Idul Fitri dirayakan setiap 1 Syawal, tepat setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadan. Sementara itu, Idul Adha jatuh pada 10 Zulhijah, bertepatan dengan pelaksanaan wukuf di Padang Arafah bagi jemaah haji di tanah suci. Secara makna, Idul Fitri dan Idul Adha juga memiliki filosofi yang berbeda. Idul Fitri memiliki filosofi mendalam yang meliputi kemenangan iman atas hawa nafsu, kesucian jiwa, dan rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Perayaan ini juga merupakan momen untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, serta memperbaiki hubungan antara manusia dengan Allah dan sesama. Idul Adha mengajarkan nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan, kesabaran, ketaatan, dan nilai berbagi sekaligus. Terdapat perintah untuk menyembelih hewan kurban dan melaksanakan ibadah haji yang wajib dilaksanakan bagi Anda yang memiliki kemampuan dari segi finansial maupun fisik.
Seperti kita ketahui, terkadang hari raya Idul Fitri atau Idul Adha jatuh pada hari Jumat. Misalnya saja yang terjadi pada tahun 2009, Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah 1430 H jatuh pada hari Jumat 27 Nopember 2009. Pada momen sebelum hari raya Idul Adha tahun 2025 kemarin ini saya sedikit tertarik dengan reels Instagram saya tentang hari raya, disitu terdapat sebuah komenan dari sesorang yang berisi “Ketika hari raya bertepatan dengan hari Jum’at dan sudah melaksanakan sholat Ied, apakah kewajiban sholat Jum’at sudah gugur ?” Dalam kalangan masyarakat saat ini pun banyak timbul pemahaman bahwa bila Hari Raya bertepatan dengan Hari Jumat maka tidak diwajibkan shalat jumat pada hari tersebut. Adapun dasar yang dijadikan sebagai pedoman dan alasan argumen di atas adalah pada masa Rasulullah dahulu pernah bertepatan Hari Raya dengan Hari Jum’at dan pada saat itu rasul memberikan keringanan (rukhsah) yaitu membolehkan suatu kaum untuk tidak melaksanakan shalat Jum’at.
Kemudian saya mencoba membaca beberapa artikel dan dalil-dalil dan terdapat beberapa jawaban yang cukup menarik. Yang berkesimpulan Bila Hari Raya bertepatan dengan hari jumat, terhadap orang yang rumahnya jauh dari masjid bila setelah menunaikan shalat Hari Raya ia pulang, maka tidak akan cukup waktu bagi mereka kembali lagi untuk melaksanakan shalat jum’at karena rumah mereka yang terlalu jauh dari mesjid, maka terhadap mereka dibolehkan untuk pulang dan tidak melaksanakan shalat jum’at.
ولو وافق العيد يوم جمعة فحضر أهل القرية الذين يبلغهم النداء لصلاة العيد ولو رجعوا إلى أهلهم فاتتهم الجمعة فلهم الرجوع وترك الأصح الجمعة يومئذ على فتستثنى هذه من إطلاق المصنف
- نعم لو دخل وقتها قبل انصرافهم كأن دخل عقب سلامهم من العيد فالظاهر كما قال شيخنا أنه ليس لهم تركها
(Mughnil Mughtaj)
(وان اتفق يوم عيد ويوم جمعة فحضر أهل السواد فصلوا العيد جاز ان ينصرفوا ويتركوا الجمعة لما روى عن عثمان رضي الله عنه انه قال في خطبته ” ايها الناس قد اجتمع عيدان في يومكم فمن أراد من اهل العالية ان يصلي معنا الجمعة فليصل ومن اراد ان ينصرف فلينصرف ” ولم ينكر عليه احد ولانهم إذا قعدوا في البلد لم يتهيؤا بالعيد فان خرجوا ثم رجعوا للجمعة كان عليهم في ذلك مشقة والجمعة تسقط بالمشقة ومن اصحابنا من قال تجب عليهم الجمعة لان من لزمته الجمعة في غير يوم العيد وجبت عليه في يوم العيد كأهل البلد والمنصوص في الام هو الاول
(Majmu’ Syarah Muhadzzab)
Yang berarti rukhsoh meninggalkan sholat jum’at Ketika hari raya bertepatan dengan hari Jum’at tidak benar, karena pada zaman itu Rasulullah SAW memberikan keringanan pada suatu kaum disebabkan jauhnya antara masjid dengan desa dari kaum tersebut, jika sudah melaksanakan sholat Ied lalu Kembali ke desanya maka kaum tersebut tidak memungkinkan untuk Kembali lagi ke masjid untuk melakukan sholat Jum’at. Sedangkan pada zaman sekarang masyaqqoh (keberatan) tersebut hampir tidak ada karena banyaknya masjid-masjid dan mudahnya akses seseorang dari desanya menuju masjid terdekat.






