Pada Minggu, (19/04) Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh kembali menyelenggarakan kegiatan tahunan yang dikenal dengan Tabassam (Ta’aruf Budaya dan Sistem Akademik Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda). Kegiatan yang mengusung tema “Mengakar Sejarah, Menjangkau Peradaban” ini diikuti oleh 35 peserta, yang terdiri dari 25 santri banin dan 10 santri banat.
Kegiatan diawali pada pagi hari dengan suasana yang khidmat, dibuka melalui pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh saudara M. Khairul Alfian sebagai doa agar seluruh rangkaian acara berjalan dengan lancar.
Acara selanjutnya diisi dengan sambutan dari Mudir Ma’had Aly Maslakul Huda, KH. Wakhrodi, M.Si. Dalam sambutannya, beliau mengingatkan pentingnya menata niat sejak awal serta membangun motivasi dalam menuntut ilmu. Beliau juga menyampaikan bahwa kualitas seseorang tidak hanya dilihat dari ilmunya, tetapi dari seberapa besar kebermanfaatannya bagi orang lain. Pada kesempatan yang sama, beliau sekaligus membuka kegiatan secara simbolis melalui prosesi pemotongan pita sebagai tanda dimulainya rangkaian acara Tabassam.
Agar suasana lebih cair, acara dilanjutkan dengan sesi ice breaking sebelum peserta mengikuti kegiatan inti.
Selanjutnya, peserta mengikuti seminar bertema “Pesantren dan Nasionalisme” yang disampaikan oleh Ibu Nyai Hj. Tutik Nurul Janah. Dalam penyampaiannya, beliau mengutip pandangan Kiai Sahal bahwa pesantren bukan hanya sekadar sebuah lembaga, melainkan sebuah sistem yang di dalamnya terdapat bagian-bagian yang saling terhubung dan menjadi satu kesatuan.
Lebih lanjut, beliau mengulas perkembangan pesantren di Indonesia, mulai dari era Walisongo hingga masa kolonialisme Belanda yang turut memengaruhi dinamika pesantren.
Di bagian akhir materi, beliau menekankan pentingnya memahami sejarah bagi seorang santri, karena setiap ide besar seringkali berawal dari keresahan. Pembahasan tentang pesantren dan negara pun mengarah pada pentingnya menumbuhkan jiwa nasionalisme. Selain itu, beliau juga mengingatkan agar masa muda dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar dan mengembangkan diri.
Setelah sesi seminar, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi akademik dan pengenalan karya Kiai Sahal Mahfudh yang disampaikan oleh K. MA. Abdulloh Haris. Dalam penyampaiannya, beliau mengangkat salah satu pandangan Kiai Sahal yang menegaskan bahwa meninggalkan kitab kuning sama halnya dengan memutus mata rantai sejarah dan budaya ilmiah dalam tradisi pesantren.
Selain itu, beliau juga membagikan pemahamannya setelah mengkaji kitab Fathul Mu’in bahwa seseorang yang benar-benar memahami fikih akan memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tidak hanya berhenti pada pemahaman teks, tetapi juga harus hadir dalam realitas kehidupan.
Di akhir penyampaian, beliau berpesan agar para santri tidak memiliki keinginan untuk mengejar popularitas tanpa diimbangi dengan kapasitas keilmuan yang memadai.
Memasuki waktu siang, kegiatan dilanjutkan dengan Ishoma (istirahat, sholat, dan makan) sebelum peserta kembali mengikuti rangkaian acara berikutnya. Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan sosialisasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) yang disampaikan oleh K. Moh. Nurun Nada yang membahas bidang penelitian serta peran santri dalam pengembangan keilmuan.
Rangkaian kegiatan hari pertama kemudian ditutup dengan kegiatan ziarah ke makam para Masyayikh Kajen, di antaranya Syekh Ahmad Mutamakkin, KH. MA. Sahal Mahfudh, dan Nyai Hj. Nafisah Sahal. Kegiatan ini menjadi momen refleksi sekaligus penguatan nilai-nilai spiritual bagi para peserta.
Seluruh rangkaian kegiatan Tabassam hari pertama berjalan lancar. Dari awal sampai akhir, setiap sesi bisa diikuti dengan baik dan memberi kesan tersendiri bagi para peserta. Semoga apa yang didapat hari ini bisa jadi bekal awal untuk menjalani proses ke depan dengan lebih siap dan sungguh-sungguh.








