Review Buku Kiai Sahal dan Nyai Nafisah: Beriringan, Saling Mendukung dan Saling Menguatkan

Uncategorized51 Dilihat

“Kehidupan rumah tangga yang harmonis bukan dibangun oleh dominasi salah satu pihak, melainkan oleh kesediaan dua belah pihak untuk berjalan beriringan, saling mendukung, dan saling menguatkan”.

Di balik kiprah seorang tokoh besar, terdapat keluarga yang turut berperan dalam mendukung perjuangannya. Hal inilah yang diangkat dalam buku Kiai Sahal dan Nyai Nafisah: Beriringan, Saling Mendukung dan Saling Menguatkan. Buku ini menyuguhkan catatan tentang perjalanan inspiratif yang dibangun oleh Kiai Sahal Mahfudh dan Nyai Nafisah.

Judul : Kiai Sahal dan Nyai Nafisah: Beriringan, Saling Mendukung dan Saling Menguatkan
Penulis : Tutik Nurul Janah
Penerbit : Quantum, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, September 2022
Tebal : xiv + 124 halaman

Kiai Sahal Mahfudh dikenal sebagai ulama besar Indonesia, Rais Am PBNU, serta penggagas fikih sosial yang pemikirannya banyak mempengaruhi perkembangan Islam Indonesia. Berbagai karya telah mengulas pemikiran dan kiprah beliau di bidang keagamaan maupun sosial. Namun, buku Kiai Sahal dan Nyai Nafisah: Beriringan, Saling Mendukung dan Saling Menguatkan menawarkan perspektif yang berbeda. Buku ini tidak hanya menampilkan sosok Kiai Sahal Mahfudh sebagai ulama dan tokoh masyarakat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kehidupan rumah tangga beliau bersama Nyai Nafisah yang dibangun atas dasar kesalingan, dukungan, dan penghormatan satu sama lain.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu Kiai Sahal yang Saya Kenal, Nyai Nafisah yang Saya Kenal, Saling Mendukung dan Saling Menguatkan, serta Kiai Sahal dan Nyai Nafisah: Pancaran Uswah dan Kearifan.

Pada salah satu bagian buku ini, terdapat satu kisah yang membekas. Yaitu ketika Nyai Nafisah masih menjabat sebagai anggota DPD RI. Penulis menceritakan bahwa hampir setiap Kamis siang Kiai Sahal selalu menunggu kepulangan istrinya di ruang tamu. Melihat hal tersebut, penulis bertanya,

Pripun, Bah, rasane ditinggal ibuk teng Jakarta setiap minggu ngeten niki?” (bagaimana rasanya, ditinggal ibuk teng Jakarta setiap minggu begini?).

Kiai Sahal menjawab, “Yo ora kepenak.” (rasanya tidak enak).

Kemudian beliau menambahkan,

Ndek biyen ibumu yo… sering tak tinggali sibuk. Ibumu yo… sabar.” (Dahulu, ibumu [Nyai Nafisah] juga lebih sering saya tinggal sibuk bepergian, dan ibumu juga selalu bersabar).

Percakapan singkat ini menunjukkan bagaimana Kiai Sahal menghargai perjuangan Nyai Nafisah. Beliau tidak hanya menyampaikan gagasan tentang kesetaraan peran perempuan, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan memberikan dukungan kepada istrinya untuk menjalankan peran, baik di dalam keluarga maupun di ruang publik. Hal tersebut sejalan dengan pandangan Kiai Sahal yang tertulis pada buku ini pula, bahwa perempuan memiliki lima fungsi dan hak, baik dalam keluarga maupun masyarakat, yaitu sebagai istri, ibu, pendidik, juru dakwah, dan penggerak sosial.

Secara garis besar, buku ini mengisahkan perjalanan hidup Kiai Sahal dan Nyai Nafisah mulai dari latar belakang keluarga, proses pendidikan, perjalanan rumah tangga, aktivitas sosial, hingga cara mereka mendidik keluarga dan santri. Salah satu pesan utama yang ditonjolkan adalah pentingnya relasi suami-istri yang setara dan saling mendukung. Kiai Sahal tidak memandang istri hanya sebagai pengurus rumah tangga, melainkan sebagai partner kehidupan yang memiliki hak untuk berkembang, belajar, dan berkiprah di ruang publik. Hal ini tampak dari dukungan beliau kepada Nyai Nafisah untuk menyelesaikan pendidikan tinggi meskipun setelah menikah mereka harus menjalani hubungan jarak jauh selama beberapa tahun.

Nilai kesalingan dalam keluarga ini juga tercermin dari peran aktif Nyai Nafisah sebagai pendidik, pendakwah, pengasuh pesantren, organisatoris, dan tokoh perempuan di masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan rumah tangga dapat dibangun melalui kemitraan yang saling menghargai dan memberi ruang bagi masing-masing untuk berkontribusi, baik dalam keluarga maupun di ruang publik.

Pada akhirnya, buku Kiai Sahal dan Nyai Nafisah: Beriringan, Saling Mendukung dan Saling Menguatkan merupakan buku yang layak dibaca, khususnya oleh para santri dan mereka yang ingin mengenal lebih dekat sosok Kiai Sahal dan Nyai Nafisah. Selain menyajikan kisah kehidupan keduanya, buku ini juga memberikan gambaran mengenai nilai-nilai keteladanan yang diwariskan kepada keluarga, pesantren, dan masyarakat. Sebagaimana disampaikan oleh putra Kiai Sahal dan Nyai Nafisah, KH. Abdul Ghofarrozin, pada bagian belakang buku:

Mengetahui dan memahami sejarah pesantren dan para pendirinya, mutlak diperlukan oleh para santri. Buku ini hadir untuk memperkaya pengetahuan tentang sejarah para masyayikh pesantren. Kita semua dapat mengambil hikmah dari tindak-lampah dan uswah yang telah ditorehkan.

Kutipan tersebut menegaskan bahwa buku ini bukan sekadar dokumentasi sejarah keluarga, tetapi juga sarana untuk mengambil pelajaran dan keteladanan dari para masyayikh pesantren.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *