Kesehatan Pesantren melalui Pendidikan Lingkungan Hidup

Kolom Santri722 Dilihat

Pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam, memiliki peran sentral dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya berilmu tetapi juga berakhlak mulia. Namun, perhatian terhadap aspek kesehatan di pesantren sering kali menjadi isu yang terabaikan. Padahal, Kesehatan menjadi salah satu aspek krusial dalam menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Selain pendidikan, lingkungan yang bersih dan sehat juga berperan penting dalam mendukung perkembangan santri secara optimal.[1]

Lingkungan pesantren yang padat, dengan banyak santri yang tinggal bersama dalam satu area, memiliki tantangan tersendiri terkait kesehatan. Kondisi sanitasi, kebersihan lingkungan dan akses terhadap air bersih menjadi beberapa faktor yang memengaruhi kualitas hidup santri. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, seperti penyebaran penyakit menular.

Dalam pandangan fiqih lingkungan setiap jiwa dan ragaa makhluk hidup adalah hal yang mulia. Oleh sebab itu perlu adanya penjagaan dan perlindungan yang senantiasanya dijalankan pada setiap makhluk hidup.[2] Penjagaan tersebut tentu melibatkan penjagaan lingkungan hidup sebagai tempat berlangsungnya kehidupan.  Di pesantren, hal ini diwujudkan dengan menciptakan lingkungan yang sehat secara fisik, mental, dan spiritual bagi semua penghuninya.

Pelestarian lingkungan pesantren menjadi salah satu wasilah mewujudkan kesehatan di pesantren. Kiai Sahal menawarkan konsep pelestarian alam melalui pendidikan lingkungan hidup di pesantren. Menurut beliau upaya pembinaan lingkungan hidup dapat dilakukan dengan dua pokok pendekatan. Pertama, pendekatan proyek, dan kedua, pendekatan motivasi, atau keduanya sekaligus dilakukan secara terpadu.[3]

Pendekatan proyek berarti sebuah metode pembelajaran dalam pendidikan yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Pendekatan ini melibatkan pelaksanaan program-program konkret seperti penanaman pohon, pembuatan taman, pengelolaan sampah, dan pembangunan fasilitas ramah lingkungan. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada santri dalam merawat dan menjaga lingkungan.[4]

Pendekatan motivasi berarti sebuah metode pembelajaran dalam pendidikan yang berfokus pada pemberian motivasi pada sasaran (santri) yang bertujuan untuk menanamkan kesadaran dan semangat menjaga lingkungan, Pemberian motivsi tersebut dapat dilakukan melalui ceramah, diskusi, dan pelatihan, Pendekatan ini berfokus pada pembentukan sikap dan perilaku positif terhadap lingkungan.[5]

Pendekatan kolaboratif, yaitu kombinasi antara pendekatan motivasi dan provek. Pendekatan ini memungkinkan pesantren untuk tidak hanya mengajarkan pentingnya pelestarian lingkungan tetapi juga memberikan contoh konkret dan pengalaman praktis, sehingga hasilnya lebih komprehensif dan efektif.[6]

Pendekatan-pendekatan tersebut dapat dikembangkan menjadi langkah-langkah konkrit yang dapat dijalankan di pesantren, sebagaimana gagasan berikut:

  1. Integrasi kurikulum; meliputi penyisipan materi tentang lingkungan hidup dalam mata pelajaran agama dan umum, pengajaran interdisipliner dan pengembangan modul khusus tentang pendidikan lingkungan hidup.
  2. Program lingkungan: meliputi penghijauan lingkungan pesantren dengan menanam pohon dan tanaman hias disekitar pesantren, pengelolaan sampah yang efektif seperti memilah sampah organik dan anorganik, pemanfaatan limbah plastik misalnya ecobrick. Serta penggunaan energi terbarukan seperti PLTS (Pembangkit listrik Tenaga Surya).
  3. Pembinaan dan pelatihan; meliputi ceramah dan diskusi mengenai lingkungan, pelatihan praktis seperti pembiasaan merawat tanaman melalui piket harian di pesantren.
  4. Keteladanan; meliputi pencontohan langsung dari pengajar dan pengurus pesantren, serta mengkomunikasikan pentingnya menjaga lingkungan kepada seluruh warga pesantren.

Sebagai lembaga yang memiliki fungsi pendidikan, sosial, dan keagamaan, pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi model dalam membangun kesadaran kesehatan yang holistik. Jika kesehatan santri terjaga, proses pendidikan akan berjalan dengan lebih baik, sehingga pesantren mampu melahirkan generasi yang sehat, produktif, dan berdaya guna bagi masyarakat.[7]

Dalam perspektif ini, kesehatan pesantren bukan sekadar isu teknis, melainkan bagian integral dari misi besar pesantren sebagai agen perubahan. Dengan memperhatikan kelestarian lingkungan yang bersinggungan pada kesehatan, pesantren tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara intelektual tetapi juga tangguh secara fisik dan mental. Inilah langkah awal menuju kesejahteraan dunia dan akhirat, sebagaimana yang diidealkan oleh ajaran Islam.

[1] Dwitri Waluyo, Mewujudkan Santri Sehat dan Sejahtera,  https://indonesia.go.id/kategori/editorial/8572/mewujudkan-santri-sehat-dan-sejahtera?lang=1, Akses, 31 Desember 2024, pukul 12.46.

[2] Wahyu Agung Utama, “Tinjauan Maqashid Syariah Dan Fiqh Al-Bi’ah Dalam Green

Economy”, Jurnal Ekonomi Islam, No. 2, Vol. 10, 2019. Hlm. 250.

[3] Sahal Mahfudh, Nuansa Fikih Sosial, (Yogyakarta; LKiS, cet. VII, 1994), hlm. 392.

[4] Sholahuddin, Pemikiran Lingkungan Hidup KH. MA Sahal Mahfudh, (Yogyakarta; Aswaja Pressindo, Cet. 1, 2020). Hlm. 46.

[5] Ibid, hlm. 48.

[6] Ibid, hlm. 50.

[7] Sahal Mahfudh, Nuansa Fikih Sosial, (Yogyakarta; LKiS, cet. VII, 1994), hlm. 390.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *