Dekontruksi Alam Ghaib: Telaah Kitab Kuning dan Tafsir Kritis terhadap Imajinasi Setan dan Pikiran Manusia

Kolom Santri1384 Dilihat

Pendahuluan

Konsep alam ghaib keberadaan mahluk-mahluk seperti jin dan setan telah lama menjadi bagian dari system kepercayaan umat islam,baik dalam doktrin keagamaan maupun dalam tradisi keilmuan klasik seperti kitab kuning.dalam tradisi pesantren, kitab-kitab seperti akamul marjan fi ahkamil jan karya Syekh Badrudin As-syibli, memuat deskrpsi tentang jenis-jenis jin,ifrit,hingga setan sebagai entitas yang nyata,hidup,dan berinteraksi denhgan manusia,namun dalam ranah pemikiran kritis kontemporer, muncul pertanyaan. Apakah alam ghaib dan setan benar-benar eksis secara objektif,ataukah mereka produk dari imajinasi manusia yang di pengaruhi oleh budaya,pisikolog,dan penafsiran teks?

Tulisan ini berupaya mendekonstruksikan pemahaman tentang alam ghaib dan keberadaan setan dengan cara membandingkan isi kitab dengan pendekatan tafsir modern dan teori pisikologi agama.tujuannya adalah menunjukan bahwa keberadaan setan bukan hanya mahluk ghaib secara literal,melainkan juga symbol kecenderungan destruktif dalam jiwa manusia yang di bentuk oleh kontruksi pikiran dan keyakinan kolektif

Tinjauan kitab kuning tentang alam ghaib dan setan

Kitab kuning sebagai warisan keilmuan klasik pesantren banyak memuat uraian rinci mengenai mahluk halus.dalam akamul marjan fi ahkamil jan,Syehk Badrudin As-Syibli  menyebutkan:

 

والشياطين: العصاة من الجن، وهم من ولد إبليس، والمردة أعتاهم وأقواهم

Setan adalah jin yang durhaka, yang merupakan anak keturunan Iblis. Sedangkan al-maraddah merupakan jenis jin yang paling sesat dan keblinger”

(Akamul Marjan, [Beirut, Darul Kutub Ilmiyah: t.t.], halaman 10).

Deskripsi ini menunjukan bahwasannya dalam literatur klasik,setan di tempatkan sebagai bagian dari hirarki jin, mahluk yang diciptakan dari api dan memiliki potensi baik maupun buruk.demikian pula,kitab-kitab seperti Tafsir Al-jalalain,Tafsir Al baghawi,hingga matan Ghoyah At- takqrib, merujuk pada kepercayaan akan keberadaan mahluk halus yang tak kasat mata dan dapat mempengaruhi manusia. Namun perlu dicatat bahwasan nya Sebagian besar kitab ini bersifat normatif-dogmatis, dan jarang sekali melakukan kritik epistemologis atas sumber-sumbernya. Keberadaan jin dan setan diasumsikan sebagai realitas objektif tanpa ruang tafsir alternatif.

 

Dekontruksi kritis: setan sebagai produk imajinasi mental seiring berkembang nya pendekatan tafsir kontekstual dan multidisipliner, para pemikir islam kontemporer seperti  Muhammad Asad dan Quraish Shihab mengajak para pembaca. Al_Quran,untuk memahami setan bukan hanya sebgai mahluk eksternal,melaikan juga symbol internal manusia. Dalam The Message of the Qur’an, Asad menyatakan bahwa: “Setan dalam Al Quran sering kali merupakan representasi dari dorongan batin manusia terhadap keburukan dan hawa nafsu.“ Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah juga menyebut bahwa “jin” dalam ayat-ayat tertentu dapat di tafsirkan sebagai mahluk yang tersembunyi,baik secara fisik maupun maknawi.dalam hal ini,setan bisa sajah di maknai sebagai refresentasi simbolik dari naluri destruktif manusia__seperti amarah,keserakahan, atau syahwat yang tak terkendali. Dengan pendekatan pisikologi agama, khususnya dalam teori kontruksi sosial, setan dapat dipandang sebagai “archetype” dalam pikiran kolektif manusia, seperti dijelaskan oleh Carl Jung. Ini berarti bahwa setan eksis bukan secara metafisik, tetapi secara psikologis sebagai proyeksi dari sisi gelap manusia yang membutuhkan personifikasi agar bisa “dilawan.”

Paradoks kitab kuning dan kritis rasional

Disatu sisi,kitab kuning memuat ajaran yang sangat literal mengenai eksistensi mahluk ghaib; disisi lain,tafsir kontekstual mencoba melampaui pemahaman harifiah tersebut.hal ini menimbulkan ketegangan epistimologis.apakah umat islam harus terus mempertahankan pemahaman literal tentang setan,ataukah mulai membuka ruang interpretasi simbolik?

Dalam CLD-KHI (Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam) misalnya terjadi upaya terhadap norma-norma fikih lama agar lebih sesuai dengan realitas sosial kultural saat ini.demikian pula, reinterpretasi tentang setan sebagai konstruksi pikiran membuka ruang bagi umat islam untuk memahami agama secara lebih mendalam dan rasional bukan sekedar mitologis.

Kesimpulan

Pemahaman tentang setan dan alam ghaib dalam kitab kuning adalah refleksi dari cara berfikir masyarakat islam klasik yang sangat di pengaruhi oleh dunia symbol,mitos dan pengalaman sepritual. Namun, dalam konteks modern, pemikiran kritis mengajukan pendekatan baru:bahwasanya setan adalah symbol internal dari sisigelap manusia, bukan mahluk ghaib literal. Dekontruksi ini bukan bertujuan mengingkari teks, tetapi menafsirkannya ulang agar lebih relavan dengan kesadaran dan psikologi manusia masa kini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *