Agama sebagai Kompas Ilmu di Tengah Perubahan Sosial

Kolom Santri99 Dilihat

Ilmu pengetahuan dalam Islam tidak dipahami sebagai sesuatu yang netral dan bebas nilai, melainkan memiliki keterkaitan erat dengan agama, masyarakat, dan perkembangan teknologi. Dalam perspektif filsafat ilmu, relasi ketiganya menjadi penting agar kemajuan pengetahuan tidak kehilangan arah moral dan tujuan kemanusiaannya. Ilmu berkembang dalam konteks sejarah dan sosial tertentu, sekaligus dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut masyarakat, termasuk nilai keagamaan.

Agama berperan sebagai paradigma pengetahuan yang memberikan landasan filosofis dan tujuan bagi ilmu. Dalam Islam, ilmu diyakini bersumber dari Tuhan dan harus digunakan untuk mendekatkan manusia kepada-Nya serta membawa kemaslahatan. Pemikiran al-Ghazālī menegaskan bahwa ilmu yang ideal adalah ilmu yang mengintegrasikan akal dan wahyu, sehingga rasionalitas tetap berjalan dalam bingkai nilai-nilai agama. Konsep double movement Fazlur Rahman juga menunjukkan bahwa ajaran agama bersifat dinamis dan dapat diterapkan secara kontekstual untuk menjawab persoalan-persoalan kontemporer. Dengan demikian, agama tidak bertentangan dengan ilmu, tetapi justru membimbing arah perkembangannya.

Dalam relasinya dengan masyarakat, ilmu pengetahuan merupakan produk sosial yang lahir dari interaksi, budaya, dan perubahan zaman. Perubahan sosial seperti industrialisasi, urbanisasi, dan kemajuan teknologi mendorong berkembangnya berbagai disiplin ilmu untuk memahami dan mengelola dinamika masyarakat. Sebaliknya, ilmu dan teknologi juga berperan sebagai alat transformasi sosial yang mengubah pola pikir, struktur sosial, dan cara hidup manusia. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memiliki dampak nyata dalam kehidupan sosial.

Teknologi sebagai hasil penerapan ilmu pengetahuan memiliki pengaruh besar terhadap cara manusia berpikir dan bertindak. Di era digital, teknologi menciptakan pola pikir baru yang lebih cepat, terbuka, dan berbasis informasi. Namun, perkembangan teknologi juga memunculkan tantangan etika seperti penyalahgunaan data, hoaks, dan krisis integritas ilmiah. Oleh karena itu, etika ilmiah menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa teknologi dikembangkan dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

Integrasi agama, sosial, dan teknologi dalam filsafat ilmu menegaskan bahwa ilmu harus dipahami secara utuh, tidak hanya dari aspek rasional dan empiris, tetapi juga dari sisi nilai dan tujuan. Agama memberikan arah moral, masyarakat menjadi ruang penerapan dan pengujian ilmu, sementara teknologi menjadi sarana aktualisasinya. Dengan integrasi ini, perkembangan ilmu dan teknologi diharapkan mampu membawa manfaat nyata, keadilan sosial, serta kemaslahatan bagi kehidupan manusia secara berkelanjutan.

 

Referensi:

  1. Tanzilul Authar dan Syamsul Rijal, “KORELASI FILSAFAT, ILMU PENGETAHUAN DAN AGAMA”, Perisai: Jurnal Pendidikan dan Riset Ilmu Sains, 2024, vol. 03, No. 02.

  2. Abu Hamid Al Ghazālī, Al Mustashfa, (Mesir: Dār al-Kutub al-Ilmiah, 1993).

  3. Etika Pujianti, “PENGARUH PEMIKIRAN PARA INTELEKTUAL MUSLIM MODERN: FAZLUR RAHMAN”, Jurnal An-Nur: Kajian Pendidikan dan Ilmu Keislaman, 2021, Vol. 7, No. 1.

  4. Alaby, M. A. (2024). Filsafat Ilmu sebagai Arah Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Arus Jurnal Psikologi Dan Pendidikan, 3(3).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *