Paradigma Kesatuan ilmu (Wahdātul ‘Ilmi) sebagai Konstruksi Filsafat Keilmuan

Kolom Santri187 Dilihat

Paradigma kesatuan ilmu (Wahdātul ‘Ilmi) merupakan paradigma ilmu pengetahuan khas umat islam yang menyatakan bahwa, semua ilmu pada dasarnya adalah satu kesatuan yang berasal dari dan bermuara pada Alah melalui wahyu-Nya, baik secara langsung maupun tidak. Oleh karena itu, semua ilmu sudah semestinya saling berdialog dan bermuara pada satu tujuan, yakni mengantarkan pengkajinya semakin mengenal dekat pada Allah sebagai al-`Alīm (dzat yang maha mengetahui).

Sebagai konstruksi filsafat keilmuan, paradigma kesatuan ilmu merupakan salah satu respons terhadap krisis fragmentasi dan sekularisasi ilmu pengetahuan modern. Wahdātul ‘Ilmi dikonstruksi secara filosofis dengan menjadikan prinsip Tauhid sebagai landasan metafisik yang universal dan tunggal. Konstruksi ini diwujudkan melalui tiga dimensi, yaitu: Pertama, dimensi ontologis, mengatasi fragmentasi dengan menegaskan bahwa semua realitas, fisik maupun metafisik, baik teks Qur’āniyyah maupun teks Kauniyyah adalah Ayātullāh (tanda-tanda Allah), sehingga ilmu alam, sosial, dan agama disatukan sebagai objek kajian yang terintegrasi. 

Kedua, dimensi epistemologis, menolak dualisme sumber yang selama ini memisahkan antara ilmu agama (wahyu) dan ilmu umum (rasional/empiris) dengan mengkonstruksi integrasi dan dialektika antara ilmu yang berakar pada wahyu, ilmu pengetahuan modern dan local wisdom (kearifan local).
Ketiga, dimensi aksiologis, menetapkan tujuan seragam humanisme teosentris bagi semua ilmu. Tujuan ini diimplementasikan melalui spiritualisasi ilmu modern dan humanisasi ilmu agama, sehingga memastikan ilmu diarahkan pada wilayah kemaslahatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *