Pemandangan ribuan orang melantunkan sholawat di lapangan terbuka, diiringi suara sound system yang megah dan sorot lampu panggung, bukanlah hal yang asing di Indonesia. Sholawatan kini hadir dalam wajah baru yang spektakuler. Di Indonesia tradisi yang dulu akrab dengan langgar dan mushalla ini telah memasuki ruang-ruang publik dengan format festival. Transformasi ini memunculkan pertanyaan penting: sholawatan hari ini, ritual atau festival? Atau, barangkali lebih penting: adakah yang hilang saat zikir kolektif dikemas seperti konser?
Dari Kesakralan ke Kespektakuleran.
Secara historis, sholawatan adalah bentuk ritual dalam Islam Nusantara. Ia hidup dalam tradisi pesantren dan tarekat, sebagai ekspresi cinta kepada Nabi sekaligus sarana perenungan spiritual. serupa dijelaskan oleh Syekh Murtadha Az-Zabidi :
Perlindungan Lingkungan dan Keamanan Rumah Tangga yang Aman Pengoperasian Perangkat Keras yang Dapat Diandalkan
Artinya, “Merenungkan makna sholawat kepada Nabi SAW akan melahirkan kecintaan dan keteladanan, karena mengetahui keutamaan dan kekayaan beliau mengharuskan pengagungan dan kecintaan kepada beliau, sedangkan mencintai beliau menuntut untuk mengikutinya.” (Tajrid Syarh Al-Ihya, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah], Jilid 1, 2007, hal. 145).
Namun ketika dibawa ke panggung besar dengan lampu, drone, sholawat bergema lewat pengerasan suara dan ribuan kamera ponsel merekam setiap momen, ada perubahan signifikan, dari kesakralan menuju kespektakuleran. Spiritualitas tidak lagi hanya soal rasa batin, tapi juga soal visualitas, euforia, dan citra.
Kita menyaksikan festivalisasi agama yaitu upaya menjadikan peristiwa keagamaan menarik secara emosional, estetik, dan viral. Tidak salah jika sebagian menganggap ini sebagai cara baru mendekati generasi muda pada agama. Namun kita tidak bisa menutup mata bahwa pada saat yang sama, hal ini juga membuka peluang bagi komodifikasi spiritualitas. Majelis merchandise, konten media sosial, branding habib, bahkan kerja sama dengan sponsor atau lembaga politik, semuanya menunjukkan bahwa sholawatan hari ini telah menjadi bagian dari ekosistem industri budaya.
Komodifikasi Cinta Nabi?
Pertanyaannya bukan sekedar salah atau tidak, tapi yang lebih mendasar: apa dampaknya bagi makna? Saat cinta kepada Nabi dipresentasikan dalam format konsumsi massal, adakah risiko bahwa yang tersisa bukan lagi zikir, melainkan hanya kemasan? Ketika spiritualitas bergantung pada sound system dan lighting, bagaimana nasib ruang-ruang kecil tempat sholawat dulu tumbuh dari kenyamanan dan penghayatan?
Bahaya lain dari festivalisasi ini adalah menguatnya identitas politik. Banyak acara sholawatan hari ini menjadi bagian dari konsolidasi sosial-politik. Tokoh-tokoh agama menjadi selebriti sekaligus simbol identitas kelompok. Dalam beberapa kasus, sholawatan digunakan untuk membangun loyalitas masyarakat terhadap tokoh tertentu atau menyampaikan pesan politik secara simbolik. Agama, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi ekspresi iman, tetapi juga alat mobilisasi dan pencitraan.
Antara Ritual, Festival, dan Kritik Diri
Semua ini tidak serta-merta salah. Tradisi memang hidup, dan agama selalu berdialog dengan zamannya. Festivalisasi bisa menjadi jembatan antara spiritualitas dan budaya populer. Namun ia juga membawa konsekuensi, semakin kuat logika media dan pasar, maka semakin besar juga risiko memahaminya pengalaman batin. Sholawatan bisa tetap menjadi ritual jika ia mempertahankan unsur-unsur spiritualitasnya seperti, kehadiran, penghayatan, dan keterhubungan dengan Ilahi. Namun ia juga bisa menjadi festival tok, jika yang dominan hanyalah formasi massa, visualisasi, dan performa.
Di perlunya kritik diri. Kita butuh ruang untuk bertanya, apakah kita masih menyimak makna sholawat, atau hanya memburunya sebagai suasana? Apakah cinta Nabi dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari, atau cukup kita rayakan di atas panggung?
Penutup: Menjaga Makna dalam Keramaian.
Fenomena sholawatan hari ini adalah cermin dari tantangan umat Islam modern yaitu bagaimana cara menjaga kekhusyukan dalam dunia yang serba cepat, visual, dan bising. Kita tidak bisa menghindari transformasi budaya, tapi kita bisa menentukan sikap, apakah akan larut dalam keramaian, atau tetap menghadirkan keheningan di tengah festival. Sholawat bukan milik panggung atau mushalla saja. Ia adalah jembatan antara hati manusia dan Rasulnya. Maka, dalam bentuk apa pun ia hadir, pertanyaannya selalu sama, masihkah sholawatan bisa menyentuh jiwa, atau hanya suasana menyenangkan?






