Membasuh Kedua Telapak Kaki boleh diakhirkan?

Forum Diskusi404 Dilihat

Mandi junub adalah salah satu bentuk ibadah yang disyariatkan dalam agama Islam. Dalam pelaksaannya mandi junub memiliki beberapa kesunahan diantaranya adalah berwudhu. Namun ulama berbeda pendapat mengenai kapan waktu membasuh kedua telapak kaki saat berwudhu tersebut. Dalam kitab Fathul Mu’in musanif mengatakan bahwasanya sunah berwudhu sebelum mandi tersebut dengan menyisakan anggota badan berupa telapak kaki, untuk dibasuh setelah melaksanakan mandi junub.

والأفضل عدم تأخير غسل قدميه عن الغسل كما صرح به في الروضة. ( فتح المعين)

Hukum di atas berdasar pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitab sahihnya.

عَنْ مَيْمُونَةَ فِي صِفَةِ غُسْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «أَنَّهُ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ غَيْرَ غَسْلِ الْقَدَمَيْنِ»

“Dari Maimunah tentang sifat mandinya Nabi Saw. bahwasanya Nabi Saw. berwudlu sebagaimana wudhu ketika akan melaksanakan salat tanpa – mengakhirkan – membasuh kedua telapak kaki beliau.”

Namun Imam Nawawi dalam kitab Raudhatut Thalibin, mengungkapkan bahwa pendapat yang masyhur adalah tidak mengakhirkan membasuh kedua telapak kaki.

الثَّانِي: أَنْ يَتَوَضَّأَ، كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ. وَتَحْصُلُ سُنَّةُ الْوُضُوءِ سَوَاءٌ أَخَّرَ غَسْلَ الْقَدَمَيْنِ إِلَى الْفَرَاغِ، أَوْ فَعَلَهُ بَعْدَ مَسْحِ الرَّأْسِ وَالْأُذُنِ. وَأَيُّهُمَا أَفْضَلُ. قَوْلَانِ. الْمَشْهُورُ أَنَّهُ لَا يُؤَخَّرُ. ثُمَّ إِنْ تَجَرَّدَتِ الْجَنَابَةُ عَنِ الْحَدَثِ، فَالْوُضُوءُ مَنْدُوبٌ (روضة الطالبين)

Pendapat Imam Nawawi diatas berdasarkan riwayat lain yang menyatakan bahwa Nabi Saw. ketika hendak melaksanakan mandi junub beliau berwudhu dengan sempurna tanpa mengakhirkan kedua telapak kakinya. Hadis tersebut berbunyi :

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ، ثُمَّ يُفرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ؛ ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ أصَابِعَهُ فِي أُصُولِ الشَّعْرِ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنْ قَدِ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَفَنَاتِ ثُمَّ أفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ. متفق عليه.

Khilaf tersebut disebabkan karena perbedaan hadis yang dijadikan sebagai acuan dalam beistidlal. Wallahu a’lam bis-shawab.

Majlis Musyawarah Ma’had Aly

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *