Hasil Keputusan Bahtsul Masail III Himam: Feodalisme Pesantren

Mushohih : KH. Ahmad Faishol & KH. Saefurrohman
Perumus : K. MA. Abdullah Haris & Ust. Muhammad Mirza

Deskripsi masalah:
Pondok pesantren, merupakan salah satu lembaga pendidikan yang telah lama berdiri di Indonesia. Keberadaan pesantren tidak bisa dipisahkan dari Islam di Indonesia. Awal mula berdirinya pesantren beriringan dengan masuknya Islam ke Nusantara. Bahkan, sejarah mencatat bahwa keberadaan pesantren sangat lekat dengan sejarah kemerdekaan Indonesia.
Salah satu elemen yang menjadi sorotan tajam dalam dinamika pesantren adalah posisi kiai sebagai figur sentral, yang secara kultural ditempatkan dalam puncak otoritas yang nyaris tak tergapai oleh kritik. fenomena ini menghadirkan atmosfer yang tidak jauh berbeda dari watak feodal, sehingga pemikiran kritis tenggelam dalam gelombang kepatuhan yang tidak selalu dilandasi oleh nalar dan pemahaman mendalam. Karena itu, pesantren dianggap sebagai bentuk feodalisme baru di era modern, atau yang masyhur dikenal dengan istilah Neo-Feodalisme.
Secara umum, feodalisme adalah sistem kekuasaan yang bersifat hierarkis, tertutup, dan sangat menekankan loyalitas personal antara atasan dan bawahan, di mana kekuasaan dan hak istimewa didistribusikan secara tidak merata.
Feodalisme lama didasarkan pada tiga prinsip utama:
• Kekuasaan: Sistem ini berfokus pada penguasaan politik, sosial, ekonomi, budaya, dan segala aspek kehidupan. Kekuasaan bersifat sentral pada satu pemimpin.
• Kekerabatan: Kekuasaan dalam feodalisme hanya berkutat pada kelompok tertentu yang memiliki hubungan kekerabatan.
• Pengkultusan: Pemimpin feodal selalu dikultuskan. Mereka tidak hanya dihormati dan dipuja secara berlebihan, bahkan kerap kali dikaitkan dengan hal-hal mitologis.
Istilah pesantren sebagai neo-feodalisme merujuk pada pandangan kritis terhadap relasi kuasa dalam lingkungan pesantren yang dianggap mereproduksi struktur sosial serupa feodalisme lama, yakni sistem sosial yang sangat hierarkis dan otoriter, namun dalam wajah baru (neo) di era modern. Narasi ini tidak hanya muncul dari relasi kuasa, melainkan juga diperkuat oleh beberapa praktik atau tradisi yang telah mengakar kuat. Tradisi mencium tangan, menunduk, atau membungkukkan badan di hadapan seorang kiai, serta meyakini keberkahan sisa air minum atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kiai, disinyalir sebagai tradisi turunan dari neo-feodalisme.

Pertanyaaan:
a. Apakah membukukkan badan dihadapan seorang kyai dapat dianggap sebagai pengkultusan yang diharamkan oleh syariat?

Jawaban:
Tidak dapat dianggap sebagai pengkultusan yang diharamkan oleh syariat.

Penalaran:
Dalam ketentuan fikih sudah dinyatakan bahwa pengkultusan terhadap individu diharamkan secara mutlak. Lalu apakah tradisi membukukkan badan dapat dianggap sebagai bentuk pengkultusan. Sebelum menjawabnya, alangkah baiknya kita ketahui terlebih dahulu hukum inhina’ (sedikit membungkukkan badan) untuk menghormati seorang kiai atau guru.

Praktek inhina’ (sedikit membungkukkan badan) tidak sampai pada batas ruku’ hadir di tengah ruang penghakiman dengan suara riuh. Para sarjana Islam (ulama) membulatkan suara dengan hasil makruh. Ironisnya kemakruhan tersebut tidak mempertimbangkan motifvasi dari pelaku. Artinya walaupun motivasi dari sang pelaku adalah sekedar menghormati, hal tersebut tidak dapat menggoyahkan status kemakruhan inhina’.

Latar belakang naiknya hukum makruh ditengah-tengah panggung kehakiman ,lebih didasarkan pada larangan secara eksplisit dari nabi atas pertanyaan sahabatnya mengenai inhina’. Larangan tersebut merepresentasikan makruh.

فيض القدير شرح الجامع الصغير (5/ 638)
عن أنس قال : قال رجل يا رسول الله الرجل منا يلقى أخاه أو صديقه أينحني له ؟ قال : لا قال : أفيلتزمه ويقبله قال : لا قال : فيأخذ بيده ويصافحه ؟ قال : نعم ، قال الترمذي : حسن صحيح

Dari Anas r.a. diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apabila salah seorang dari kami bertemu dengan saudaranya atau temannya, apakah ia boleh membungkuk kepadanya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Orang itu bertanya lagi, “Apakah ia boleh memeluk dan menciumnya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Ia bertanya kembali, “Apakah ia boleh memegang tangannya dan berjabat tangan dengannya?” Beliau menjawab, “(Boleh).”

مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج ٤/‏٢١٨ — الخطيب الشربيني (ت ٩٧٧)
وَيُكْرَهُ ذَلِكَ لِغِنَاهُ أَوْ نَحْوِهِ مِنْ الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ، كَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ، وَيُكْرَهُ حَنْيُ الظَّهْرِ مُطْلَقًا لِكُلِّ أَحَدٍ مِنْ النَّاسِ، وَأَمَّا السُّجُودُ لَهُ فَحَرَامٌ
. أسنى المطالب في شرح روض الطالب (4/ 186)
وَحَنْيُ الظَّهْرِ مَكْرُوهٌ لِخَبَرِ أَنَّ رَجُلًا قال يا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أو صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي له قال لَا قال أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ قال لَا قال فَيَأْخُذُ بيده وَيُصَافِحُهُ قال نعم رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ وَلَا يُغْتَرُّ بِكَثْرَةِ من يَفْعَلُهُ مِمَّنْ يُنْسَبُ إلَى عِلْمٍ وَصَلَاحٍ وَغَيْرِهِمَا وما اقْتَضَاهُ كَلَامُ الْمُصَنِّفِ كَأَصْلِهِ من جَوَازِ الِانْحِنَاءِ قال الْإِسْنَوِيُّ مَرْدُودٌ مُخَالِفٌ لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ وَلِلْمَعْرُوفِ في الْمَذْهَبِ وَأَطَالَ في بَيَانِهِ
الفتاوى الكبرى الفقهية ٤/‏٢٤٧ — ابن حجر الهيتمي (ت ٩٧٤)
وَسُئِلَ: ما حُكْمُ الْمُصَافَحَةِ وَتَقْبِيلِ الْيَدِ وَالرِّجْلِ وَالرَّأْسِ وَالِانْحِنَاءِ بِالظَّهْرِ وَالْقِيَامِ؟ اُبْسُطُوا الْجَوَابَ. فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ: الْمُصَافَحَةُ لِلْقَادِمِ سُنَّةٌ وَكَذَا تَقْبِيلُ ما ذُكِرَ من نَحْوِ عَالِمٍ وَصَالِحٍ وَشَرِيفِ نَسَبٍ وَالِانْحِنَاءُ بِالظَّهْرِ مَكْرُوهٌ وَالْقِيَامُ لِمَنْ ذُكِرَ سُنَّةٌ هذا مَذْهَبُنَا

Hal ini berbeda dengan praktek mencium tangan orang shaleh dan bahkan menicum kakinya, jika didasarkan pada perkara akhirat justru diapresiasi oleh syariat. Berbeda dengan praktek inhina’ atau Hanyu ad-dahr hukum tetap bersauara makruh.

أسنى المطالب في شرح روض الطالب ٣/‏١١٤ — زكريا الأنصاري (ت ٩٢٦)
وَيُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ يَدِ الْحَيِّ لِصَلَاحٍ وَنَحْوِهِ من الْأُمُورِ الدِّينِيَّةِ كَزُهْدٍ وَعِلْمٍ وَشَرَفٍ كما كانت الصَّحَابَةُ تَفْعَلُهُ مع النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم كما رَوَاهُ أبو دَاوُد وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ وَيُكْرَهُ ذلك لِغِنَاهُ وَنَحْوِهِ من الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ كَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ عِنْدَ أَهْلِ الدُّنْيَا لِخَبَرِ من تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِنَاهُ ذَهَبَ ثُلُثَا دِينِهِ
حاشية الجمل – (ج 5 / ص 184)
وتقبيل نحو الرأس أو يد أو رجل كذلك ويندب ذلك لنحو علم أو صلاح أو شرف أو ولادة أو نسب أو ولاية مصحوبة بصيانة قال ابن عبد السلام أو لمن يرجى خيره أو يخاف من شره ولو كافرا خشي منه ضررا لا يحتمل عادة ويكون على جهة البر والإكرام لا الرياء والإعظام

Ketentuan ini penting untuk dikaji dari perspektif ushul fiqh, agar hukum dasar larangan inhina’ dari nabi dapat dipahami dengan kontekstual. Dari sisi linguistik. perlu didiskusikan mengenai apakah jawaban nabi atas pertanyaan sahabat berimplikasi pada hukum haram atau sekedar makruh. Para fuqaha cenderung lebih mengambil sikap makruh, kecuali jika terdapat factor eksternal yang mengubahnya menjadi haram, seperti inhina’ yang dilakukan sampai pada taraf ruku’.

Para sarjana Islam berusaha mengungkap illat atas kemakruhan inhina’ yang disampaikan oleh Nabi. Tetapi pada hasilnya, mereka tidak menemukan kata sepakat, beragam corak illat (alasan) atas larangan inhina’ mewarnai perdebatan diatara mereka. Bahkan terdapat suara yang hanya mencukupkan kemakruhan inhina’ pada bunyi teks hadits semata.

Sebagian sarjana Islam berpandangan kemakruhan nabi hanya bersifat irsyad (arahan), bukan larangan makruh dalam ilmu ushul fiqh. Hal didasarkan pada suatu kondisi, bahwa pada masa nabi praktek inhina’ identik dengan budaya orang ajam (non-arab) yang pada saat itu orang ajam masih bergama non-muslim. Pandangan lain menyatakan bahwa praktek inhina’, menyerupai bentuk rukuk, yang mana rukuk sendiri harus diproyeksikan hanya kepada Allah. Dalam bariqah muhammadiyah menampilkan suara yang berbeda, bahwa laranagn inhina’ yang disampaikan oleh Nabi adalah peringatan agar umat islam tidak tasyabbuh (menyerupai) budaya orang yahudi.

— بدر الدين العيني (ت ٨٥٥) نخب الأفكار في تنقيح مباني الأخبار في شرح معاني الآثار
قوله: «أينحني» الهمزة فيه للاستفهام، وكذلك في قوله: «أفيعانق» و«أفيصافح» وليس في أكثر النسخ همزة في «فيعانق» و«فيصافح».
قوله: «تصافحوا» أمر من تصافح يتصافح تصافحًا، وهو إلصاق صفح الكف بالكف، وإقبال الوجه على الوجه، وكذلك المصافحة.ويفهم منه ثلاثة أحكام
* عدم جواز انحناء الناس بعضهم لبعض عند التلاقي؛ وذلك لأنه من صنيع الأعاجم

تحفة الأحوذي (7/ 33)
قَوْلُهُ : ( الرَّجُلُ مِنَّا ) أَيْ مِنْ الْمُسْلِمِينَ ( يَلْقَى أَخَاهُ ) أَيْ فِي الدِّينِ ( أَوْ صَدِيقَهُ ) أَيْ حَبِيبَهُ وَهُوَ أَخَصُّ مِمَّا قَبْلَهُ ( أَيَنْحَنِي لَهُ ) مِنْ الِانْحِنَاءِ وَهُوَ إِمَالَةُ الرَّأْسِ ، وَالظَّهْرِ ( قَالَ لَا ) فَإِنَّهُ فِي مَعْنَى الرُّكُوعِ وَهُوَ كَالسُّجُودِ مِنْ عِبَادَةِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ
بريقة محمودية في شرح طريقة محمدية وشريعة نبوية (3/ 190)
وَالِانْحِنَاءُ لِلْكُبَرَاءِ عِنْدَ الْمُلَاقَاةِ وَ ) عِنْدَ ( السَّلَامِ وَرَدِّهِ ) لِوُرُودِ النَّهْيِ الصَّرِيحِ عَنْهُ فِي الْحَدِيثِ .
وَفِيهِ أَيْضًا تَشْبِيهٌ بِالْيَهُودِ كَمَا نُقِلَ عَنْ الْمُصَنِّفِ وَنُقِلَ عَنْ الْفُصُولِ الْعِمَادِيَّةِ الِانْحِنَاءُ لِلسُّلْطَانِ وَلِغَيْرِهِ مَكْرُوهٌ لِأَنَّهُ يُشْبِهُ فِعْلَ الْمَجُوسِ

Dari beberapa argumentasi yang telah disebutkan, dapat ditarik benang merah bahwa ta’lil kemakruhan inhina’ lebih didominasi oleh faktor budaya. Dengan proses ta’lil ini, diharapkan akan menjadikan pemahaman terhadap hukum syariat lebih mendorong umat untuk mentataati (ad’a ila al-imtitsal). Ketika telah diputuskan bahwa kemakruhan inhina’ dikarenakan faktor budaya, maka kemakruhan tersebut dapat pudar seiring berubahnya budaya zaman sekarang.

Budaya sedikit membungkukkan badan yang telah mentradisi dikalangan santri sebagai ekspresi menghormati gurunya (kiai), tidak dapat dihukumi makruh. karena motivasi yang mendorongnya adalah perkara ukhrowi, seperti keilmuan dan kesalehan gurunya. Alasan adanya tadzallul (menghinakan diri) berbeda dengan orang ajam dan tasyabbuh bil yahud sudah tidak relevan dizaman sekarang. Salah satu ulama yang mendukung kebolehan inhina’ dari kalangan Syafi’iyah adalah Imam Ghozali. Suara yang sama juga dilontarkan oleh beberapa ulama sebagaimana yang telah terekam dalam kitab hasyiah Al-Showi syarah Syarhus As-Shoghir.

إحياء علوم الدين ٢/‏١٤٣ — أبو حامد الغزالي (ت ٥٠٥)
فَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ وَ الْاِنْحِنَاءِ فِي الْخِدْمَةِ فَهُوَ مَعْصِيَةٌ إِلاَّ عِنْدَ الْخَوْفِ أَوْ لِإِمَامٍ عَادِلٍ أَوْ لِعَالِمٍ أَوْ لِمَنْ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ بِأَمْرٍ دِيْنِيٍّ
إتحاف السادة المتقين بشرح إحياء علوم الدين، ج: ٦، ص: ١٣١
أَوْ مَنْ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ بِأَمْرٍ دِيْنِيٍّ: كَشَيْخٍ مُسِنٍّ صَالِحٍ، شَابٍ فِي الْإِسْلاَمٍ، أَوْ شَيْخِهِ فِي الْعِلْمِ وَلَوْ كَانَ شَابًّا، أَوْ وَالِدِهِ، أَوْ وَالِدَتِهِ، وَالْعَمِّ بِمَنْزِلَةِ الْأَبِ
حاشية الصاوي على الشرح الصغير = بلغة السالك لأقرب المسالك ٤/‏٧٦٠ — أحمد الصاوي (ت ١٢٤١)
وَالدَّلِيلُ عَلَى حُسْنِ الْمُصَافَحَةِ مَا تَقَدَّمَ وَقَوْلُهُ – ﷺ – لِمَنْ قَالَ لَهُ: «يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ قَالَ: لَا. قَالَ: أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: أَفَيَأْخُذُهُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ؟ قَالَ: نَعَمْ» قَالَ النَّفْرَاوِيُّ وَأَفْتَى بَعْضُ الْعُلَمَاءِ بِجَوَازِ الِانْحِنَاءِ إذَا لَمْ يَصِلْ لِحَدِّ الرُّكُوعِ الشَّرْعِيِّ.
غذاء الألباب في شرح منظومة الآداب ١/‏٣٣٢ — السفاريني (ت ١١٨٨)
وَقَدَّمَ فِي الْآدَابِ الْكُبْرَى عَنْ أَبِي الْمَعَالِي أَنَّ التَّحِيَّةَ بِانْحِنَاءِ الظَّهْرِ جَائِزٌ

Dengan demikian harus diakui bahwa praktek inhina’ menjadi persoalan yang masih diperselisihkan oleh para fuqaha’. Dan pendapat yang memperbolehkan dianggap lebih sesuai dengan budaya kita dipesantren.

Kemudian apakah ekspresi dari penghormatan melalui inhina’ diharamkan oleh syariat ?
Pengkultusan yang diharamkan oleh syariat bukan sekadar bentuk ekspresi hormat atau takzim, melainkan sikap yang menempatkan manusia pada posisi transenden yang semestinya hanya milik Allah. Pengkultusan ini juga tampak ketika seseorang menggantungkan keberkahan, keselamatan, atau manfaat tanpa sebab yang dibenarkan secara syar‘i, serta menutup ruang kritik dan koreksi dengan dalih “kesucian pribadi”, sehingga figur yang dikultuskan seolah kebal dari kesalahan dan penyimpangan.

Syariat justru menganjurkan agar umat islam menghormati para ulama yang shaleh karena faktor ilmu dan keshalehannya, bukan kesucian pribadi sebagaimana konsep dalam pengkultusan. Dengan demikian ekspresi penghormatan kepada guru atau kiai berupa membungkukkan badan diperbolehkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *