POLA MAKAN SEHAT MEDISI DAN ISLAMI

Kolom Santri836 Dilihat
  1. POLA MAKAN SEHAT MEDISI DAN ISLAMI

Oleh: Ahmad Agil Asyraq

Santri semester 5 Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh

 

“Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan”. Begitulah slogan orang-orang bijak yang sering kali kita dengar. Hal ini ada benarnya, mengingat bahwa kelebihan makan, khususnya tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik, pertama-tama akan menyebabkan obesitas.[1] Selanjutnya, akan dapat menimbulkan banyak gangguan dan penyakit, sepeti diabetes, penyakit batu empedu dan meningkatkan resiko sakit jantung. [2]

 

Namun, semakin hari semakin sedikit persentase orang yang menyadari hal ini. Terbukti dari angka obesitas[3]  di dunia yang persentasenya meningkat dua kali lipat dari paruh kedua abad 20.[4] Di Indonesia, kenaikan ini lebih cepat adanya. Pada tahun 2007, angka penderita obesitas ada pada angka 19,1%, dan meningkat pada 2018 di angka 35,4%. Dengan jumlah penduduk Indonesia pada 2018 adalah 267.7 juta, maka 35,4% dari jumlah itu adalah 94.765.800 orang. [5]

 

Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan berbagai pihak. Selain tentunya pemerintah dan para ahli medis yang mengkhawatirkan kesehatan masyarakat, ada juga rambu-rambu agama yang ditabrak. Dalam hal ini, adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. yang diajarkan dan dicontohkan dalam kesehariannya. Maka kita akan melihat bagaimana pola makan yang baik dan benar, menurut medis dan islam. Dengan harapan agar kita dapat mengikuti setelah mengikutinya.

 

Pola makan sehat menurut medis

 

Menurut medis, prinsip pola makan sehat adalah yang memperhatikan faktor “J4A”, yang merupakan singkatan dari jumlah, jenis, jadwal, jurus masak dan aktivitas fisik.[6]  Jumlah yang dimaksud adalah seimbang dan lengkapnya unsur gizi yang diperlukan oleh tubuh, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Jenis makanan yang dimaksud adalah, ditinjau dari bahannya; hewani atau nabati, ditinjau dari pengolahannya; lalap mentah, rebus, goreng, fast food, junk food, ataupun soft drink. Jadwal makan, pagi, siang dan malam / sore juga menjadi salah satu perhatian besar dalam mengatur pola makan.

 

Dilanjutkan dengan jurus masak atau cara mengolah bahan masakan. Mencuci bersih bahan masakan, memisahkan penyimpanan antar jenis bahan, dan kebersihan alat masak, menjadi sebagian hal dasar yang diperhatikan saat memasak. “A” yang terakhir adalah aktivitas fisik. Dengan aktivitas fisik inilah terjadi pembakaran kalori. Rata-rata pria dewasa membutuhkan sekitar 2.500 kalori sehari. Sedangkan wanita dewasa membutuhkan sekitar 2.000 kalori per hari. Banyaknya kalori yang masuk beriringan dengan jumlah makanan yang dikonsumsi. Sehingga, diperlukan aktivitas fisik yang lebih untuk membakar kalori-kalori itu, dimana selain bekerja, cara paling efektifnya adalah berolahraga. [7]

 

Pola makan sehat menurut islam

 

Nabi Muhammad Saw. pada 14 abad yang lalu telah mengisyaratkan juga tentang pola makan ini. Dari segi jumlah, beliau menyebutkan dalam hadis:

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَتْنِي أُمِّي عَنْ أُمِّهَا أَنَّهَا سَمِعَتْ الْمِقْدَامَ بْنَ مَعْدِ يكَرِبَ يَقُولُ «سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ حَسْبُ الْآدَمِيِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ غَلَبَتْ الْآدَمِي نَفْسهُ فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ»

Artinya: “Aku mendengar Rasulullah Saw. berkata: ‘Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi seorang Anak Adam beberapa suapan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia berhasil menguasai nafsunya maka (ia akan mengisi lambungnya dengan) sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk nafas.’” (HR. Ibnu Majah No. 3349)

 

Hadis yang juga membuat takjub dunia filsuf dan kedokteran ini setidaknya mengisyaratkan bahwa mengisi perut dengan berlebihan akan membawa keburukan, sebagaimana yang telah dibuktikan melalui ilmu medis modern, yaitu datangnya penyakit-penyakit. Selain itu, juga akan mempengaruhi seseorang untuk berbuat kebatilan dan kemaksiatan.[8]  Mengenai jenis makanan, dalam Al-Qur’an juga disebutkan:

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِىَّ ٱلْأُمِّىَّ ٱلَّذِى يَجِدُونَهُۥ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ وَٱلْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَىٰهُمْ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ ٱلْخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَٱلْأَغْلَٰلَ ٱلَّتِى كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ۙ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ۝۱۵۷

Artinya : “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (Q.S. Al A’raaf 7:157)

 

Dalam ayat ini, Allah mengharamkan segala jenis makanan yang buruk bagi tubuh, yaitu apa saja yang berimbas jelek bagi perilaku dan dianggap kotor, yang menjadi sebab datangnya penyakit.[9]  Adapun mengenai waktu makan, Rasulullah membatasi “lapar” sebagai ukuran untuk makan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah atsar:

نحن قوم لا نأكل حتى نجوع، وإذا أكلنا لا نشبع، ولا نشرب حتى نظمأ، وإذا شربنا لا نقنع

Artinya: “Kami adalah suatu kaum yang tidak makan kecuali jika lapar. Dan jika kami makan, maka tidak sampai kenyang. Kami juga tidak minum kecuali jika kami haus. Dan jika kami minum, kami tidak sampai puas.” [10]

 

Atsar ini jelas sekali menuntun pada tidak bolehnya makanan masuk jika memang dalam kondisi kenyang. Karena hal ini dalam dunia medis modern akan melelahkan bagi pencernaan. Adapun berhenti makan sebelum kenyang, ini juga dibenarkan oleh penelitian modern, yang menyatakan bahwa perlu waktu 20 menit untuk otak menerima sinyal kenyang. Sehingga, saat kita merasa kenyang, aslinya kita sudah kenyang sejak 20 menit yang lalu. [11]  Begitulah Islam, ajaran yang selalu ilmiah setelah 14 abad berlalu.

 

Kesimpulan

 

Makan dan minum berlebihan tentunya akan berimbas buruk bagi tubuh. Ia akan menyebabkan obesitas dan mendatangkan berbagai penyakit sepeti diabetes, penyakit batu empedu dan meningkatkan resiko sakit jantung. Namun semakin bertambahnya tahun, semakin bertambah persentase penderita obesitas, khususnya di Indonesia, yang sudah mencapai angka 35,4% pada tahun 2018. Hal ini dominan disebabkan oleh pola makan yang salah, dengan lebih besar pemasukan kalori ke dalam tubuh dibandingkan yang dikeluarkan untuk beraktivitas.

Salah satu resep mengendalikan pola makan dalam dunia medis adalah dengan memperhatikan rumus “J4A”, yaitu jumlah, jenis, jadwal, jurus masak dan aktivitas fisik. Dalam Islam sendiri, meski belum terkonsep sebagai kesatuan formula, sudah ada dalil-dalil yang mencakup apa yang ada dalam rumus tersebut. Lebih ajaib lagi, bahwa hal ini termaktub 14 abad yang lalu.

 

Rujukan:

[1] https://www.alodokter.com/obesitas/penyebab. Diakses pada Selasa, 04 Oktober 2022, pukul 04.40 GMT+7

[2] https://hellosehat.com/nutrisi/tips-makan-sehat/efek-makan-terlalu-banyak/. Diakses pada Selasa, 04 Oktober 2022, pukul 04.58 GMT+7.

[3] Obesitas menurut KBBI online: Penumpukan lemak yang berlebihan di dalam badan; kegemukan yang berlebih. Diakses pada Selasa, 04 Oktober 2022, pukul 17.15 GMT+7.

[4] https://www.suara.com/health/2022/04/01/154500/obesitas-di-indonesia-meningkat-pesat-naik-hampir-dua-kali-lipat-dalam-waktu-11-tahun#:~:text=Menurut%20Riset%20Kesehatan%20Dasar%20(Riskesdas,35%2C4%20persen%20pada%202018. Diakses pada Selasa, 04 Oktober 2022, pukul 05.00 GMT+7.

[5] Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Laporan Nasional Riskesdas 2018, Hlm. 577, Kementerian Kesehatan RI, 2018.

[6] Mustika Rahayu, S.Ag., Pola Makan Menurut Hadis Nabi Saw. (Suatu Kajian Tahlili), Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik UIN Alauddin Makassar, 2017.

[7] https://www.halodoc.com/artikel/cara-menghitung-kebutuhan-kalori-harian-untuk-pria-dan-wanita. Diakses pada Selasa, 04 Oktober 2022, pukul 05.353 GMT+7.

[8]  Syekh Muhammad bin Abdul Hadi At-Tatawi, Kifāyah al-Hājah fī Syarhi Sunan Ibn al-Mājah, Hlm. 321, Vol. 2, Dae el-Jil, Beirut, tt.

[9]  Syekh Wahbah Az-Zuhaili, Al-Tafsir Al-Munīr fī Al-‘Aqīdah wa Asy-Syarī’ah wa Al-Manhaj , Hlm. 134, Vol. 9, Dar el-Fikr, Damaskus, 2003.

[10]  Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, Tafsir Asy-Sya’rawi, Hlm. 1074, Vol. 18, Mathabi’ Akhbar al-Yaum, 1997.

[11] https://www.kompas.tv/article/197330/berapa-lama-durasi-makan-yang-ideal-bagi-tubuh. Diakses pada Selasa, 04 Oktober 2022, pukul 17.50 GMT+7

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *