Kritik Episteologi dalam Konstruksi Keilmuan

Kolom Santri235 Dilihat

Epistemologi menempati posisi penting dalam konstruksi keilmuan karena ia menentukan bagaimana pengetahuan diperoleh, divalidasi guna mencapai suatu kebenaran.[1] Setiap konstruksi keilmuan tidak lahir dari ruang hampa, melainkan ia muncul dari asumsi-asumsi epistemologis. Namun dalam perkembangan ilmu modern, sering terjadi satu sudut pandang (paradigma epistemik) dan diklaim universal. Paradigma ini mengatasnamakan objektivitas, seolah-olah ia bebas, netral, dan tidak dipengaruhi budaya, sejarah dan lain sebagainya. Padahal realita manusia itu beragam: suku, ras, agama. Karena itu, kritik epistemologis perlu dilakukan agar tidak memaksakan satu sudut pandang dan bisa berinteraksi dengan kenyataan manusia yang majemuk.

Mengenai definisi, ada banyak pemaknaan dari epistemologi. Yang paling mudah adalah epistemologi merupakan metode ilmiah.[2] Dalam realitanya, kerangka epistemologi tertentu sering berkembang secara dominan. Sering kali dalam proses membangun dan mengembangkan suatu keilmuan, terdapat masalah pada metode ilmu tersebut. Misalnya klaim tentang kebenaran objektivitas tunggal, sehingga sudut pandang lain diabaikan. Selain itu, cara berpikir banyak dipengaruhi aliran saintisme dan eurocentrisme yang menghegemoni dan menyempitkan cara berpikir ilmiah. Akibatnya pengetahuan keagamaan, tradisional, dan lokal sering dianggap tidak objektif dan rasional.[3]

Kritik epistemologi hadir untuk menepis asumsi-asumsi tersebut. Kritik ini menolak kebenaran tunggal dan menegaskan bahwa setiap konstruksi keilmuan tidak lepas dari konteks sosial, budaya, sejarah, dan ideologis. Suatu ilmu seharusnya bisa berdialog dengan berbagai paradigma keilmuan lain, bukan saling mengklaim kebenaran tunggal.

Kritik epistemologi menegaskan bahwa ilmu pengetahuan perlu dikembangkan secara terbuka dan selaras dengan konteks, bukan hanya kebanaran data dan akal semata. Dengan demikian suatu ilmu akan bisa berinteraksi dengan baik dan bermanfaat bagi manusia. Pada akhirnya, kritik epistemologi bukanlah suatu penolakan terhadap ilmu pengetahuan, melainkan suatu pengembangan bagi ilmu itu sendiri. Pada akhirnya, konstruksi keilmuan diharapkan menjadi lebih adil, dialogis. Walahu ‘alam biṣawāb.

Referensi:

[1] Biyanto, Filsafat Ilmu dan Ilmu Keislama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), Hlm 158

[2] Ibid, hlm 158.

[3] Contoh pola pikir saintisme yang menghegemoni dan menyempitkan pengetahuan keagamaan adalah kebenaran tentang isra’ mi’raj. Kaum saintisme akan mengatakan itu mustahil karena bertentangan dengan ilmu-ilmu sains, sedangkan pengetahuan agama sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *