Himam Selenggarakan Training Skill Public Speaking & Personal Branding

Berita210 Dilihat

Himpunan Santri Mahad Aly Pesantren Maslakul Huda (Himam) kembali menyelenggarakan “Pelatihan Keterampilan Public Speaking untuk Personal Branding” pada hari Jumat, 10 Juli 2026.

Kegiatan berlangsung di Auditorium Pesantren Maslakul Huda dan diikuti hampir seluruh santri aktif Mahad Aly. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dan berakhir pukul 11.00 WIB.

Kegiatan ini menghadirkan Musyaffa Shidqi Imamuddin, CPS, CGHNC, CHC, CNLPC, sebagai trainer . Selain dikenal memiliki kompetensi di bidang public speaking, Musyaffa Shidqi juga aktif sebagai trainer dan motivator yang memiliki pengalaman dalam pengembangan keterampilan komunikasi dan personal branding.

Pelatihan dimulai dengan sesi ice-breaking, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi yang pada kali ini mempelajari sembilan pokok pembahasan yaitu: pola pikir, fundamental, penyampaian keterampilan, adlibbing, storytelling, personal branding , praktik besar, feedback , dan perencanaan tindakan ( action plan ). Pada sesi praktik, peserta diberi kesempatan untuk melakukan latihan berbicara di depan temannya.

Dalam penyampaiannya, Musyaffa Shidqi juga menekankan bahwa kemampuan berkomunikasi merupakan langkah awal dalam public speaking . Ia juga menjelaskan bahwa pilar komunikasi meliputi tiga aspek utama: verbal, vokal, dan visual yang harus dipadukan agar pesan dapat disampaikan secara efektif kepada audiens.

Menjelang siang, acara ditutup dengan kutipan “Jika Anda dapat berbicara, Anda dapat mempengaruhi. Jika Anda dapat mempengaruhi, Anda dapat mengubah hidup Anda .”

(Jika kamu bisa berbicara, kamu bisa mempengaruhi. Jika kamu bisa mempengaruhi, kamu bisa mengubah hidupmu).

Melalui kegiatan ini, Himam berharap agar para santri Ma’had Aly mampu menerapkan keterampilan komunikasi dan personal branding yang diperoleh untuk meningkatkan kepercayaan diri, memperluas pengaruh positif, serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan akademik dan penguatan peran sosial di masyarakat.

Tanya-Jawab Seputar Public Speaking & Personal Branding:

  1. Public Speaking perspektif Aristoteles itu ada 3; Logos (logika, fakta, data), Etos (kredibilitas), Pathos (emosional).

Pada pemaparan materi yg disampaikan tadi ada banyak sekali hal yg harus dipenuhi terhadap Public Speaking untuk goals ke Personal Branding, salah satunya adalah kredibilitas seorang Komunikator agar mendapat kepercayaan audiens.

pertanyaannya: Kita sering menjumpai pembicara yang personal brandingnya (etos) sudah kuat, tapi argumentasinya lemah.. tapi audiens tetap menerimanya. Apakah hal ini menunjukan kalau efektivitas Public Speaking lebih ditentukan oleh persepsi daripada  kualitas argumentasi ? Contoh saja Wakil Presiden, dia sudah mendapatkan Personal Brandingnya sebagai Wakil Kepala Negara. tapi sering kali kalau ditanya A tapi jawabannya malah B atau sebaliknya😆🙏🏻

Balik lagi ke teori komunikasi dari Albert Mehrabains. Faktor paling kuat yang mempengaruhi kepercayaan dan keyakinan audiens terhadap seorang public speaker adalah visual (sebesar 55% keberpengaruhan nya). maka dari itu visual atau dalam konteks ini kredibilitas yang ditampilkan itu sangat berpengaruh dalam keyakinan audiens. Tapi dalam konteks komunikasi di realitas, kita perlu ketahui bahwa visual itu bukan segalanya. kita tetap memerlukan verbal dan vocal yang di sampaikan dengan baik juga.

nah di konteks seperti ini pertanyaanya adalah, apakah audiens betul betul menerimanya? meyakini dan percaya dengan apa yang disampaikan? atau hanya penerimaan belaka hanya untuk formalitas? kita bisa lihat sendiri dalam realitas nya orang orang tidak sebodoh itu saat ini. dan credibility (etos) tidak lagi hanya dinilai lewat penampilan dan jabatan. tapi juga dilihat lewat data, fakta, kerja nyata. dan itulah yang membuat personal branding itu, sejatinya saat ini yang orang nilai adalah kemampuan dalam beropini, because credibility it’s not about position you make. it’s about making decision, and build the trust through emotion and fact.

 

  1. Kemarin pemateri menyampaikan bahwa seorang public speaker harus memiliki kepercayaan, namun kebanyakan saat public speaker memaparkan sesuatu itu pasti menyelipkan bahasa inggris diantara bahasa Indonesia, seperti opportunity dll. Pertanyaanya kenapa public speaker melakukan hal demikian? Apakah mereka sudah tidak sepenuhnya percaya bahasa Indonesia?

Sebelumnya ini mau disclaimer dulu ya. kepercayaan yang di maksud bukan seperti anutan ya. tapi kepercayaan ini adalah kepercayaan diri dan keyakinan pada diri sendiri bahwa bisa melakukan hal tersebut.

Nah terkait memakai campuran bahasa karena kadang banyak kata kata yang lebih enak di sampaikan oleh speaker dalam bahasa inggris. bukan karena tidak percaya bahasa indonesia. tapi karena memang terbiasa hidup dalam kedua bahasa ini. seperti mungkin orang dari daerah yang kadang suka secara tidak sengaja mencampurkan bahasa daerah  dan bahasa indonesia dalam percakapan nya. tapi memang perlu digaris bawahi bahwa speakers (pembicara) yang memakai campuran kata dalam penyampaian nya itu tidak salah ya. kecuali memang di dalam kondisi khusus dan resmi misal kegiatan pembicara sebagai pembawa acara dalam acara resmi kenegaraan. maka sudah sepatutnya tidak mencampurkan bahasa lain. juga ketika sedang membawakan materi dalam bahasa inggris. maka juga tidak mencampurkan dengan bahasa indonesia. tapi memang untuk konteks training seperti kemarin karena pembicara nya memang sudah terbiasa dengan 2 bahasa dan nyaman dengan penyampaian seperti itu. maka disampaikan seperti itu dan karena memang dari awal tidak ada pemberitahuan atau catatan khusus untuk hanya harus menggunakan bahasa indonesia. maka pembicara memakai penjelasan nya sesuai dengan kebiasaan saja.

 

  1. Lebih tepatnya, Sejak kapan personal Branding dimulai? Apakah sejak dia ngonten, atau gak ngonten pun sudah masuk personal Branding?

Personal Branding di mulai ketika anda berhasil menjadi diri sendiri, mengetahui tentang diri sendiri, memahami diri sendiri, dan menyampaikan tentang diri sendiri ke orang lain.

Personal Branding simple nya adalah seperti kita menyampaikan tentang diri kita ke orang lain saja, jadi orang lain mengenal diri kita, mengenal diri anda. itu namanya personal branding.

Nah kalau konten, itu hanyalah tools aja, alat untuk mempercepat dan memperluas jangkauan kita mengenalkan diri kita kepada orang lain.

 

  1. Apakah sifat introvert merupakan hambatan dalam mengembangkan kemampuan public speaking? jika hal tersebut menjadi penghambat, Strategi apa yang efektif bagi introvert untuk membangun kepercayaan diri saat presentasi dan menjaga fokus ketika menjadi pusat perhatian banyak orang?

Introvert bukanlah sebuah kendala ataupun hambatan dalam komunikasi. justru secara data. kebanyakan dari seorang public speaker atau trainer itu adalah seorang introvert. kenapa bisa seperti itu?

karena sejatinya, orang introvert itu adalah orang yang sangat pemikir, sangat hati hati dalam berbicara, sebelum dia berbicara maka harus dipikirkan matang matang. dan itulah yang membuat seorang introvert biasanya justru menjadi trainer. karena mereka adalah orang yang sebelum berbicara mesti dipikirkan matang matang. dan jadinya yang disampaikannya itu bisa terstruktur.

Kalau kita lihat teori nya dari quotes seorang penulis ternama, Dale Carnegie namanya. beliau pernah menyampaikan bahwa “only the prepared speaker deserve to be confident” hanya seorang pembicara yang mempersiapkan dirinya dengan baik yang berhak mendapatkan rasa kepercayaan diri. hal tersebut menggambarkan bahwa memang introvert itu bukan hambatan, justru itu adalah hadiah untuk orang agar bisa mikir dulu sebelum berbicara.

Nah kalau misal nya tips untuk bisa membangun kepercayaan diri dan fokus sebagai pembicara itu bisa dimulai dari latihan adlibbing yang kita coba latih kemarin. ambil 1 barang random, bebas barang apapun, terus jelaskan tentang barang itu ke orang lain, atau bisa ke diri sendiri lewat kaca atau sambil di rekam. itu dilakukan berkali kali. lalu juga bisa mulai coba bicara dari forum kecil 1-3 orang, sampai ke forum besar isi belasan sampai puluhan orang. karena sejatinya public speaking itu kan  80% psikologi, 20% teknik. jadi yang perlu di bangun itu mental berani ngomong nya dulu yang diasah lewat pengalaman berbicara nya. setelah itu baru di perbagus dengan teknik nya seperti body gesture. body position, verbal, vocal, visual dll nya

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *