Site icon MahallyID

Teknologi di Era Digital: Antara Kemudahan dan Tantangan Literasi

Era digital saat ini, perkembangan teknologi telah mengubah berbagai aspek kehidupan, mulai dari cara belajar, berkomunikasi, hingga memperoleh informasi. Kemajuan tersebut menghadirkan berbagai kemudahan yang mendukung aktivitas sehari-hari. Namun, di balik manfaatnya, perkembangan teknologi juga membawa tantangan baru, salah satunya dalam bidang literasi. Kemudahan mengakses media digital dan media sosial membuat minat membaca, khususnya di kalangan remaja, cenderung mengalami penurunan. Kondisi ini menjadi perhatian penting karena budaya membaca merupakan salah satu fondasi utama dalam membangun kemampuan berpikir kritis dan memperluas wawasan.

Di tengah hiruk-pikuk konten video singkat dan notifikasi yang tak henti, dunia literasi kita sedang berada di persimpangan jalan. Berdasarkan data dari badan pusat statistik tahun 2025, tingkat membaca masyarakat indonesia masih tergolong rendah .dengan TGM secara nasional tercatat sebesar 54,80 yang masih tergolong rendah .

Apa sih literasi?

Banyak orang menganggap bahwa literasi hanya sebatas kebiasaan membaca seperti membaca novel atau berbagai jenis buku lainnya. Padahal, pengertian literasi jauh lebih luas dari sekadar aktivitas membaca. Literasi merupakan kemampuan seseorang untuk memperoleh, memahami, mengolah, dan memaknai informasi yang diperoleh melalui kegiatan membaca maupun menulis. Dengan kemampuan tersebut, seseorang tidak hanya mampu menyerap informasi, tetapi juga dapat menggunakannya secara tepat dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Elizabeth Sulzby “1986”, Literasi ialah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi “membaca, berbicara, menyimak dan menulis” dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya. Jika didefinisikan secara singkat, definisi literasi yaitu kemampuan menulis dan membaca.

Literasi memberikan banyak manfaat bagi setiap orang.

Dengan membiasakan diri membaca dan mempelajari berbagai sumber informasi, seseorang dapat menambah wawasan serta memperoleh pengetahuan baru. Literasi juga membantu melatih kemampuan berpikir secara kritis dan analitis dalam menyikapi berbagai informasi yang diterima. Selain itu, kemampuan menulis dan menyampaikan gagasan akan semakin berkembang karena seseorang terbiasa merangkai kata-kata yang jelas dan bermakna. Tidak kalah penting, literasi membuat seseorang lebih mudah memahami, menilai, dan mengolah informasi secara tepat sehingga tidak mudah menerima informasi tanpa melakukan pertimbangan terlebih dahulu.

Lalu kenapa kebanyakan orang lebih suka menonton video di banding membaca  buku?

Fenomena meningkatnya kebiasaan menonton video dibandingkan membaca buku tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang memengaruhi perubahan perilaku masyarakat di era digital. Pertama, konten visual/video lebih cepat dan menarik. Video mampu menyampaikan informasi melalui gambar, suara, musik, dan animasi dalam waktu yang sangat singkat. Kombinasi tersebut membuat informasi lebih mudah dipahami tanpa memerlukan banyak usaha. Sebaliknya, membaca mengharuskan seseorang memahami kata demi kata, menghubungkan setiap gagasan, serta membangun imajinasi sendiri. Akibatnya, membaca sering dianggap lebih lambat dan melelahkan dibandingkan menonton video.

Kedua, media sosial membuat orang lebih sering menonton. Platform seperti TikTok, Reels Instagram, dan Shorts YouTube menggunakan algoritma yang dirancang untuk menampilkan konten sesuai dengan minat penggunanya. Setiap video yang ditonton akan memengaruhi rekomendasi video berikutnya sehingga pengguna terdorong untuk terus menggulir layar tanpa sadar. Kebiasaan ini membuat banyak orang lebih sering menghabiskan waktu menonton daripada membaca.

Ketiga, membaca membutuhkan fokus dan konsentrasi yang lebih tinggi. Berbeda dengan video yang menyajikan informasi secara langsung melalui visual dan audio, membaca memerlukan perhatian dan fokus penuh. Pembaca harus memahami isi bacaan, menghubungkan informasi, serta memahami makna bacaan tersebut .inilah yang membuat orang menganggap membaca lebih melelahkan dari pada menonton video.

Keempat, kebiasaan digital yang telah terbentuk sejak dini. Perkembangan smartphone membuat banyak orang terbiasa memperoleh hiburan dan informasi secara instan. Sejak usia dini, tidak sedikit anak yang lebih sering berinteraksi dengan video daripada buku. Kebiasaan tersebut akhirnya terbawa hingga dewasa sehingga membaca mulai dianggap sebagai aktivitas yang membosankan, sedangkan menonton menjadi pilihan utama untuk mengisi waktu luang.

Di sisi lain, perkembangan teknologi sebenarnya telah memberikan banyak kemudahan, terutama dalam mengakses informasi. Hanya dengan menggunakan smartphone dan internet, kita dapat mencari berita, membaca buku elektronik (e-book), mengakses jurnal, membaca artikel, hingga mempelajari berbagai materi pembelajaran dalam hitungan detik. Kemudahan ini seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan budaya literasi di masyarakat.

Meski demikian, menurunnya minat literasi bukan sepenuhnya disebabkan oleh perkembangan teknologi. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan. Jika dimanfaatkan secara bijak, teknologi justru dapat menjadi sarana untuk meningkatkan literasi, misalnya melalui perpustakaan digital, e-book, platform pembelajaran, maupun berbagai sumber informasi yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Pada akhirnya, teknologi dan literasi bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Teknologi dapat menjadi peluang besar untuk meningkatkan budaya literasi apabila digunakan dengan tepat.

Oleh karena itu, penting bagi kita, khususnya para pelajar, untuk mampu menyeimbangkan penggunaan media sosial dengan kebiasaan membaca. Media sosial tidak hanya dapat digunakan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana belajar apabila dimanfaatkan dengan baik dan bijak. Dengan membangun kebiasaan membaca dan memanfaatkan teknologi secara positif, kita dapat memperoleh manfaat dari perkembangan digital tanpa kehilangan budaya literasi yang menjadi bekal penting dalam kehidupan.

Sumber :

https://journal-uim-makassar.ac.id/index.php/perkamen/article/view/1536/961

Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat dan Variabel Penyusunnya Menurut Provinsi, 2025 – Tabel Statistik – Badan Pusat Statistik Indonesia, https://share.google/ZFGyXwLWXRAIleZ5j

Dampak Internet: Positif dan Negatifnya untuk Kita, https://share.google/b0GviiDdzDTEzM1WD

Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat dan Variabel Penyusunnya Menurut Provinsi, 2025 – Tabel Statistik – Badan Pusat Statistik Indonesia.

 

 

 

Exit mobile version