Site icon Mahally

Penggembala yang Jujur

Pada suatu hari di sudut kota Madinah, Ibnu Umar bersama sahabatnya sedang beristirahat untuk makan. Mereka bertemu dengan seorang penggembala kambing, beliau mengajak si penggembala untuk ikut makan bersama dengan para sahabatnya, tapi penggembala itu menolak.

Terimakasih Tuan, tapi saya tengah berpuasa.”

Di tengah hari yang terik ini, dirimu berpuasa dengan menggembala kambing-kambing itu?” Tanya Ibnu Umar diliputi keheranan.

“Waktu berlalu dengan begitu cepat Tuan, saya tidak ingin menyia-nyiakannya.” Ucap si penggembala.

Ibnu Umar kagum dengan ketaatan penggembala tersebut, di tengah terik panasnya Madinah dia tetap menjalankan ibadah sunah dengan menggembala.

Karena penggembala itu berpuasa, Ibnu Umar berniat untuk membeli salah satu kambingnya, beliau akan memberikan sebagian daging untuk si penggembala berbuka nanti. Tapi penggembala tersebut menolak menjual kambingnya, karena kambing-kambing itu milik tuannya.

Kambing-kambing itu milik tuanku, bukan milikku.” Ujar si penggembala

Ibnu Umar mencoba mengujinya, “Katakan saja pada tuanmu, bahwa salah satu kambingnya telah dimakan serigala.

Tapi Allah melihat segalanya.” Setelah mengatakan itu, si pengembala pergi.

Ibnu Umar semakin kagum dengan keteguhan hati si penggembala, kesokan harinya beliau mencari rumah tuan si penggembala, beliau membeli kambing-kambingnya untuk diberikan pada si penggembala dan juga memerdekakannya.

Terkadang jujur terlihat tidak menguntungkan di permulaan, tapi kejujuran membawa keselamatan jangka panjang.

Jangan pernah gadaikan kejujuran demi keuntungan sesaat. Bisa jadi kita merasa rugi karena berkata benar, merasa kalah karena menjaga amanah, tapi mungkin dari situ akan datang pertolongan yang tidak pernah kita sangka.

Sumber: ‘Uyun al-Hikayat, Ibnu Jauzi

 

 

Exit mobile version