Senjata Pesantren dalam Menghadapi Gempuran Kemajuan Teknologi

Kolom Santri527 Dilihat

Mahally–Seperti yang sudah banyak diketahui bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan berbasis agama dan termasuk dari pendidikan nasional. Secara historis, pesantren sebenarnya tidak hanya sarat akan nilai-nilai keislaman saja, akan tetapi di dalamnya juga terdapat makna keaslian Indonesia (indigenous). Di zaman sekarang pesantren sudah menyebar di pelbagai daerah di Indonesia.

Terutama di pulau Jawa sendiri, pendidikan pesantren tidak bisa lepas dari peran para Wali Sanga, yakni tokoh penyebar agama Islam yang telah berhasil mengombinasikan berbagai tatanan kehidupan masyarakat Jawa dengan nilai-nilai spiritual Islam yang mana mereka hidup di abad sekitar ke 15-16. Banyak yang beranggapan dan sepakat bahwa Wali Sanga merupakan pemimpin umat yang saleh pada saat itu dan dengan pemahaman spiritual-religius yang mendalamnya mampu mengenalkan agama Islam di bumi Jawa yang sebelumnya monotheisme menjadi mengenal Islam bahkan mayoritas memeluknya. Dalam perkembangan selanjutnya, pesantren di Indonesia tumbuh dan berkembang dengan masing-masing kulturnya serta menyebar di banyak belahan wilayah Indonesia.
Berbedanya kultur di masing-masing pesantren itu menghasilkan jenis pesantren yang berbeda pula, ada pesantren salafiyyah (lama) dan ada pesantren khalafiyyah (baru/modern).

Pesantren salafiyyah dalam sistem pengajarannya lebih condong kepada pendalaman ilmu agama dengan tetap melestarikan tradisi-tradisi lama pesantren, seperti pembelajaran kitab-kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan, dan lain sebagainya. Adapun pesantren khalafiyyah secara umum dalam sistem pengajarannya memiliki sistem pembelajaran yang hampir sama dengan pesantren salafiyyah yakni pendalaman ilmu agama dengan kitab-kitab klasik namun juga menambahkan dan menggunakan kurikulum dari pemerintah.

Baik pesantren salafiyyah maupun khalafiyyah, dalam hubungannya dengan sumber daya manusia, pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi-generasi intelektual muslim yang mampu menjadi tauladan di tengah masyarakat sekelilingnya serta menyeimbangkan diri di tengah-tengah gempuran tuntutan zaman masa kini. Contoh nyata dari lulusan pesantren yang memiliki integritas dan intelektual yang tinggi yakni Gus Dur, KH. M. A Sahal Mahfudh, KH. Maimoen Zubair dan masih banyak lainnya.

Kunci dari terwujudnya harapan-harapan di atas yakni adanya pembaruan dalam pelbagai aspek seperti halnya kurikulum, sarana-prasarana, manajemen(pengelolaan), guru, sistem evaluasi, dan teknologi yang terus menerus dilakukan bersama-sama oleh seluruh elemen masyarakat karena pesantren bukan hanya milik umat Islam saja, melainkan milik seluruh komponen bangsa Indonesia. jika aspek-aspek yang telah disebutkan tadi tidak mendapatkan perhatian serius dan tidak menyesuaikan dengan tuntutan zaman (dimoderenisasi) maka eksistensi pesantren itu sendiri akan terancam. Dalam kata lain, pesantren-pesantren yang ada hingga masa kini harus memiliki kemauan dan keberanian untuk beradaptasi dengan zaman dalam menghadapi era globalisasi. Dengan disahkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang sistem pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Undang-undang Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan dapat menjadi peluang yang bagus bagi pesantren untuk membentuk karakter santri menjadi manusia Indonesia yang mampu menghayati serta bertingkah laku islami tanpa diskriminasi terhadap pendidikan pesantren seperti yang sudah berlangsung selama ini.

Pada abad ke 21 ini, globalisasi memberikan banyak dampak ke berbagai bidang aspek salah satunya teknologi. Arus kemajuan teknologi yang berkembang dengan cepat ini secara dramatis berimplikasi terhadap pemikiran kita mengenai ruang, jarak, waktu, budaya, pola hidup dan perilaku. Bangsa Indonesia sendiri telah mentransformasi sedemikian rupa beberapa aspek sosial dan budaya secepat mungkin termasuk dalam bidang teknologi yang telah berpadi dengan proses pembaruan atau yang dikenal dengan istilah reformasi. Reformasi merupakan bentuk pengoreksian terhadap kesalahan-kesalahan di masa lalu yang bertujuan untuk perbaikan di bidang sosial, politik, agama, pendidikan, dan lain sebagainya dalam suatu masyarakat atau negara. Namun, sisi gelap dari reformasi ini adalah jika Indonesia tidak hati-hati dalam mengelola pembaruan tersebut, maka akan terjadi benturan di segala sisi yang dapat merusak nilai-nilai bangsa yang selama ini telah dipelihara dengan baik wujud semangat kesatuan dan persatuan. Disini lah peran agama sangat penting dalam rangka memagari dan mengontrol nilai-nilai yang bersebrangan dengan kepribadian dan budaya bangsa Indonesia yang telah terbentuk selama ini. Berkaitan dengan hal ini, secara tidak langsung peran pesantren juga dianggap penting sebab pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan berbasis agama yang mana dalam kesehariannya para murid didik atau yang lebih dikenal dengan sebut santri, tidak hanya ditanamkan nilai-nilai keagamaan saja namun juga nila-nilai semangat kesatuan dan persatuan.

Sebagaimana halnya di Amerika yang mana internet mulai muncul dari lingkungan akademisi, demikian pula halnya dengan di Indonesia. Internet mulai muncul dari lingkungan akademisi yang kemudian kemunculan tersebut juga diharapkan bisa memasuki ranah pesantren sebab teknologi itu sendiri tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan dunia pendidikan termasuk akademisi non formal seperti pesantren.

Statemen yang mengatakan bahwa pesantren dinilai terbelakang atau tertinggal dalam menghadapi gelombang globalisasi itu salah besar. Sebenarnya, jika ingin melirik kepada sumber dari agama islam sendiri, yakni al-Qur’an, merupakan sumber dari segala pengetahuan jika dipelajari secara mendalam. Adapun di bidang teknologi, pesantren masa kini baik salafiyyah maupun khalafiyyah terbilang sudah mampu untuk mengikuti dan menyeimbangi tuntutan zaman.

Berbeda dengan pesantren zaman dahulu yang mana sarana dan prasarananya sangat terbatas jadi tak jarang menyulitkan para santrinya untuk mengakses informasi dunia luar . Setidaknya hanya ada koran yang bisa menjadi mediator para santri untuk mengetahui perkembangan situasi dan kondisi dunia luar. Pesantren masa kini justru sudah mengalami banyak perkembangan positif di bidang teknologi. Teknologi dan internet sudah seharusnya tidak lagi dianggap tabu, sebab adanya teknologi dan internet di pesantren dapat memberikan kemudahan bagi santri untuk mengakses informasi dan ilmu pengetahuan mengenai dunia luar. adapun berkaitan dengan dampak negatife yang ditimbulkan dari internet, semestinya dengan bekal pengetahuan sufisme yang sudah diajarkan kepada para santri bisa menjadikannya lebih siap dalam menghadapi pelbagai dampak negatif dari internet dan menjadi semacam filter alamiah dalam menangkal pelbagai dampak negatif tersebut.

Salah satu manfaat dari masuknya teknologi informasi dan komunikasi ke lingkungan pesantren yaitu terevolusinya pola hidup, cara berkomunikasi, dan belajarnya para santri menjadi lebih efisien, efektif, dan praktis. Era informasi ini juga memberikan ruang lingkup yang besar untuk dapat mengorganisasi segala kegiatan di lingkungan pesantren dengan metode-metode baru, inovatif, dan instan. Pun adanya tuntutan perbaikan mutu dan kualitas penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar karena ditunjang dengan berbagai fasilitas yang sebagian besar memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Teknologi informasi dan komunikasi tidak hanya memasuki lingkungan pesantren khalafiyyah (modern) saja, namun juga lingkungan pesantren salafiyyah. Meskipun pesantren salafiyyah masih menggunakan sistem pengajaran tradisional, hal itu tidak lantas menutup kemungkinan untuk masuknya teknologi informasi dan komunikasi ke dalam lingkungan pesamtren salafiyyah. Salah satu contoh nyata yaitu Pesantren Maslakul Huda yang berada di Kabupaten Pati, Jawa tengah dan diasuh oleh KH. Abdul Ghofar Rozin. Untuk sistem pengajaran di pesantren salafiyyah satu ini memang masih memakai sistem tradisional, namun fasilitas teknologi komunikasi dan informasi yang disediakan sudah terbilang mumpuni. Pesantren Maslakul Huda memiliki perpustakaan bagi para santri yang berisi beraneka macam buku mulai dari kitab kuning klasik, kitab kuning kontemporer, buku ilmu pengetahuan umum, majalah fashion terkini hingga novel dari berbagai genre, juga tersedia laboratorium komputer yang difungsikan sebagai wadah bagi para santri untuk mengembangkan keterampilan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Selain fasilitas perpustakaan dan laboratorium komputer, pada tahun 2020 silam pesantren Maslakul Huda mengirimkan beberapa perwakilan santri dari unit pesantrennya untuk mengikuti pelatihan Program Laptop for Builders dan Kompetisi Santri 4.0 dengan tema “Dari Santri untuk Pesantren dan Umat Islam” yang diadakan oleh RMI PBNU yang bekerja sama dengan Amazon Web Service yakni layanan berbasis Cloud Computing yang disediakan oleh perusahaan Amazon.com dalam rangka mewujudkan daya saing santri dalam bidang teknologi yang bertujuan untuk mencetak Santri Digital.

Dari contoh yang telah disebutkan di atas, ini menunjukkan bahwa pesantren masa kini mampu untuk mengahadapi rintangan zaman dan beradaptasi serta mengambil pelbagai inovasi dengan kemajuan perkembangan zaman melalui jalur teknologi informasi dan komunikasi.

Disadari atau tidak, informasi tidak hanya kebutuhan saja, melainkan juga bisa menjadi sumber kekuatan yang mana ia bisa memanipulasi kehidupan dan menjadi alat kendalinya di satu waktu. Maka dari itu dibutuhkan kebijakan-kebijakan dalam penggunaan teknologi informasi. penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan pesantren secara bijak justru akan menjadi perantara sekaligus kekuatan dalam berdakwah bil hikmah wal mauidhoh serta amar makruf nahi munkar.

Kolaborasi antara pesantren yang dikenal menjadi tempat pelatihan spiritual-religiusitas dan teknologi informasi dan komunikasi diharapkan bisa membangun dan mendorong kualitas manusia menjadi lebih maju dan inovatif lagi melalui cara pengentasan kebodohan, kemunduran, kemiskinan, dan mengukuhkan akhlak yang terpuji sehingga pesantren bisa menghasilkan manusia-manusia yang unggul baik dari bidang spiritual-religiusitas dan bidang teknologi. jika hal yang demikian sudah terealisasi dengan dengan angka presentase yang tinggi, maka masyarakat Indonesia dianggap sudah siap dan mampu menjadi masyarakat madani, yakni baldatun thayyibatun wa robbun ghofur.


(Iffi Millah Kamilah Achmad, Sabtu 06 Agustus 2022, 03:10 WIB) Penulis adalah Santri semester V Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *