Mendung

Puisi196 Dilihat

Mendung itu melesat dari masa lalu
Menjemput rindu yang tiba masanya

Gumpalan biru pekat
Melayang-layang di udara.
Seperti 8 tahun yang lalu
Ia tak kuasa menahan air mata

Mendung berteriak dengan jelegur kilat
Dan berkata bagi mereka di bawahnya:
“Dingin yang memelukmu kini
Hanyalah pembuka bagi rindu selanjutnya
Rindu yang membeku pada waktu
Dan kelak mencair di pelupuk matamu”

Di antara derai air mata mendung
Seorang santri berdiri di depan ndalem kiai
Matanya bercerita pada sebuah masa:
Kursi, pesantren, dan buah delima
Adalah saksi
Romansa kiai Sahal Mahfudh
Menunggu kepulanganmu dari Jakarta
Perjuangan menunaikan kata-kata.

Dan kini
Penduduk langit dan angkasa raya
Menjadi saksi
Bahwa Kiai Sahal Mahfudh
Menunggu kepulanganmu dari dunia
Memperjuangkan amanah kemanusiaan.

Satu, dua, tiga rintik hujan terjatuh perlahan
Menyelimuti peci santri yang masih tertunduk
Di depan ndalem kiai;
Pagi dan sore itu tak akan datang lagi
Waktu ketika Engkau duduk di kursi roda
Dan mengawasi santri-santri

Meski kursi roda itu tak hadir lagi
Tapi doa menggema senantiasa

#
Bu nyai, Engkau berpesan sebelum kepergian
“Apa guna umur panjang bila tiada kemanfaatan”.
Isyarat perpisahan tersirat dari kata-katamu.

“Abah telah menungguku”
Isyarat kerinduan tersurat dari rekah senyummu.

Di ujung hari pahlawan
Nafasmu berguguran
#

Sebelum mendung pergi
Ia sempat berdoa kepada sang maha kuasa
“Semoga kelak dari deras rintik Rahmatmu ini
Yang diserap tanah Nusantara
Tumbuh bunga-bunga Nafisah baru
Menebar wangi di bumi Pertiwi ”

Mendung pergi
Menyisakan genangan di hati kami
Menguyupkan kenangan di kepala kami
Amanah rindu telah usai
Semoga damai
Ibu Nyai Hajjah Nafisah Sahal


Puisi oleh: Muhammad Sholihuddin, santri Ma’had Aly PMH semester VI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *