Peran Pesantren Dalam Pembentukan Karakter Dan Moral Remaja di Indonesia

Artikel460 Dilihat

Salah satu lembaga pendidikan Islam di Indonesia adalah Pondok Pesantren. Pesantren merupakan sistem pendidikan pertama dan tertua di Indonesia, dengan sifat keislaman dan keindonesiaan terintegrasi dalam pesantren menjadi daya tariknya. Belum lagi kesederhanaan, system manhaj yang terkesan apa adanya, hubungan kiyai dan santri serta keadaan fisik yang serba sederhana[1]. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan nonformal yang memperdalam ilmu pendidikan agama Islam dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup sehari-hari dengan mementingkan moral dalam kehidupan bermasyarakat[2]. Sampai hari ini pesantren memang masih dianggap atau dikenal sebagai lembaga pendidikan yang sangat ketat dalam memproteksi para santrinya dengan nilai-nilai moralitas dari pengaruh-pengaruh produk modernitas yang buruk, terutama pergaulan bebas, kenakalan, narkoba, dan lain-lain.

Moral memiliki arti baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya, meliputi akhlaq, budi pekerti dan Susila, sedangkan Karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)[3]. Pesantren sebagai bagian dari pusat pendidikan kaum remaja, yang mana siswa dan siswinya dikenal dengan sebutan santri yang mengakar dimasyarakat. Pesantren memiliki nilai-nilai yang berperan penting dalam membentuk karakter santri yang hidup di pesantren yang disebut dengan “pancajiwa” yang menjadi landasan dan motor penggerak seluruh aktivitas yang ada pesantren. Pacajiwa pesantren terdiri dari: (a) keikhlasan, (b) kesederhanaan, (c) kemandirian, (d) persaudaraan, dan (e) kebebasan dalam menentukan lapangan perjuangan dan kehidupan[4]. Selain itu seperti yang sudah umum di ketahui didalam kehidupan sehari-hari di pesantren selalu di tanamkan agar santri selalu istiqomah, ikhlas, toleransi, gotong royong , dan berakhlaq mulia.

Dalam Lembaga Pendidikan pun terdapat empat alasan yang mendasar dalam pentingnya pembentukan moral karakter. Keempat alasan itu adalah: (a) karena banyak keluarga (tradisional maupun non-tradisional) yang tidak melaksanakan pendidikan karakter; (b) Sekolah tidak hanya bertujuan membentuk anak yang cerdas, tetapi juga anak yang baik; (c) kecerdasan seseorang hanya bermakna manakala dilandasai dengan kebaikan; (d) karena membentuk anak didik agar berkarakter tangguh bukan sekedar tambahan pekerjaan bagi guru, melainkan tanggungjawab yang melekat pada peran seorang guru. Atas dasar itu, pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek “pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga “merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action). Pendidikan karakter menekankan pada habit atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan dilakukan[5].

Pendidikan karakter bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Pendidikan karakter berfungsi (1) mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur; (3) meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia[6]. Dengan tujuan diatas maka dapat dilihat dan dinilai bahwa peran pesatren sangatlah penting dalam mencapai tujuanya, karena sebagian besar tujuan diatas  adalah sifat dan karakter yang sudah melekat dalam jiwa santri yang di tanamkan sehari-harinya dalam kehidupan pesantren.

 

 

 

 

 

 

[1] HERMAN DM, “Sejarah Pesantren Di Indonesia”, Jurnal Al- Ta’dib Vol 06, Nomor 02, Hal.145, Juli-Desember 2013

[2] NURIL ANWAR, “Pendidikan Di Pondok Pesantren Untuk Memebentuk Moral Generasi Muda Demi Tercapainya Tujuan Pendidikan Nasional”, Seminar Nasional Magister Managemen Pendidikan  UNISKA, Vol 01, Nomor 01, Hal. 348, Tahun 2021

[3] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

[4] H.A. RODLI MAKMUN, “Pembentukan Karakter Berbasis Pendidikan Pesantren”, dalam Jurnal Cendekia Vol 12 Nomor 02, Hal. 213, Juli-Desember 2014

[5] Ibid, Hal. 115-116

[6] Ibid, Hal. 216

Oleh : Qurotun Nada Kamila

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *