleh beberapa santri yang mempunyai kesibukan tersendiri, yang mana kesibukan tersebut bisa digunakan menjadi suatu alasan tidak berangkat dalam muhadhoroh.

Jikalau hal tersebut dibiarkan, maka akan menjadi suatu tradisi yang akan dibudayakan oleh generasi-generasi yang akan masuk dalam takhassus tersebut. Dan hal tersebut bisa diatasi dengan mengurangi pemikiran-pemikiran yang tidak maju seperti itu, yang lebih mengedepankan nafsunya saja, tidak memikirkan generasi seterusnya.

Dan sebenarnya, para santri Ma’had Aly Maslakul Huda ini tidak seperti yang dikira. Ternyata, karena mereka memang benar-benar ada yang mempunyai kesibukan dan tugas yang tidak bisa digantikan oleh orang rekannya, dan juga masih banyak lagi alasan-alasan lain. Oleh karena itu, sebagian santri Ma’had Aly karang-karang, dan bahkan tidak bisa masuk dalam kegiatan muhadhoroh.

D. DAFTAR PUSTAKA

Hasil Observasi Penulis Terhadap Peraturan Yang Dijadwalkan Oleh Manajemen, Tanggal 25 Februari 2023.

Hasil Observasi Oleh Penulis Dengan Saudara Najib Ali (Salah Satu Santri Ma’had Aly), Tanggal 15 Januari 2023.

Mahfudh, KH. MA. Sahal, Nuansa Fiqih Sosial (Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 1994), 115.

Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung : Alfabeta Bandung, 2017), 15.

Pacitanku, “Ketua LPM Ma’had Aly Al-Tarmasi: Ijazah Ma’had Aly Tidak Perlu Diragukan” https://pacitanku.com/2022/01/13/ketua-lpm-mahad-aly-al-tarmasi-ijazah-mahad-aly-tidak-perludiragukan/#:~:text=Pacitanku.com%2C%20ARJOSARI%20%E2%80%93%20Ma,yang%20mumpuni%20dalam%20keagamaan%20Islam, (Senin, 27 Februari 2023, 10.00)

 

[1] Hasil Observasi Penulis Terhadap Peraturan Yang Dijadwalkan Oleh Manajemen, Tanggal 25 Februari 2023.

[2] Hasil Observasi Oleh Penulis Dengan Saudara Najib Ali (Salah Satu Santri Ma’had Aly), Tanggal 15 Januari 2023.

[3] KH. MA. Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial (Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 1994), 115.

[4] Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung : Alfabeta Bandung, 2017), 15.

[5] Pacitanku, “Ketua LPM Ma’had Aly Al-Tarmasi: Ijazah Ma’had Aly Tidak Perlu Diragukan” https://pacitanku.com/2022/01/13/ketua-lpm-mahad-aly-al-tarmasi-ijazah-mahad-aly-tidak-perludiragukan/#:~:text=Pacitanku.com%2C%20ARJOSARI%20%E2%80%93%20Ma,yang%20mumpuni%20dalam%20keagamaan%20Islam, (Senin, 27 Februari 2023, 10.00)

 

Kefin Wijaya,

Santri Ma’had Aly Maslakul Huda semester 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *