Menjadi Pendidik yang Humanis namun Tetap Menjaga Integritas dan Batas Teritorial Moral

Kolom Santri172 Dilihat

Akhir-akhir ini dunia pendidikan kita dikejutkan dengan berbagai berita yang menggelitik tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi antara guru dan murid.  Ada yang dipicu oleh murid yang tidak memiliki rasa hormat terhadap guru atau bahkan sebaliknya yakni guru yang belum dapat menunjukkan profesionalitasnya sebagai guru. Hal semacam ini seharusnya tidak layak terjadi di dunia pendidikan. Di mana lingkungan tersebut adalah tempat manusia selayaknya membentuk jati dirinya dengan adab dan ilmu.

Mari kita mencoba menelisik apa yang sebenarnya terjadi? Jika kita mencari padanan, maka hubungan antara guru dan murid adalah sebanding dengan hubungan antara orang tua dan anak. Relasi tersebut adalah relasi yang sangat istimewa. Di mana guru menjadi orang tua kedua setelah mereka memiliki orang tua kandung pada waktu sebelumnya. Maka peran guru adalah menjadi  orang tua ideologis bagi para muridnya. Sehingga guru dalam hal ini menjadi salah satu bagian dari orang tua kita.

Bahkan disebutkan dalam beberapa sumber Islam. Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Orang tuamu ada tiga, yaitu ayah yang menjadi sebab kelahiranmu (orang tua biologis), orang tua yang mengawinkanmu dengan anak gadisnya (mertua), dan orang tua yang mengajarimu ilmu, dan dialah (yang ketiga) yang utama di antara mereka”.

Imam Al-Ghazali juga menekankan pentingnya menghormati orang tua, termasuk guru, sebagai bagian dari etika Islam. Di dalam sebuah hadits telah dinyatakan bahwa:

رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِم

Dari hadits di atas disebutkan bahwa ridho orang tua mempengaruhi ridho Allah. Jika guru menjadi bagian dari orang tua, maka mencari ridhonya bagi  murid adalah penting untuk keberkahan ilmunya.

Dan jika sepenting itu peran guru, maka guru pun harus berupaya memantaskan dirinya untuk layak menyandang gelar menjadi orang tua yang bijaksana dan berwibawa untuk mampu memberi ridho pada muridnya.

Guru yang seharusnya dihormati, perlu menunjukkan kewibawaan dirinya. Sehingga penghormatan yang diberikan kepadanya tidak dengan alasan keterpaksaan dari murid,namun penghormatan itu muncul seiring dengan kewibawaan yang menyertai pada diri guru tersebut.

Dengan memiliki kewibawaan tidak lantas guru menjauh dari murid. Guru perlu dekat dengan murid, namun juga perlu menjaga jarak profesional dengan mereka. Sehingga antara keduanya mengerti akan perannya masing-masing. Yakni murid dapat menghormati gurunya dan guru juga bisa menyayangi muridnya dengan porsi yang benar. Seorang guru bukan sekadar pengajar yang berdiri di depan papan tulis. Ia adalah sosok yang kehadirannya ditunggu untuk dapat memberi rasa aman, nyaman, dan harapan terhadap muridnya.

Murid datang ke sekolah bukan hanya membawa buku dan alat tulis, tetapi juga membawa perasaan, persoalan, dan pencarian jati diri.Mereka juga datang dari lingkungan yang berbeda-beda. Maka di  sinilah keramahan guru memainkan peran penting. Guru yang ramah membuat kelas terasa hidup, pembelajaran terasa menyenangkan, dan sekolah menjadi tempat yang dirindukan.

Keramahan guru bukanlah  sikap dibuat-buat. Ia datang  dari senyum yang tulus, sapaan hangat, kesediaan mendengarkan, serta cara memperlakukan murid sebagai manusia seutuhnya. Guru yang humanis memahami bahwa setiap murid memiliki latar belakang, karakter, dan persoalan yang berbeda. Dengan pendekatan yang ramah, murid merasa dihargai dan diterima. Dari rasa nyaman itulah tumbuh kepercayaan, yang menjadi fondasi penting dalam proses belajar. Dari kepercayaan inilah muncul kewibawaan.

Sehingga bisa kita simpulkan bahwa peran guru tidak berhenti sebagai sumber ilmu pengetahuan. Namun guru juga menjadi figur orang tua kedua bagi muridnya, bahkan tidak jarang menjadi tempat murid mencurahkan isi hati. Khususnya bagi murid remaja yang sedang berada pada fase pencarian jati diri.

Mereka membutuhkan sosok dewasa yang bisa dipercaya untuk mendengarkan keluh kesah, memberi nasihat, dan menuntun tanpa menghakimi. Di titik inilah komunikasi antara guru dan murid menjadi sangat penting. Namun, di balik pentingnya kedekatan tersebut, terdapat garis batas yang tidak boleh diabaikan. Guru yang ramah bukan berarti guru yang kehilangan jarak.

Kedekatan guru dan murid harus tetap berada dalam koridor etika dan tujuan pendidikan. Guru tetaplah guru, sosok yang memiliki peran, tanggung jawab, dan wibawa. Ketika batas ini kabur, relasi yang semula sehat bisa berubah menjadi masalah.

Seakrab-akrabnya hubungan guru dan murid, sikap saling menghormati dan menghargai harus tetap dijaga. Komunikasi yang terlalu bebas, candaan yang berlebihan, atau interaksi yang keluar dari konteks pendidikan berpotensi menurunkan muruah guru. Pada saat yang sama, murid bisa kehilangan rasa hormat, bukan karena murid sepenuhnya salah, tetapi karena batasan tidak ditegaskan sejak awal.

Tidak sedikit kasus kekerasan atau pelanggaran norma di dunia pendidikan bermula dari hubungan yang kebablasan. Ada yang diawali dari kedekatan yang terlalu personal, relasi kuasa yang disalahgunakan, hingga komunikasi yang tidak sehat. Dalam beberapa kasus, wibawa guru perlahan luntur, sementara murid merasa memiliki ruang untuk bersikap kurang sopan, bahkan melampaui batas.

Lebih memprihatinkan lagi, ada pula kasus di mana keramahan justru disalahgunakan untuk melakukan eksploitasi atau kekerasan, baik fisik, psikis, maupun seksual. Hal ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa menjaga muruah guru bukanlah soal menjaga jarak secara kaku, tetapi menjaga etika secara sadar. Guru perlu memiliki kepekaan untuk membaca situasi.

Ketika interaksi mulai terasa tidak nyaman, tidak pantas, atau keluar dari tujuan pendidikan, guru harus berani bersikap tegas. Tegas bukan berarti kasar, tetapi jelas dan konsisten dalam menegakkan aturan serta norma.

Menegur murid yang mulai bersikap kurang sopan adalah bagian dari pendidikan karakter. Murid perlu diajarkan bahwa menghormati guru bukan karena takut, tetapi karena memahami posisi dan peran masing-masing. Ketegasan guru justru menjadi bentuk kepedulian agar murid tumbuh dengan nilai dan adab yang baik.

Keramahan guru sejatinya adalah kekuatan, bukan kelemahan. Namun, keramahan itu tidak boleh disalahartikan sebagai kelonggaran tanpa batas. Guru seharusnya mampu bersikap hangat sekaligus berwibawa. Ia bisa menjadi pendengar yang baik tanpa kehilangan kehormatan. Ia bisa dekat tanpa melanggar batas.

Jika guru telah mampu bersikap dan memberi contoh teladan maka kewibawaan akan muncul dengan sendirinya. Murid akan menghormati serta meneladani guru dengan sendirinya tanpa harus dipaksa. Dan dari sinilah akan terwujud relasi yang sehat antara guru dan murid.

Keramahan tanpa etika berpotensi melukai, sementara ketegasan tanpa empati bisa menjauhkan. Keseimbangan antara keduanya adalah kunci. Ketika guru mampu menjaga keseimbangan itu, harga diri profesi tetap terjaga, murid terlindungi, dan pendidikan berjalan sesuai marwahnya.

Menjadi guru memang bukan perkara mudah. Namun, dengan kesadaran, refleksi, dan komitmen untuk menjaga nilai-nilai luhur pendidikan, guru dapat tetap menjadi sosok yang dicintai tanpa kehilangan kehormatan. Ramah dalam sikap, tegas dalam prinsip, dan luhur dalam adab.

Itulah wajah guru yang diharapkan, ramah tetapi tidak terjamah sehingga muruah pendidikan akan tetap terjaga.

Katur guru-guru kami lahum Alfatihah.

Referensi:

  • Al-Ghazali, Abu Hamid. (2011). Ihya’ Ulumuddin. Beirut: Dar al-Ma’rifah. Jilid 1, Hal. 55–56 (Bab Adab al-Mu’allim)
  • Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim KH. Hasyim Asy’ari 2014 (Ediisi Baru) Menjaga muru’ah (harga diri) dan etika guru.
  • N. Arifin and A. Ichsan, “Al-kitab Tazkiratu Al-Sami’i Wa Al-Mutakallimi Fi Adabi Al-Alimi Wa Al-Muta’allimi Imam Ibnu Jama’”
  • I. Taulabi, L. Adnan, and S. Ubaidila, “Etika Guru dalam Pandangan KH. Hasyim Asy’ari: Studi atas Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim di Era Disrupsi,” Dec.2024
  • Mustofa, M. (2019). Adab Guru dan Murid dalam Kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’allim.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *