Terobosan Santri Dalam Bermedia Sosial

Artikel297 Dilihat

Santri adalah elemen masyarakat yang memiliki bidang keilmuan, khususnya dalam bidang ilmu keagamaan. Dewasa ini, sosial media bukanlah sebuah hal yang tabu dikalangan khalayak umum melainkan sebuah hal yang memang sudah begitu familiar dengan segala informasi, sarana interaksi, dan lain sebagainya. Banyak dari kalangan masyarakat sekarang tidak hanya berinteraksi melalui dunia nyata saja, melainkan malah lebih intens berinteraksi dalam dunia maya. Sosial media bukan hanya sekedar media informasi dan interaksi saja, melainkan lebih dari itu. Sosial media juga berperan dalam pembentukan opini masyarakat yang notabene awam, khususnya dalam pengetahuan tentang ilmu keagamaan. Tapi dalam realitanya, tidak semua informasi atau tulisan-tulisan yang ada di sosial media itu bermanfaat dan real, tidak sedikit yang berisi berita hoax, fitnah, dan ujaran kebencian yang tentunya menyesatkan dan meresahkan.

Santri sebagai bagian dari masyarakat yang dipandang sudah ahli dalam bidang ilmu keagamaan dapat berperan dalam dunia maya dengan mengisi konten-konten atau tulisan yang bermanfaat, khususnya dalam konteks keagamaan. Melalui konten dan tulisan tersebut setidaknya sudah bisa membantah atau mengcounter berbagai berita-berita atau tulisan yang berbau fitnah dan ujaran kebencian yang sudah terlanjur menjadi konsumsi masyarakat dalam dunia sosial media. Selain untuk mengisi konten keislaman, tujuan lain dari dunia maya atau bermedia sosial adalah untuk mengabadikan suatu momen atau peristiwa agar momen yang terjadi tidak hilang begitu saja dikarenakan jejak digital akan terus ada sampai kapanpun. Hadis Rasulullah saw. yang sampai saat ini lestari merupakan hasil dokumentasi dari para sahabat (meskipun tidak melalui media social). Pada saat itu, sahabat Nabi saw. sudah menyadari begitu pentingnya dokumentasi agar peristiwa yang terjadi dapat diabadikan dan dinikmati hasilnya oleh generasi berikutnya. Bahkan hasil dokumentasi keilmuan seorang imam mujtahid yang dilakukan murid-muridnya menjadi syarat agar mazhab imam tersebut bisa diikuti oleh umat Islam, seperti yang diutarakan oleh Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain.

ولا يجوز تقليد غير هؤلاء الأربعة من باقي المجتهدين في الفروع، مثل الإمام سفيان الثوري، وسفيان بن عيينة، وعبد الرحمن بن عمر الأوزعي، ولا يجوز أيضا تقليد واحد من أكابر الصحابة لأن مذاهبهم لم تضبط ولم تدوّن.

“Tidak diperbolehkan bertaklid (mengikuti) kepada selain keempat imam mazhab tersebut, misalnya mengikuti mazhab Imam Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin Uyainah, dan Abdurrahman bin Umar Al-Auza’i, begitu juga tidak diperbolehkan bertaklid kepada salah satu dari para sahabat, karena mazhab mereka belum belum baku dan tidak tersusun secara teratur”.

Namun, jika ditilik lebih dalam para santri belum begitu mampu dalam bidang kepenulisan secara baik dan benar, mereka lebih memahami dunia perceramahan. Bagi mereka, menulis lebih membutuhkan waktu yang ekstra dan sangat melelahkan berbeda dengan ceramah. Kalau ceramah mereka lebih enjoy dan tidak begitu melelahkan dan mereka juga sudah sering praktek ceramah dalam dunia pesantren sehingga mereka tidak canggung ketika sedang berceramah.

Menulis bagi santri masih dimaknai secara sederhana yaitu memberi makna pada kitab kuning yang dikaji, belum dimaknai untuk menulis sebuah karya seperti buku, esai, artikel, berita atau opini di media massa. Padahal jika melihat ke belakang, tidak sedikit para ulama salaf banyak menulis beberapa karya berupa kitab kuning. Melalui tulisan ulama-ulama tersebut ilmu mereka masih bisa dikaji dan bisa dirasakan manfaatnya sampai sekarang. Fakta tersebut menjadi bukti kalau tulisan merupakan salah satu metode yang sangat berpengaruh dalam kehidupan.

Namun demikian, dalam sosial media masih bisa menjembatani para santri untuk tidak berhenti membantah berita-berita hoax dan ujaran kebencian yang sudah terlanjur beredar dan menjadi konsumsi masyarakat awam. Mereka masih bisa ceramah melalui video sehingga bisa menjadi konsumsi bagi masyarakat diluar sana. Selain melalui video, mereka juga masih bisa menulis dalam bentuk konten-konten tanpa harus berbentuk esai maupun berita. Hal tersebut malah lebih diminati oleh masyarakat dalam bermedia sosial, karena masyarakat awam lebih cenderung menyukai hal-hal yang simple, instan, dan to the point tanpa harus membaca tulisan yang banyak.

Dengan kecanggihan sosial media inilah para santri bisa memposisikan dirinya sebagai santri yang bermanfaat bagi masyarakat, bukan hanya dalam kehidupan nyata melainkan juga dalam kehidupan dunia maya. Setidaknya para santri dapat mewarnai dunia maya yang dipandang oleh banyak orang hanya berisi tentang hal-hal yang tidak berfaedah saja, tetapi menjadi sosial media yang berisi konten-konten atau tulisan yang sangat berguna dan bermanfaat bagi masyarakat. Meskipun tidak semua masyarakat dapat memahami hakikat dari dunia maya itu suatu hal yang bermanfaat, para santri mampu menjawab manfaat dari adanya dunia maya melalui konten-konten maupun sepenggal tulisan ilmiah yang saat ini memang sangat berpengaruh besar dalam kehidupan dunia nyata. penting diperhatikan bahwasanya santri zaman now dibebani tanggung jawab untuk mengisi dunia maya dengan konten-konten yang menyejukkan yang sarat dengan nilai-nilai keislaman. Santri harus bisa menjadi creator (pencipta) bukan hanya viewer (penonton). Santri tidak boleh puas hanya dengan penguasaan kitab kuning saja, tetapi juga harus selalu berusaha mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.

Terlepas dari sosial media yang mampu menjembatani santri dalam berdakwah, para santri juga harus mampu menulis dalam bentuk karya berupa buku, esai, artikel, berita dan lain sebagainya, karena dengan menulis para santri juga dapat diakui kredibilitasnya dalam dunia akademisi dan dianggap lebih mampu dalam membina masyarakat dalam berkehidupan sosial yang mudah terbawa arus berita hoax yang ada di sosial media.

Oleh: Ahmad Nur Aziz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *