PERAN NEGERI DALAM MENANGANI TANTANGAN DAN POTENSI REMAJA GEN Z DAN ALPHA DI ERA DIGITAL

Kolom Santri1114 Dilihat

Remaja adalah cerminan masa depan sebuah bangsa, Termasuk Indonesia yang saat ini didominasi oleh generasi Z dan Alpha. Kedua generasi tersebut adalah kelompok yang lahir di era digital dan tumbuh bersama teknologi, generasi ini memiliki tantangan dan perbedaan yang jauh dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Masalah remaja zaman sekarang bisa jadi berbeda dengan masalah remaja pada zaman dulu.

Di balik tantangan tersebut, Generasi Z dan Alpha menyimpan potensi luar biasa. Namun di balik potensi besar yang dimiliki, masalah remaja tidak dapat diabaikan. Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, tantangan generasi Z semakin kompleks. Dari tekanan sosial, perubahan gaya hidup, hingga kecenderungan pada pola interaksi digital yang intens.

Generasi Z sendiri merupakan generasi pertama yang tumbuh dengan akses internet, media sosial, dan alat-alat digital lainnya. Disisi lain generasi alpha lebih lekat dengan dunia digital mereka belajar melalui layar sentuh sebelum bisa membaca, mengenal dunia digital sejak dini, dan hidup dalam sistem tratomatisasi.

Dengan demikian timbul berbagai tantangan dan masalah-masalah terhadap generasi Z dan Alpha seperti sebagai berikut :

  1. Gangguan kesehatan mental

Tantangan Gen Z dan Alpha Terkait kesehatan mental membutuhkan perhatian lebih, dukungan dari lingkungan keluarga. Gangguan kecemasan mendominasi dengan angka 26,7℅ disusul oleh masalah pemusatan perhatian (10,6%) dan depresi (5,3%). Lonjakan ini dipicu oleh tekanan sosial yang diperburuk oleh eksposur konten negatif di media sosial.

  1. Pengaruh digital/media sosial

Sebagian besar remaja adalah pengguna aktiv media sosial berbagai platform mereka pakai seperti instagram, tiktok, youtube, tewiter, whatsap, dll. Oleh sebab itu sering memicu perbandingan dan perdebatan antara satu sama lain, yang berujung pada kecemasan, tidak percaya diri dan saling bermusuhan.

Kondisi ini menuntut pendekatan seimbang dalam penggunaan teknologi. Orang tua dan sekolah perlu berperan aktif dalam memberikan literasi digital dan membatasi penggunaan media sosial agar remaja tetap sehat secara mental dan sosial

  1. Penggunaan barang terlarang

Penggunaan barang terlarang sering terjadi pada remaja zaman sekarang seperti penyalah gunakan barang seperti obat, alkohol, dll. Dan akhirnya membuat kecanduan dan kebiasaan mengkonsumsi barang-barang terlarang(Narkoba,khamer dll).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah saw bersabda:

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ وَمَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِى الدُّنْيَا فَمَاتَ وَهُوَ يُدْمِنُهَا لَمْ يَتُبْ لَمْ يَشْرَبْهَا فِى الآخِرَةِ

“Segala sesuatu yang memabukkan itu khamar. Segala sesuatu yang memabukkan itu haram. Siapa saja meminum khamar di dunia lalu ia meninggal dunia dalam keadaan kecanduan dan tidak bertaubat, maka ia tidak akan meminum khamar (yang penuh nikmat) di akhirat (HR Muslim, No. 2003)

Maka dari itu penting untuk mengedukasi remaja tentang risiko jangka panjang penggunaan zat berbahaya. Orang tua harus terus mengawasi dan membangun dialog terbuka tentang konsekuensi dari penyalahgunaan narkoba dan alkohol.

  1. Bullying dan cyberbullying

Masalah bullying semakin kompleks dengan adanya cyberbullying, yang kini menjadi bentuk intimidasi paling umum di kalangan generasi Z. Hampir sebagian  remaja mengalami bullying, baik secara langsung maupun online. Cyberbullying memperburuk dampak bullying dengan menyebarkan penghinaan secara luas dan anonim.

  1. Kecanduan judi dan aktivitas sexsual

Perkembangan internet membuka peluang bagi remaja untuk terlibat dalam judi online, baik melalui taruhan olahraga maupun permainan peluang. Meskipun hanya sebagian kecil remaja yang benar-benar kecanduan, otak remaja sangat rentan terhadap adiksi, terutama ketika mereka terus mengejar “kemenangan besar” berikutnya.

Namun dalam kasus ini tidak hanya remaja bahkan orang tua pun terlibat dalam kecanduan judi baik secara fisik maupun online.

Dalam islam bentuk judi yang di haramkan oleh agama yaitu taruhan baik dari tim atau kedua belah pihak yang terlibat, baik secara fisik maupun online. Hal disebutkan oleh syekh Ibrahim al-baijuri dalam hasyiyah-nya :

وَإِنْ أَخْرَجَاهُ أَيِ الْعِوَضَ الْمُتَسَابِقَانِ مَعًا لَمْ يَجُزْ … وَهُوَ أَيِ الْقِمَارُ الْمُحَرَّمُ كُلُّ لَعْبٍ تَرَدَّدَ بَيْنَ غَنَمٍ وَغَرَم

Jika kedua belah pihak mengeluarkan imbalan secara sepakat atau bersamaan, maka lomba pun tidak boleh… Maksudnya judi, yang diharamkan adalah semua permainan yang belum tentu atau belum bisa dipastikan untung dan ruginya.(Hasyiyatul Baijuri ‘ala Fathil Qarib) ,

Kesimpulan

Generasi Z dan Alpha hadir sebagai generasi yang sangat unik tumbuh dalam dunia digital yang membentuk cara berpikir, belajar, dan berinteraksi mereka masing-masing.

Di satu sisi mereka memiliki potensi yang luar biasa dalam penguasaan teknologi, kreativitas, dan inovasi. Namun di sisi lain mereka juga menghadapi tantangan yang besar seperti tekanan mental, ketimpangan sosial, dan lain-lain yang mengakibatkan tidak percaya diri, setres, dan penyalah gunakan barang dan akhirnya merusak tatanan masyarakat namun dalam kasus ini tidak hanya para remaja bahkan orang tua pun trlibat dalam penyalah gunakan barang dll.

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ)[الشورى: 30]

“Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Oleh karna itu, pentingnya pendampingan yang tepat atau pengawasan terhadap aktivitas para remaja. Sebagai generasi yang harus beradaptasi dengan berbagai perubahan, remaja adalah kelompok yang unik. Sangat penting memahami masalah remaja yang dihadapi oleh Gen Z dan Alpha, serta solusi yang relevan dengan situasi dan kondisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *