Setiap kali bulan suci Ramadhan hadir, kita tidak hanya menjalani puasa dan memperbanyak ibadah. Ada satu peristiwa agung yang juga terjadi di bulan penuh berkah ini, yaitu turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi manusia. Dari situlah cahaya wahyu mulai menyebar, membawa perubahan besar bagi umat manusia. Malam kemuliaan ini kita kenal sebagai peristiwa Nuzulul Qur’an. Namun sering muncul pertanyaan yang sering membuat penasaran.
Bukankah Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar yang berada di sepuluh malam terakhir Ramadhan? Lalu, mengapa Nuzulul Qur’an justru diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan? Sebenarnya bagaimana penjelasannya?
Sebelum masuk ke pembahasan, apakah benar malam Lailatul Qadar terdapat pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan?
Diterangkan dalam kitab Al-Hawi al-Kabir
Para ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Hal ini didasarkan pada riwayat sahabat Abu Dharr al-Ghifari, yang menanyakan kepada Nabi Muhmmad apakah Lailatul Qadar masih ada hingga hari kiamat. Nabi menjawab bahwa malam tersebut tetap ada dan terjadi pada bulan Ramadhan, khususnya pada sepuluh malam terakhir. Selain itu, sahabat Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad menganjurkan umatnya untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama pada malam-malam yang ganjil.
Menurut Al-Imam ‘Imaduddin Abi al-Fida’ Ismail bin Katsir Al-Quraysyi, dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir hal 529 juz 4 dan hal 216 juz 1, diriwayatkan oleh Ibn Abbas bahwa, Al-Qur’an mengalami tiga tahap penurunan (nuzul).
- Tahap pertama, Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt secara Jumlatan wāḥidah (sekali turun secara keseluruhan) ke Lauhil Mahfudz. Tempat yang memiliki keluasan yang sangat besar, yakni sejauh ma baina al-masyriqi wa al-maghrib (antara timur dan barat) dengan kepanjangan ma baina as-sama’ wa al-ardh (antara langit dan bumi). Namun, pada tahap pertama ini tidak terdapat keterangan yang pasti mengenai kapan tepatnya peristiwa tersebut terjadi.
- Tahap kedua, Al-Qur’an kembali diturunkan secara Jumlatan wāḥidah (keseluruhan) dari Lauhil Mahfudz ke samā’ ad-dunyā (langit dunia), tepatnya ke tempat yang disebut Baitul ‘Izzah. Pada penurunan yang kedua ini juga tidak terdapat keterangan pasti mengenai waktunya. Yang dijelaskan hanyalah bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah pada Surah Al-Qadr ayat 1 “Innā anzalnāhu fī laylatil qadr” yang berarti: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan”.
- Tahap ketiga, Al-Qur’an diturunkan dari Baitul ‘Izzah kepada Nabi Muhammad, melalui perantara Malaikat Jibril. Berbeda dengan dua tahap sebelumnya, pada tahap ini Al-Qur’an tidak diturunkan secara Jumlatan wāḥidah (sekaligus), tetapi secara tadarruj (berangsur-angsur) atau sedikit demi sedikit (munajjaman bittanjib) selama kurang lebih 23 tahun. Penurunannya berlangsung sesuai dengan peristiwa dan kebutuhan umat pada masa itu.
Lalu, kenapa yang diperingati hanya malam 17 Ramadhan saja? Yaitu pada malam Nuzulul Qur’an?
Karena pada saat itulah Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu, yaitu awal Surah Al-‘Alaq ayat 1-5. Peristiwa inilah yang menjadi titik awal kerasulan beliau dan awal turunnya wahyu secara langsung kepada manusia.
Kesimpulannya bahwa
Jadi, tidak ada pertentangan antara turunnya Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar dan peringatan Nuzulul Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan. Keduanya merujuk pada dua peristiwa yang berbeda dalam proses turunnya Al-Qur’an.
Yang pertama adalah turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan (jumlatan wāḥidah) dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia, tepatnya ke Baitul ‘Izzah, yang terjadi pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.
Sedangkan yang kedua adalah awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril. Peristiwa ini terjadi pada malam 17 Ramadhan, dan kemudian dikenal sebagai peristiwa Nuzulul Qur’an, yaitu malam pertama Rasulullah menerima wahyu.
Semoga penjelasan ini membuat kita semakin memahami betapa agungnya proses turunnya Al-Qur’an, dan semakin mencintai kitab suci yang menjadi pedoman hidup kita.



