Toleransi Daging Kurban untuk Non Muslim dan Menerima Sembelihan Non Muslim

Kolom Santri1018 Dilihat

Indonesia merupakan suatu negara yang mayoritas warga negaranya menganut agama islam hal ini tentu tidak menafikan daerah-daerah tertentu yang penduduknya dominan non muslim. Ada hal-hal yang sering kali kerap terjadi diantara keduanya, seperti santunan-santunan yang diberikan oleh non muslim pada umat muslim yang dirasa kurang mampu adapula sebagai bentuk rasa syukur mereka dihari raya seperti membagi angpau atau hadiah-hadiah dihari natal juga sebaliknya. kali ini mari paparkan sedikit mengenai hal-hal tersebut namun fokus pada dua masalah yaitu

  1. Pandangan fiqih mengenai pembagian daging qurban kepada non muslim dalam bingkai toleransi?
  2. Hukum menerima hasil sembelihan non muslim dalam pandangan fikih dalam bingkai toleransi?

Markibah (mari kita bahas) dari Asas bertoleransi

Dengan melihat konteks yang terjadi dilapangan maka sebelum masuk lebih dalam pada pembahasan dua masalah diatas maka seyogyanya patut diperhatikan  sedikit hal mengenai toleransi itu sendiri dimana toleransi telah menjadi kepatutan dan termasuk ajaran yang berada dalam setiap pemeluk agama terlebih bagi umat islam sebagai mayoritas di Negara Indonesia ini, Tertuang dalam buku Nuansa Fikih Sosial :

Disiplin sosial secara sosiologis dapat diartikan sebagai suatu proses atau keadaan ketaatan umum atau dapat juga disebut sebagai “ketertiban umum Ketertiban itu sendiri merupakan aturan mu’âsyar antarmasyarakat, baik yang ditentukan oleh peru dang-undangan maupun yang tidak tertulis, hasil bentukan dari suatu kultur atau budaya. Dapat juga,ia merupakan nilai-nilai yang berlaku, baik orientasi pada budaya maupun agama.

Bagi Islam, bentuk disiplin sosial adalah kesadara menghayati dan melakukan hak dan kewajiban bagi para pemeluknya, baik dalam sikap, perilaku, perkataan,perbuatan, maupun pemikiran. Dalam hal ini, di dalam Islam dikenal ada huquq Allah (hak-hak Allah) dan huquq al-Adami (hak-hak manusia). Sedangkan hak hak manusia pada hakikatnya adalah kewajiban kewajiban atas yang lain. Bila hak dan kewajiban masing-masing bisa dipenuhi, maka tentu akan timbul sikap-sikap sebagai berikut:

Solidaritas sosial (at-takaful al-ijtina), toleransi (at-tasamuh), mutualitas/kerja sama (at-ta’down), tengah tengah (al-i’tidal), dan stabilitas (ats-tsabat).

Sikap-sikap itu merupakan disiplin sosial sangat erat hubungannya dengan ajaran Isiam yang yang mempunyai cakupan luas seluas aspek kehidupan, yang berarti bahwa Islam sebenarnya mampu menjadi sumber referensi nilai bagi bentuk-bentuk kehidupan sosial. Lebih dari itu, mengaktualisasikan sikap-sikap itu dengan motivasi ajaran dan perintah agama, berarti melakukan ibadah. Disiplin sosial dapat juga identik dengan ibadah dalam Islam (dengan amal)

Dari uraian pada ketiga kerangka di atas, dapat lah diambil kesimpulan bahwa masalah-masalah sosial keagamaan Islami meliputi semua aspek kehidupan sosial. Sementara itu, ajaran Islam telah meletakkan landasan yang kuat dan fleksibel bagi sikap dan perilaku dalam disiplin sosial.

Pendidikan ke arah itu sebenarnya implisit masuk dalam pendidikan Islam. Karena pendidikan Islam seutuhnya yang menyangkut iman (aspek akidah),Islam(aspek syari’at), dan ihsan (aspek akhlak, etika,dan tasawuf) akan berarti melibatkan semua aspek ruhani dan jasmani bagi kehidupan manusia, sebagai makhluk individual maupun makhluk sosial.

Pada Pelaksanaannya prinsip-prinsip (kerukunan antar umat beragama) sebagaimana yang ada di Indonesia (dapat) diklasifikasi berdasarkan status sosial seorang Muslim di tengah masyarakatnya:

  1. Sebagai anggota dan warga masyarakat

Pemeluk agama Islam sebagai anggota dan warga masyarakat di mana pun mereka berada, tidak lepas dari bertetangga, berteman dan bermitra dengan pemeluk agama lain, di samping juga bergaul dengan warga masyarakat yang seagama. Ketenteraman, ketertiban, keamanan dan kemakmuran hidup adalah merupakan kebutuhan yang mesti diciptakan, walaupun suatu saat kita harus betetangga, berteman dan bermitra dengan pemeluk agama lain dengan tidak melanggar batas batas syariat.

  1. Sebagai pimpinan ormas keagamaan dan tokoh agama

Seorang Muslim yang dipercaya sebagai pimpinan ormas atau dijadikan sebagai tokoh agama/masyarakat, memiliki kewajiban dan tugas lebih besar dibanding orang Muslim yang bukan pemimpin/tokoh. Sebagai pemimpin dan tokoh  mereka harus menjadi yang terbaik dalam menjalankan ketentuan dan prinsip menjalin kerukunan antarumat beragama di atas, karena mereka adalah teladan sekaligus pelindung dan pembimbing anggota masyarakatnya. Oleh karena itu, mereka berkewajiban memberi penjelasan dan pembinaan yang cukup kepada umat yang dipimpinya agar kualitas umat Islam dalam beragama semakin mantap serta militan dan dalam saat yang sama umat Islam juga sadar akan perlunya kerukunan antar umat beragama secara benar. Nabi Ibrahim diperintahkan Allah subhanahu wata’ala. untuk berbuat baik kepada seluruh manusia tanpa mempermasalahkan perbedaan agama, dalam risalatu al-qusayriyah juz 2 hal 381 dikatakan :

سمعت بعض العلماء يقول: استضاف مجوسي إبراهيم الخليل عليه السلام فقال: بشرط أن تسلم فمر المجوسي فأوحى الله تعالى إليه: منذ خمسين سنة نطعمه على كفره فلو ناولته لقمة من غير أن تطالبه بتغيير دينه فمضى إبراهيم عليه السلام على أثره حتى أدركه واعتذر إليه فسأله عن السبب فذكر ذلك له فأسلم المجوسي

Sebagaimana juga Abu Hanifah, dalam kapasitasnya sebagai panutan masyarakat, memberikan teladan dalam menjaga hak-hak non-Muslim sekecil apa pun, seperti yang dikatakan dalam tafsir Ar-rozy juz 2 hal 237

روي أن أبا حنيفة رضي الله عنه كان له على بعض المجوس مال فذهب إلى داره ليطالبه به، فلما وصل إلى باب داره وقع على نعله نجاسة، فنفض نعله فارتفعت النجاسة عن نعله ووقعت على حائط دار المجوسي فتحير أبو حنيفة وقال: إن تركتها كان ذلك سببا لقبح جدار هذا المجوسي، وإن حككتها انحدر التراب من الحائط، فدق الباب فخرجت الجارية فقال لها: قولي لمولاك إن أبا حنيفة بالباب، فخرج إليه وظن أنه يطالبه بالمال، فأخذ يعتذر، فقال أبو حنيفة رضي الله عنه، هاهنا ما هو أولى، وذكر قصة الجدار، وأنه كيف السبيل إلى تطهيره فقال المجوسي: فأنا أبدأ بتطهير نفسي فأسلم في الحال، والنكتة فيه أن أبا حنيفة لما احترز عن ظلم المجوسي في ذلك القدر القليل من الظلم فلأجل تركه ذلك انتقل المجوسي من الكفر إلى الإيمان، فمن احترز عن الظلم كيف يكون حاله عند الله تعالى

3. Sebagai pejabat pemerintah/negara

Seorang Muslim yang berketepatan sebagai pejabat pemerintahan atau negara, wajib melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik dan bertanggung jawab. Sudah menjadi keniscayaan, pejabat Muslim harus melindungi, melayani, menyediakan berbagai kebutuhan hidup, sarana prasarana publik dan seterusnya terhadap seluruh warga negara secara merata. Pada dasarnya ketentuan dan kewajiban yang berlaku bagi individu umat Islam dalam berinteraksi sosial dengan umat agama lain, juga berlaku bagi pejabat Muslim dalam menjalankan tugas-tugas sebagai pejabat. Oleh karena itu, bagi pejabat Muslim dalam menjalankan tugas pemerintahan harus bertujuan untuk menjaga keutuhan negara, menjaga persatuan bangsa, menghindarkan kerusakan dan membangun kemaslahatan umum guna meraih ketenteraman dan kemakmuran yang berkeadilan

Jadi umat Islam yang sedang dipercaya sebagai pejabat pemerintah, wajib berupaya membangun dan menciptakan kehidupan yang rukun, damai dan bersatu bagi seluruh rakyat tanpa membedakan agama dan keyakinanya. Upaya tersebut harus terus menerus digelorakan guna menuju cita-cita luhur dalam berbangsa dan bernegara serta menjaga persatuan nasional. Pejabat Muslim juga berkewajiban membangun umat Islam menuju umat yang berkualitas dalam beragama dan memiliki nasionalisme yang tinggi. Teladan seorang pemimpin pemerintahan dalam membangun toleransi dan kerukunan antar umat beragama tercermin dari sikap Umar bin Khattab Ra. saat beliau menolak tawaran Patriak (pemuka gereja) untuk shalat di gereja, sebab beliau khawatir jika umat islam setelahnya akan menjadikan gereja tersebut sebagai masjid. Tarikh Ibnu Kholdun juz 2 hal 225

 دخل عمر بن الخطاب بيت المقدس وجاء كنيسة القمامة فجلس في صحنها، وحان وقت الصلاة فقال للبترك أريد الصلاة، فقال له: صلّ موضعك، فامتنع وصلّى على الدرجة التي على باب الكنيسة منفردا، فلمّا قضى صلاته قال للتبرك لو صليت داخل الكنيسة أخذها المسلمون بعدي وقالوا هنا صلى عمر، وكتب لهم أن لا يجمع على الدرجة للصلاة ولا يؤذن عليها.

Teladan dalam toleransi dan kerukunan beragama juga dicontohkan Shalahuddin al-Ayyubi dalam kapasitasnya sebagai pemimpin pemerintahan. Dalam kitab Assufiyah wa Tasawwuf fi dhoii Al-kitab wa Sunnah

وكان نصره الأكبر في فتح القدس في 27 رجب سنة 583، وشهد فتحه كثيرمن رجال التصوف من أرباب الخلق والزهد والعلم وتوقيته بهذا اليوم العظيم في ذكرى الإسراء والمعراج إشارة ربانية لرضوات الله على الجيش وقائدة وهو القائل عز وجل { إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ} [غافر: 51]. وقد أمر بالمحافظة على كنيسة اليامة، فضرب بذلك مثلا عظيما في سماحة الإسلام وبنى قريبا منها مدرسة للفقهاء الشافعية ورباطا لصلحاء الصوفية ليثبت للصليبين أن الإسلام دين السماحة والسلام وهذا بجانب إحسانه لأسراهم وإطلاق سراحهم وعلاج جرحاهم.

Batas-batas Toleransi dan Menjalin Kerukunan Dengan Pemeluk Agama Lain Prinsip-prinsip (kerukunan antarumat beragama) di atas dalam penerapannya tidak boleh melampaui batas-batas sebagai berikut:

  1. Tidak melampaui batas akidah sehingga terjerumus dalam kekufuran, seperti ikut ritual agama lain dengan tujuan mensyi’arkan kekufuran.
  2. Tidak melampaui batas syariat sehingga terjerumus dalam keharaman, seperti memakai simbol-simbol yang identik bagi agama lain dengan tujuan meramaikan hari raya agama lain.

Adapun berinteraksi dengan mereka di luar dua ketentuan di atas seperti umat Islam ikut membantu pelaksanaan hari raya umat agama lain, menjaga dan mengamankan rumah ibadah mereka dari gangguan dan ancaman teror, datang ke tempat peribadatan mereka tanpa mengikuti ritual keagamaannya, maka diperbolehkan, terlebih jika hal tersebut didasari untuk menunjukkan keindahan, toleransi, dan kerahmatan agama Islam. Begitu juga berkunjung ke rumah mereka saat tertimpa musibah  atau berbela sungkawa atas kematian keluarganya, menjenguknya saat sakit, bermuamalat dengan mereka di tempat-tempat belanja, mencari penghidupan di tempat-tempat kerja, bersama-sama dalam tugas negara dan layanan publik, maka boleh dan bahkan dianjurkan bersikap baik terhadap mereka, terlebih jika masih ada hubungan kerabat, tetangga dan atau terdapat kemaslahatan, seperti ada harapan mereka masuk agama Islam.

  Pandangan Fiqh mengenai dua masalah diatas

  1. Terdapat perbedaan dikalangan ulama mengenai pembagian daging qurban kepada non muslim:
  2. Tidak membolehkan secara mutlaq baik faqir atau tidak sebagaimana ibaroh-ibaroh kitab dibawah ini

Nihayatul Muhtaj 8/141

(الْأَكْلُ مِنْ أُضْحِيَّةِ تَطَوُّعٍ)

 وَهَدْيِهِ بَلْ يُنْدَبُ أَمَّا الْوَاجِبَةُ فَيُمْتَنَعُ أَكْلُهُ مِنْهَا سَوَاءٌ فِي ذَلِكَ الْمُعَيَّنَةُ ابْتِدَاءً أَوْ عَمَّا فِي الذِّمَّةِ، وَخَرَجَ بِمَا مَرَّ مَا لَوْ ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ أَوْ ارْتَدَّ فَلَا يَجُوزُ لَهُ الْأَكْلُ مِنْهَا كَمَا لَا يَجُوزُ إطْعَامُ كَافِرٍ مِنْهَا مُطْلَقًا، وَيُؤْخَذُ مِنْ ذَلِكَ امْتِنَاعُ إعْطَاءِ الْفَقِيرِ وَالْمُهْدَى إلَيْهِ مِنْهَا شَيْئًا لِلْكَافِرِ، إذْ الْقَصْدُ مِنْهَا إرْفَاقُ الْمُسْلِمِينَ بِالْأَكْلِ لِأَنَّهَا ضِيَافَةُ اللَّهِ لَهُمْ فَلَمْ يَجُزْ لَهُمْ تَمْكِينُ غَيْرِهِمْ مِنْهُ لَكِنْ فِي الْمَجْمُوعِ أَنَّ مُقْتَضَى الْمَذْهَبِ الْجَوَازُ

Tuhfatul-Muhtaj 9/63

أَيْ الْمُضَحِّي عَنْ نَفْسِهِ مَا لَمْ يَرْتَدَّ إذْ لَا يَجُوزُ لِكَافِرٍ الْأَكْلُ مِنْهَا مُطْلَقًا وَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ الْفَقِيرَ وَالْمُهْدَى إلَيْهِ لَا يُطْعِمُهُ مِنْهَا وَيُوَجَّهُ بِأَنَّ الْقَصْدَ مِنْهَا إرْفَاقُ الْمُسْلِمِينَ بِأَكْلِهَا فَلَمْ يَجُزْ لَهُمْ تَمْكِينُ غَيْرِهِمْ مِنْهُ (الْأَكْلِ مِنْ أُضْحِيَّةِ تَطَوُّعٍ) وَهَدْيِهِ بَلْ يُسَنُّ وَقِيلَ يَجِبُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {فَكُلُوا مِنْهَا} [الحج: ٣٦] وَلِلِاتِّبَاعِ رَوَاهُ الشَّيْخَانِ أَمَّا الْوَاجِبَةُ فَلَا يَجُوزُ الْأَكْلُ مِنْهَا سَوَاءٌ الْمُعَيَّنَةُ ابْتِدَاءً أَوْ عَمَّا فِي الذِّمَّةِ

I’anatuth Tholibiin Juz 2/79

 (قوله وله اطعام اغنياء ) اي اعطاع شيء من الاضحية لهم سواء كان مطبوخا كما في التحفة و النهاية  ويشترط فيهم أن يكونوا من المسلمين. أما غيرهم فلا يجوز إعطاؤهم منها شيئا

  1. Membolehkan dengan syarat keadaan mereka yang faqir, sebagai tetangga atau sifat kekerabatan

Hasyiyah Bujairomi alaa al-Khothib 4/340

 (وَتَعَجَّبَ مِنْهُ الْأَذْرَعِيُّ إلَخْ)

 أَيْ مِمَّا وَقَعَ فِي الْمَجْمُوعِ أَيْ لِأَنَّ الْقَصْدَ مِنْهَا إرْفَاقُ الْمُسْلِمِينَ بِأَكْلِهَا لِأَنَّهَا ضِيَافَةٌ مِنْ اللَّهِ فَلَا يَجُوزُ تَمْكِينُ غَيْرِهِمْ مِنْهَا وَكَلَامُ الشَّارِحِ يَقْتَضِي أَنَّ الَّذِي فِي الْمَجْمُوعِ وَتَعَجَّبَ مِنْهُ الْأَذْرَعِيُّ هُوَ إطْعَامُ الْمُضَحِّي لِفُقَرَاءِ أَهْلِ الذِّمَّةِ وَاَلَّذِي فِي شَرْحِ م ر امْتِنَاعُ ذَلِكَ مِنْهُ، وَأَنَّ مَا فِي الْمَجْمُوعِ إنَّمَا هُوَ فِي إعْطَاءِ الْفَقِيرِ أَوْ الْمُهْدَى لَهُ شَيْئًا مِنْهَا لِلْكَافِرِ وَعِبَارَتُهُ: وَخَرَجَ بِالْمُضَحِّي عَنْ نَفْسِهِ مَا لَوْ ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ فَلَا يَجُوزُ لَهُ الْأَكْلُ مِنْهَا، كَمَا لَا يَجُوزُ إطْعَامُ كَافِرٍ مِنْهَا مُطْلَقًا فَقِيرًا أَوْ غَنِيًّا مَنْدُوبَةً أَوْ وَاجِبَةً وَيُؤْخَذُ مِنْ ذَلِكَ امْتِنَاعُ إطْعَامِ الْفَقِيرِ وَالْمُهْدَى إلَيْهِ شَيْئًا مِنْهَا لِلْكَافِرِ إذْ الْقَصْدُ مِنْهَا إرْفَاقُ الْمُسْلِمِينَ بِأَكْلِهَا، لَكِنْ فِي الْمَجْمُوعِ أَنَّ مُقْتَضَى الْمَذْهَبِ الْجَوَازُ وَفِي ع ش عَلَى م ر. دَخَلَ فِي الْإِطْعَامِ مَا لَوْ ضَيَّفَ الْفَقِيرُ أَوْ الْمُهْدَى إلَيْهِ الْغَنِيُّ كَافِرًا فَلَا يَجُوزُ نَعَمْ لَوْ اُضْطُرَّ الْكَافِرُ وَلَمْ يُوجَدْ مَا يَدْفَعُ ضَرُورَتَهُ إلَّا لَحْمُ الْأُضْحِيَّةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يُدْفَعَ لَهُ مِنْهُ مَا يَدْفَعُ ضَرُورَتَهُ وَيَضْمَنُهُ الْكَافِرُ بِبَدَلِهِ لِلْفُقَرَاءِ وَلَوْ كَانَ الدَّافِعُ لَهُ غَنِيًّا كَمَا لَوْ أَكَلَ الْمُضْطَرُّ طَعَامَ غَيْرِهِ فَإِنَّهُ يَضْمَنُهُ بِالْبَدَلِ وَلَا تَكُونُ الضَّرُورَةُ مُبِيحَةً لَهُ إيَّاهُ مَجَّانًا اهـ. .

Mufassol Fi ahkami Udhiyyah 54

نقل النووي عن ابن المنذر قوله: [أجمعت الأمة على جواز إطعام فقراء المسلمين من الأضحية، واختلفوا في إطعام فقراء أهل الذمة فرخص فيه الحسن البصري وأبو حنيفة وأبو ثور. وقال مالك: غيرهم أحب إلينا. وكره مالك أيضا إعطاء النصراني جلد الأضحية أو شيئا من لحمها. وكرهه الليث قال: فإن طبخ لحما فلا بأس بأكل الذمي مع المسلمين منه].ثم قال النووي :[ومقتضى المذهب أنه يجوز إطعامهم من أضحية التطوع دون الواجبة.و قال الشيخ ابن قدامة: [ويجوز أن يطعم منها كافر، وبهذا قال الحسن وأبو ثور وأصحاب الرأي؛ لأنه طعام له أكله فجاز إطعامه للذمي كسائر الأطعمة ولأنه صدقة تطوع فجاز إطعامها للذمي والأسير كسائر صدقة التطوع.والراجح من أقوال العلماء أنه يجوز إطعام أهل الذمة منها، وخاصة إن كانوا فقراء أو جيرانا للمضحي أو قرابته أو تأليفا لقلوبهم.الإهداء من الأضحية وأما الهدية من الأضحية فقد اتفق أهل العلم على أن الهدية من الأضحية مندوبة. وكثير من العلماء يرون أن يهدي ثلثاً منها كما مرَّ في حديث ابن عباس فإنه يجعل الأضحية أثلاثا؛ ثلث لأهل البيت وثلث صدقة وثلث هدية.ونقل هذا عن ابن مسعود وابن عمر وعطاء وإسحاق وأحمد وهو أحد قولي الشافعي

  1. Kebolehan Menerima Sembelihan Non muslim

dengan  syarat-syarat dan ketentuan sebagaimana ibaroh-ibaroh kitab dibawah ini

Majmu Syarah Muhadzdzab 9/78

 (فَرْعٌ)

ذَبِيحَةُ أَهْلِ الْكِتَابِ حَلَالٌ سَوَاءٌ ذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهَا أَمْ لَا لِظَاهِرِ الْقُرْآنِ الْعَزِيزِ هَذَا مَذْهَبُنَا وَمَذْهَبُ الْجُمْهُورِ وَحَكَاهُ ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ عَلِيٍّ والنخعي وحماد بن سليمان وأبى حنيفة وأحمد واسحق وَغَيْرِهِمْ فَإِنْ ذَبَحُوا عَلَى صَنَمٍ أَوْ غَيْرِهِ لَمْ يَحِلَّ قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ وَقَالَ عَطَاءٌ إذَا ذَبَحَ النَّصْرَانِيُّ عَلَى اسْمِ عِيسَى فَكُلْ قَدْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّهُ سَيَقُولُ ذَلِكَ وَبِهِ قَالَ مُجَاهِدٌ وَمَكْحُولٌ وَقَالَ أَبُو ثَوْرٍ إذَا سَمَّوْا اللَّهَ تَعَالَى فَكُلْ وَإِنْ لَمْ يُسَمُّوهُ فَلَا تَأْكُلْ

وَحُكِيَ مِثْلُهُ عَنْ عَلِيٍّ وَابْنِ عُمَرَ وَعَائِشَةَ قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ وَاخْتَلَفُوا فِي ذَبَائِحِهِمْ لِكَنَائِسِهِمْ فَرَخَّصَ فِيهِ أَبُو الدَّرْدَاءِ وَأَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ وَالْعِرْبَاضُ بْنُ سَارِيَةَ

وَالْقَاسِمُ بْنُ مُخَيْمِرَةَ وَحَمْزَةُ بْنُ حَبِيبٍ وَأَبُو مُسْلِمٍ الْخَوْلَانِيُّ وعمر بن الاسود ومكحول وجبر بن نفيل وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ وَكَرِهَهُ مَيْمُونُ بْنُ مِهْرَانَ وَحَمَّادٌ وَالنَّخَعِيُّ وَمَالِكٌ وَالثَّوْرِيُّ وَاللَّيْثُ وَأَبُو حَنِيفَةَ واسحق وَجُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ وَمَذْهَبُنَا تَحْرِيمُهُ وَقَدْ سَبَقَ ذَلِكَ فِي بَابِ الْأُضْحِيَّةِ وَقَالَتْ عَائِشَةُ لَا نَأْكُلُهُ

)فرع) ذكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَنَا تَحْرِيمُ ذَكَاةِ نَصَارَى الْعَرَبِ بَنِي تَغْلِبَ وَتَنُوخَ وَبَهْرَاءَ وَبِهِ قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَعَطَاءٌ وَسَعِيدُ بْنُ جبير وأباحه ابْنُ عَبَّاسٍ وَالنَّخَعِيُّ وَالشَّعْبِيُّ وَعَطَاءٌ الْخُرَاسَانِيُّ وَالزُّهْرِيُّ والحكم وحماد وأبو حنيفة واسحق بْنُ رَاهْوَيْهِ وَأَبُو ثَوْرٍ دَلِيلُنَا مَا ذَكَرَهُ المصنف

Kesimpulan ibaroh-ibaroh diatas sebagaimana berikut:

  1. Terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama mengenai pembagian daging qurban pada non muslim
  2. Tidak dibolehkan secara mutlaq dengan menjunjung tinggi bahwa daging qurban merupakan suguhan dari Allah yang diperuntukan kepada tamu-tamunya yakni umat muslim, maka tidak layak diberikan kepada selain muslim
  3. Ada yang membolehkan dengan membangun alasan bahwa daging itu layaknya makanan pada umumnya dan boleh diperuntukan bagi kalangan faqir baik itu muslim atau non muslim (dzimmi) terlebih mereka yang berstatus tetangga atau kerabat dengan harapan dapat melembutkan hati mereka. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa yang boleh dibagikan adalah sembelihan sunnah bukan yang wajib
  4. Sembelihan ahli kitab halal hukumnya, selagi ia menyembelih sebagaimana yang dipraktikan oleh umat muslim (dileher, tidak ditusuk atau dibantung) dengan ketentuan ahli kitab tersebut ketika menyembelih tidak menyebut nama-nama berhala atau yang dianggap Tuhan selain Allah oleh mereka. Sembelihan bukan merupakan bentuk pemujaan atau menyebut atas nama sesembahan selain Allah yang mereka yakini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *