Paradigma Kesatuan Ilmu (Wahdatul ‘Ilmi) sebagai Konstruksi Filsafat Keilmuan

Kolom Santri203 Dilihat

Thomas S. Kuhn, filsuf modern yang mempopulerkan dan mengembangkan konsep paradigma, mendefiniskannya sebagai seperangkat teori, metode, dan pegangan ilmiah yang disepakati oleh para ilmuan serumpun yang akan menjadi pembeda dari ilmuan lain. Secara sederhana, paradigma berfungsi sebagai “kacamata”, dimana para ilmuan memandang suatu konstruk melaluinya dengan kerangka berfikir, metodologi, dan dasar normatifnya.

Dalam konteks filsafat ilmu, paradigma memiliki peran yang esensial, ia berfungsi sebagai landasan utama ilmuan selayaknya kacamata bagi ilmuan dalam menetukan masing-masing dari apa yang “ada” (ontologi), bagaimana cara mengetahuinya (epistemologi), dan nilai apa yang mendasarinya (aksiologi). Melalui pergumulan paradigma, dari masa ke masa para ilmuan mencoba untuk menghadirkan paradigma yang solutif terhadap problematika keilmuan pada masa mereka, salah satunya adalah paradigma kesatuan ilmu (wahdatul ‘ilmi).

Muhyar Fanani (2015) menyatakan, paradigma wahdatul ‘ilmi adalah seperangkat teori, metode, dan pegangan ilmiah yang menandaskan bahwa dalam prinsip fundamentalnya, semua ilmu adalah satu kesatuan yang berasal dari dan bermuara pada Allah melalui wahyunya, baik secara langsung maupun tidak. Sebagai “kacamata”, paradigma ini memuat beberapa prinsip yang menjelaskan bagaimana mewujudkan kesatuan ilmu yang dibangun secara filosofis dalam masing-masing pilar filsafat ilmu, diantaranya integrasi, kolaborasi, dialektika, prospektif, dan pluralistik.

Sebagai kontruksi ontologis, paradigma ini menyatakan bahwa apa yang dinamakan ilmu adalah seluruh pengetahuan tentang realitas, mencakup ilmu metafisik maupun fisik, teks qur’aniyah maupun kauniyah tanpa adanya fragmentasi maupun dikotomi ontologis. Dengan basis ontologi ini, paradigma ini menuntut pluralitas epistemologis yang disesuaikan untuk mengkaji kedua jenis ayatullah (qauliyah dan kauniyah), yang diwujudkan melalui integrasi sumber ilmu dan mekanisme validasi pengetahuan (dialektika dan pluralistik). Dengannya, basis aksiologis yang diusung oleh paradigma ini memiliki dua orientasi nilai, yakni nilai ketuhanan dan nilai kemanusiaan sekaligus (humanisme teosentris). Dengan demikian, paradigma ini berusaha menjawab krisis ilmu modern dengan membangun koherensi antara ilmu naqli dan aqli di bawah satu naungan payung tauhid.

Referensi:

Dr. Adian Husaini Et. Al, Filsafat Ilmu; Perspektif Barat Dan Islam.

Dr. Muhyar Fanani M.ag, Buku Ajar Paradigma Kesatuan Ilmu Pengetahuan.

Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *