Perempuan Berpendidikan Tinggi, Haruskah Takut Disebut “Terlalu Tinggi” untuk Menikah?

Kolom Santri33 Dilihat

Di media sosial, kita sering menemukan cerita perempuan yang ragu melanjutkan kuliah ke jenjang magister, doktor, atau Ma’had Aly, yakni lembaga pendidikan tinggi pesantren yang mengkaji kitab-kitab turats secara mendalam. Jenjang marhalah ula di Ma’had Aly setara sarjana, sedangkan marhalah tsaniyah setara magister. Mereka ragu bukan karena merasa tidak sanggup belajar, tetapi karena adanya anggapan bahwa perempuan yang pendidikannya “terlalu tinggi” akan sulit mendapatkan pasangan.

Anggapan seperti ini masih akrab di telinga kita. Ada yang bilang perempuan cukup sekolah “secukupnya” saja karena pada akhirnya akan kembali ke dapur. Ada pula yang menilai bahwa perempuan yang pendidikannya lebih tinggi dari laki-laki akan sulit mendapatkan pasangan karena dianggap terlalu kritis atau sulit diatur. Pandangan ini memang tidak selalu diucapkan secara terang-terangan, tetapi sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Akibatnya, tidak sedikit perempuan memilih menunda mimpinya karena takut dicap macam-macam.

Padahal, kalau kita lihat sejarah Islam, banyak sekali perempuan yang justru menjadi sumber ilmu. Sayyidah Aisyah ra. meriwayatkan ribuan hadis dan menjadi tempat bertanya para sahabat. Ummu Salamah ra. juga dikenal memiliki pemahaman fikih yang sangat baik. Bahkan, banyak ulama besar belajar kepada guru perempuan. Ini menunjukkan bahwa perempuan berilmu bukan hal yang aneh dalam Islam.

Islam sendiri tidak pernah melarang perempuan menuntut ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Para ulama menjelaskan bahwa kewajiban ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan, sesuai dengan ilmu yang memang perlu mereka pelajari.

Di zaman sekarang, perempuan yang berpendidikan bukan hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan masyarakat. Seorang ibu yang berilmu bisa menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya. Seorang guru perempuan bisa melahirkan generasi yang cerdas. Seorang ulama perempuan bisa memberi jawaban atas berbagai persoalan perempuan yang makin kompleks.

Temuan ilmiah juga mendukung hal ini. Tinjauan global yang dimuat di The Lancet (CHAIN dan IHME) menemukan bahwa setiap tambahan satu tahun pendidikan ibu berkaitan dengan turunnya angka kematian anak balita sebesar 1,6%. Bila terakumulasi selama 12 tahun, penurunannya mencapai sekitar 31%. Dari sisi biologis, penelitian Korevaar dkk. (2016) yang dimuat di The Lancet Diabetes & Endocrinology menemukan bahwa kadar hormon tiroid ibu selama kehamilan, baik yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi, berkaitan dengan skor IQ anak yang lebih rendah. Hormon tiroid ibu berperan dalam perkembangan otak janin. Pendidikan diharapkan membantu ibu memahami pentingnya pemeriksaan kehamilan dan asupan gizi, sehingga kondisi tersebut lebih terjaga. Artinya, ilmu bagi seorang ibu bukan sekadar gelar, melainkan ikhtiar nyata untuk kualitas generasi berikutnya.

Karena itu, sebagian perempuan berada dalam dilema. Di satu sisi, mereka ingin terus belajar dan mengembangkan diri. Di sisi lain, mereka khawatir dicap terlalu ambisius atau kehilangan kesempatan menikah.

Yang perlu diluruskan adalah cara kita memandang pendidikan. Tujuan menuntut ilmu bukan untuk pamer atau merasa lebih tinggi dari orang lain, tetapi untuk memperbaiki diri dan memberi manfaat. Jadi, pendidikan tinggi seharusnya tidak dianggap sebagai penghalang menikah, melainkan bekal untuk membangun keluarga yang lebih matang dan berilmu.

Salah satu penyebab munculnya anggapan itu ada pada cara kita memahami relasi antara laki-laki dan perempuan. Sebagian orang masih berpikir bahwa laki-laki harus selalu lebih unggul dalam segala hal, termasuk pendidikan. Ketika perempuan memiliki pendidikan yang lebih tinggi, muncul kekhawatiran bahwa keseimbangan dalam rumah tangga akan terganggu.

Padahal, rumah tangga bukanlah kompetisi untuk menentukan siapa yang lebih hebat. Pernikahan adalah kerja sama antara dua orang yang saling melengkapi. Gelar akademik tidak otomatis menentukan siapa yang lebih bijaksana, lebih penyayang, atau lebih bertanggung jawab.

Perempuan juga kerap dihadapkan pada standar yang saling bertentangan. Kalau tidak berpendidikan tinggi, ia dianggap kurang berkembang. Namun ketika berhasil meraih pendidikan tinggi, ia justru dianggap terlalu tinggi untuk menikah.

Cara pandang ini perlu diubah. Pendidikan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Yang perlu dikhawatirkan justru ketika seseorang memiliki ilmu tetapi kehilangan akhlak. Sebaliknya, ilmu yang disertai kerendahan hati akan menjadi cahaya, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi keluarganya.

Laki-laki yang baik tidak akan merasa terancam oleh perempuan yang pintar. Justru ia akan melihat ilmu pasangannya sebagai kekuatan untuk membangun rumah tangga yang saling mendukung dalam kebaikan.

Jadi, perempuan tidak perlu takut menjadi cerdas. Ilmu tidak pernah mengurangi kehormatan seorang perempuan. Justru dengan ilmu, ia bisa menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi agama, keluarga, dan masyarakat.

Sumber:

https://cibinstitute.id/index.php/tashdiq/article/view/2922/2535

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26497402/

https://unescochair-ghe.org/?p=3996

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *