HERMENEUTIKA DALAM DISKURSUS FILSAFAT ILMU

Kolom Santri58 Dilihat

Hermeneutika merupakan pendekatan filsafat yang berfokus pada upaya memahami dan menafsirkan makna, terutama dalam konteks teks, tindakan, dan fenomena sosial. Secara etimologis, istilah hermeneutika berasal dari kata Yunani hermēneuein yang berarti menafsirkan atau menjelaskan, dan berakar dari nama dewa Hermes yang berperan sebagai penyampai pesan ilahi kepada manusia. Pada tahap awal perkembangannya, hermeneutika digunakan sebagai metode penafsiran kitab suci Bible, sebelum kemudian berkembang menjadi pendekatan filosofis yang lebih luas dalam ilmu-ilmu sosial. Dalam diskursus filsafat ilmu, hermeneutika hadir sebagai kritik terhadap pandangan positivistik yang menekankan objektivitas, netralitas nilai, dan verifikasi empiris sebagai satu-satunya jalan memperoleh pengetahuan. Positivisme memandang ilmu sebagai usaha menemukan hukum-hukum universal yang bebas dari subjektivitas manusia. Sebaliknya, hermeneutika menegaskan bahwa pengetahuan tidak pernah sepenuhnya objektif, karena selalu melibatkan subjek penafsir yang membawa latar belakang historis, budaya, bahasa, dan pra-pemahaman tertentu. Fakta sosial tidak “berbicara sendiri”, melainkan dimaknai melalui proses interpretasi. Hermeneutika sejalan dengan konstruktivisme sosial yang memandang pengetahuan sebagai hasil konstruksi sosial. Dalam perspektif ini, manusia tidak hanya menjadi objek kajian, tetapi juga subjek aktif yang memberi makna terhadap realitas. Oleh karena itu, hermeneutika sangat relevan dalam memahami ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang objek kajiannya berkaitan dengan makna, pengalaman, dan tindakan manusia.

Dalam filsafat ilmu, hermeneutika memiliki dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Secara ontologis, hermeneutika memandang realitas sosial dan budaya sebagai realitas bermakna yang tidak bersifat objektif absolut. Pengetahuan dipahami sebagai usaha memahami makna yang tersembunyi di balik teks atau fenomena, terutama teks-teks yang berasal dari konteks sejarah dan budaya yang berbeda. Secara epistemologis, pengetahuan diperoleh melalui proses dialogis antara penafsir dan teks dalam apa yang disebut sebagai lingkaran hermeneutik, yakni gerak bolak-balik antara bagian dan keseluruhan hingga tercapai pemahaman yang lebih mendalam. Pemahaman selalu dipengaruhi oleh pra-pemahaman penafsir. Sementara secara aksiologis, hermeneutika menegaskan bahwa ilmu tidak hanya bertujuan menjelaskan dan mengontrol, tetapi juga memahami, merefleksikan, dan menumbuhkan empati terhadap makna kehidupan manusia. Tokoh-tokoh seperti Friedrich D.E. Schleiermacher dan Wilhelm Dilthey menekankan pentingnya empati dalam proses penafsiran, yakni upaya “mengalami kembali” pengalaman pengarang teks melalui pemahaman psikologis dan historis. Dalam perkembangannya, hermeneutika juga mulai diterapkan dalam kajian Al-Qur’an oleh sejumlah sarjana Muslim modern seperti Fazlur Rahman, Muhammad Arkoun, dan Nasr Hamid Abu Zayd, meskipun pendekatan ini memunculkan perdebatan di kalangan ulama.

Dengan demikian, hermeneutika memberikan kontribusi penting dalam filsafat ilmu dengan memperluas epistemologi. Hermeneutika menempatkan ilmu sebagai aktivitas manusiawi yang bersifat reflektif, dialogis, dan kontekstual, sehingga mampu menjembatani ilmu alam, ilmu sosial, dan ilmu kemanusiaan dalam memahami realitas secara lebih utuh dan bermakna. Dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer, hermeneutika menjadi semakin relevan karena mampu menjawab keterbatasan pendekatan ilmiah yang terlalu menekankan aspek teknis dan instrumental. Hermeneutika mendorong keterbukaan terhadap pluralitas makna serta mengakui adanya berbagai sudut pandang dalam memahami realitas. Dengan pendekatan ini, ilmu pengetahuan tidak lagi dipahami sebagai produk final yang kaku, melainkan sebagai proses pemaknaan yang terus berkembang seiring perubahan konteks sosial, budaya, dan sejarah. Oleh karena itu, hermeneutika berperan penting dalam membentuk paradigma ilmu yang lebih inklusif, kritis, dan peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

DAFTAR REFRENSI

Mohammad Muslih, Filsafat ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma Dan Kerangka Teon Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta. LES FI, 2016)

Widia Fithri, HERMENEUTIKA: UPAYA MEMPERTAUTKAN TURATS DENGANHADATSAH, Jurnal Akidah Filsafat Vol 5. 1 2013

Abdul Rasyid Ridho, Metode Hermeneutika dan Implementasinya dalam Menafsirkan Alquran al Burhan Vol. 17 No. 22017

Zahvita Caecaria dkk, FENOMENA HERMENEUTIKA DALAM ISLAM, Jumal Ekonomi Islam V 11 No. 2 2022

https://bpjiid.uma.ac.id/2024/12/20/teori-konstruktivisme-sosial-membangun-realitas-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *