Jiwa Santri Untuk Negri

Kolom Santri841 Dilihat

Jiwa Santri Untuk Negri

 Oleh: Anittabi’ Millata Hanifa

Indonesia dengan segala kearifannya memang sangat menarik perhatian, jika kita dapat menelusuri lebih dalam, akan ada hal-hal yang cukup membuat mata kita terbuka akan kearifan lokal Indonesia. Salah satu kearifan yang harus diketahui banyak orang adalah lembaga pendidikan dengan basis agama yang kita sebut pesantren, sedangkan orang yang menimba ilmu dalam lembaga tersebut disebut santri. Pesantren didirikan dengan membawa misi keagamaan, para pendahulu kita merumuskan pemikiran bahwasanya cinta tanah air merupakan sebagian dari iman. Dalam hal ini, implikasi keimanan dapat dibuktikan salah satunya dengan kecintaan kita terhadap tanah air. Sejak awal berdirinya pesantren, santri dididik agar menjadi manusia yang  secara umum, dapat menjadi khalifah di bumi dengan tugasnya yaitu imaratul ardl.

Hingga saat ini,  meskipun tidak semua orang memilih untuk menjadi santri yang notabene belajar, beradaptasi dan berinteraksi langsung dengan lingkungan pesantren. Namun, seluruh kalangan mulai menyadari kontribusi pesantren dan eksistensinya, sehingga mulai berdatangan santri-santri dari berbagai kalangan. Adanya UU No. 18 Tahun 2019 yang mengatur tentang pesantren juga menjadi apresiasi kesadaran akan kontribusi dan keberadaan pesantren sejak sebelum Indonesia merdeka. Sebelum adanya kesadaran tersebut, pesantren mengalami keterbatasan lingkup formal, para alumni pesantren akan dibatasi kontribusi sosial begitu juga formalnya, sehingga berdampak pada ruang gerak santri di bidang formal. Tindakan ini seolah menafikan potensi kematangan santri yang sudah melalui proses-proses pembiasaan oleh pesantren.

Dalam perkembangannya, kehidupan pesantren tidak melulu soal mengaji di langgar atau pembelajaran yang bersifat dogmatik saja, melalui interaksi yang lebih dalam lagi, dapat ditemukan adanya pembiasaan-pembiasaan karakter dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan ini dimulai dari hal terkecil seperti berbicara dan berperilaku menggunakan tata krama dengan sopan hingga hal-hal penting seperti ketertiban dalam berkegiatan, melalui pembiasaan ini, santri dirancang memiliki karakter mandiri dan bertanggung jawab. Pembiasaan dalam bentuk manajemen organisasi juga dilakukan agar santri di masa depan dapat ikut berkiprah di masyarakat. Dalam hal ini, penulis mencoba mengaplikasikan contoh langsung melalui adanya kegiatan-kegiatan pesantren meliputi acara haul dan lain-lain. Pesantren akan menyerahkan seluruh konsep penyelenggaraan acara kepada santri, tentunya  dari pesantren akan memberikan bimbingan, namun dari sesi persiapan, pelaksanaan, hingga yang bertugas di lapangan semuanya menjadi tugas santri. Tidak hanya itu, setelah pelaksanaan acara selesai, mereka para santri akan dimintai pertanggungjawaban dari tugas yang sudah dilakukan.

Dari hal ini, dapat terlihat beberapa sisi pesantren, dalam hal pendidikan karakter melalui pembiasaan yang berorientasi pada kontribusi di masa depan. Pertama, melalui pembiasaan ini, terdapat sisi tanggung jawab untuk menjalankan tugas dengan baik dan maksimal, sehingga tidak akan merasa gugup menghadapi tugas yang lebih besar tantangannya di masa depan. Kedua, sebagai bentuk khidmah santri pada pesantren. Ketiga, pembentukan karakter yang berorientasi pada kedisiplinan, dengan menyelesaikan tugas tepat waktu dengan hasil yang tidak mengecewakan. Keempat, pesantren sebagai perwujudan masyarakat dalam skala yang lebih kecil secara alami akan mengajarkan santri untuk berinteraksi dan bekerjasama dengan orang banyak.

Pesantren dengan misinya berusaha menjadikan pola pikir santri agar tidak berfikir dari satu sisi saja. Seorang santri tidak akan mati-matian mengejar hal duniawi, jika pada akhirnya hal yang bersifat ukhrawi akan tertinggal. Begitu juga dengan segala langkah santri di masyarakat, segala sesuatu tidak lain hanya akan diniatkan secara hakiki. Lebih lagi jati diri seorang  santri tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh pembentukan dan pembiasaan di pesantren, sehingga diharapkan atas segala kontribusinya, kaum santri akan selalu siap menyumbangkan jiwa dan tenaga untuk negri tercinta.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *