Setiap umat Nabi Muhammad memiliki satu hak yang sama yakni hak untuk mencintai beliau. Tidak peduli siapa kita, entah santri atau guru, pejabat atau rakyat, siapa pun berhak mencintai beliau. Rasa cinta kepada beliau tidak mengenal kasta, ia tumbuh dari hati yang mengenal, mendengar, atau melalui ajaran dan teladannya.
Bahkan dalam sebuah kisah, rasa cinta tersebut turut dirasakan oleh sebatang pohon kurma yang merindukan kedekatan dengan Rasul. Kisah ini termuat dalam kitab Fath al-Bari pada hadis riwayat Jabir bin Abdullah:
Di kota Madinah, tepatnya di Masjid Nabawi terdapat sebatang pohon kurma yang biasa dijadikan Rasulullah sebagai tempat bersandar ketika berkhutbah. Namun pada suatu hari datanglah seorang perempuan Anshar yang menawarkan membuatkan mimbar kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bolehkan aku membuatkan sesuatu untuk engkau duduki? Aku memiliki seorang budak tukang kayu yang pandai.”
“Jika engkau mau, silahkan.” Jawab Rasulullah. Wanita Anshar tadi langsung meminta budaknya membuatkan sebuah mimbar untuk beliau.
Ketika hari Jumat tiba, Rasulullah duduk di sebuah mimbar yang telah dibuatkan oleh budak dari perempuan Ansar tadi, namun sayup-sayup terdengar suara tangisan yang semakin lama semakin mengeras, ternyata suara tangisan itu berasal dari pohon kurma yang biasa dijadikan sandaran oleh Rasulullah ketika berkhutbah. Tangisannya begitu menyayat hati, sarat akan sebuah kerinduan.
Mendengar suara tangisan yang begitu keras, bahkan mungkin bisa membelah badan pohonnya sendiri, Rasulullah turun dari mimbarnya memeluk pohon kurma itu, seketika tangisnya berubah menjadi rintihan seperti seorang bayi yang ditenangkan oleh ibunya. Setelah rintihan pohon kurma itu berhenti, Rasulullah berkata, “Pohon itu menangis karena kehilangan dzikir yang biasa ia dengar.”
Kisah rintihan pohon kurma ini bukan sekadar cerita tentang mukjizat, melainkan cermin bagi hati manusia. Jika makhluk yang tak berakal mampu merintih karena kehilangan kedekatan dengan Rasulullah, maka betapa layaknya hati seorang mukmin merasa hampa lebih dari itu.
Referensi:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, (Mesir: Dar al-Bayan al-Arabi, 2007), hlm. 684, hadis ke-3584.
