FOMO dalam Pandangan Islam: Antara Ambisi dan Qana’ah

Kolom Santri16 Dilihat

Di era digital, kehidupan orang lain terasa begitu dekat dalam genggaman. Melalui media sosial, kita dapat melihat teman yang baru diwisuda, diterima bekerja, menikah, membeli rumah, hingga berlibur ke berbagai tempat. Tanpa disadari, berbagai unggahan tersebut sering kali memunculkan perasaan tertinggal, seolah-olah semua orang telah melangkah lebih jauh sementara diri sendiri masih berada di tempat yang sama. Fenomena ini dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO. FOMO bukan sekadar rasa penasaran terhadap aktivitas orang lain, melainkan kondisi psikologis yang membuat seseorang takut tertinggal dari tren, pencapaian, atau pengalaman yang dimiliki orang lain. Jika dibiarkan, perasaan ini dapat memicu kecemasan, rasa tidak puas terhadap diri sendiri, bahkan mendorong seseorang mengambil keputusan hanya demi mengikuti standar yang dibentuk oleh lingkungan atau media sosial.

Islam tidak melarang umatnya memiliki ambisi dan keinginan untuk menjadi lebih baik. Sebaliknya, Islam mendorong setiap muslim untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan terus berusaha meraih kesuksesan. Namun, ambisi tersebut perlu diimbangi dengan sikap qana’ah, yaitu merasa cukup atas karunia Allah tanpa kehilangan semangat untuk berikhtiar. Lantas, bagaimana Islam memandang fenomena FOMO yang kini banyak dialami, khususnya oleh generasi muda? Benarkah FOMO dapat menjadi penghalang seseorang untuk merasakan ketenangan hati?

Mengenal FOMO: Ketika Takut Tertinggal Menjadi Kebiasaan

Istilah Fear of Missing Out atau yang lebih dikenal dengan FOMO merujuk pada perasaan takut tertinggal dari pengalaman, pencapaian, atau tren yang sedang dialami orang lain.[1] Perasaan ini muncul ketika seseorang merasa bahwa orang lain menjalani kehidupan yang lebih menarik, lebih sukses, atau lebih bahagia daripada dirinya. Akibatnya, ia terdorong untuk terus mengikuti perkembangan di media sosial agar tidak merasa tertinggal. Fenomena FOMO semakin berkembang seiring pesatnya penggunaan media social.[2] Berbagai platform digital memungkinkan seseorang membagikan momen terbaik dalam hidupnya, mulai dari prestasi akademik, pencapaian karier, perjalanan wisata, hingga gaya hidup sehari-hari. Sayangnya, apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh tentang realitas yang sebenarnya.

Di sisi lain, kebiasaan melihat kehidupan orang lain tanpa disadari mendorong seseorang untuk melakukan perbandingan sosial (social comparison). Ketika melihat teman memperoleh pekerjaan impian, melanjutkan studi ke luar negeri, atau berhasil membangun usaha di usia muda, sebagian orang merasa tertinggal dan mulai mempertanyakan nilai dirinya sendiri. Padahal, setiap individu memiliki perjalanan hidup, kemampuan, dan ketentuan rezeki yang berbeda.

Apabila dibiarkan, FOMO dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti kecemasan, rendahnya rasa percaya diri, sulit bersyukur, hingga memaksakan diri mengikuti gaya hidup yang sebenarnya berada di luar kemampuan. Tidak sedikit pula yang akhirnya lebih sibuk mengejar pengakuan manusia daripada berfokus pada tujuan hidup yang sesungguhnya.

Ambisi dalam Islam: Semangat Berprestasi yang Berlandaskan Iman

Banyak orang mengira bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk sekadar menerima keadaan tanpa berusaha meraih kehidupan yang lebih baik. Padahal, anggapan tersebut tidaklah tepat. Islam justru mendorong setiap muslim untuk memiliki semangat belajar, bekerja, dan berlomba dalam melakukan kebaikan. Allah Swt. berfirman:

وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ

“….Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)[3]

Ayat tersebut menunjukkan bahwa memiliki ambisi bukanlah sesuatu yang tercela selama diarahkan kepada hal-hal yang bernilai ibadah dan membawa manfaat. Seorang muslim dianjurkan untuk menjadi pribadi yang produktif, mengembangkan potensi, serta memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat.

Namun, Islam juga memberikan batasan agar ambisi tidak berubah menjadi hasrat yang merusak hati. Ketika semangat untuk berkembang berubah menjadi keinginan untuk selalu mengungguli orang lain, muncul rasa iri terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, atau merasa gelisah karena belum memiliki pencapaian seperti orang lain, maka saat itulah ambisi mulai bergeser menjadi FOMO. Dalam kondisi seperti ini, seseorang tidak lagi berusaha karena Allah, melainkan karena tekanan sosial dan keinginan memperoleh validasi dari lingkungan. Solusi ketika berada seperti itu adalah qana’ah sebagai penawarnya

Qana’ah: Penawar FOMO di Tengah Arus Digital

Di tengah budaya yang sering mengukur kesuksesan dari pencapaian materi, jumlah pengikut di media sosial, atau pengakuan dari orang lain, Islam menawarkan sebuah konsep yang mampu menenangkan hati, yaitu qana’ah. Secara sederhana, qana’ah berarti merasa cukup dan ridha terhadap apa yang telah Allah Swt tetapkan, tanpa menghilangkan semangat untuk terus berusaha menjadi lebih baik.[4]

Banyak orang memahami qana’ah sebagai sikap pasrah atau menerima keadaan tanpa usaha. Padahal, pemahaman tersebut kurang tepat. Qana’ah bukan berarti berhenti bermimpi atau enggan bekerja keras. Sebaliknya, qana’ah mengajarkan seseorang untuk berikhtiar secara maksimal, tetapi tidak menjadikan hasil sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan. Hati tetap tenang karena meyakini bahwa setiap rezeki, kesempatan, dan keberhasilan telah diatur oleh Allah sesuai hikmah-Nya.

Rasulullah  bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)[5]

Hadis tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada banyaknya harta atau tingginya pencapaian. Kebahagiaan sejati lahir dari hati yang mampu mensyukuri nikmat Allah dan tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Dengan qana’ah, seseorang akan lebih fokus memperbaiki dirinya sendiri daripada sibuk mengejar kehidupan yang dimiliki orang lain.

Selain itu, Allah Swt. juga mengingatkan agar manusia tidak terlalu larut dalam kesedihan atas sesuatu yang belum dimiliki dan tidak berlebihan dalam menyikapi kenikmatan yang diperoleh. Firman Allah:

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ

“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al-Hadid: 23).[6]

Ayat ini mengajarkan keseimbangan dalam menyikapi kehidupan. Seorang muslim boleh memiliki cita-cita yang tinggi, tetapi ia juga harus menyadari bahwa setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda. Apa yang Allah berikan kepada orang lain belum tentu menjadi yang terbaik bagi diri kita, begitu pula sebaliknya. Firman Allah:

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ

“….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al- Baqarah: 216)[7]

Menjadi Muslim yang Ambisius Tanpa Terjebak FOMO

Lalu, bagaimana cara agar tetap memiliki ambisi tanpa terjebak dalam FOMO? Kuncinya adalah mengubah cara pandang terhadap kesuksesan. Dalam Islam, kesuksesan bukan hanya diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai target duniawi tetapi juga dari seberapa dekat ia kepada Allah dan seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada sesame.[8]

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan. Pertama, membatasi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Kedua, memperbanyak rasa syukur atas nikmat yang telah dimiliki. Ketiga, menetapkan tujuan hidup berdasarkan nilai-nilai yang diyakini, bukan berdasarkan trend yang sedang populer. Terakhir, memperkuat tawakal setelah berusaha, karena hasil akhir merupakan ketetapan Allah yang terbaik bagi setiap hamba.

Dengan demikian, media sosial tidak lagi menjadi sumber kecemasan, melainkan dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, berbagi inspirasi, dan menyebarkan kebaikan.

Sumber

[1] Andrew K. Przybylski, Kou Murayama, Cody R. DeHaan, dan Valerie Gladwell, “Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out,” Computers in Human Behavior, Vol. 29, No. 4 (2013), hlm. 1841–1848.

[2] Simon Kemp, “Digital 2025: Indonesia,” DataReportal, 25 Februari 2025, https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia.

[3] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Baqarah [2]: 148.

[4] Al-Ḥarits bin Asad al-Muḥasibi, Risalat al-Mustarsyidin, taḥqiq ‘Abd al-Fattaḥ Abu Ghuddah (Ḥalab: Maktab al-Maṭbu‘at al-Islamiyyah, 1971), hlm 171.

[5] Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi, Ṣaḥiḥ Muslim, ed. Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, juz 2, Kitab al-Zakah, Bab al-Kafaf wa al-Qana‘ah, hadis no. 1054, hlm 730.

[6] Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Hadid [57]: 23.

[7] Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Baqarah [2]: 216

[8] Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi, Ṣaḥiḥ Muslim, juz 4, Kitab al-Qadar, Bab al-Amr bi al-Quwwah wa Tark al-‘Ajz wa al-Isti‘anah billah wa Tafwiḍ al-Maqadir lillah, hadis no. 2664, hlm 2052.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *