Paradigma Integrasi-Interkoneksi sebagai Konstruksi Filsafat Keilmuan

Kolom Santri182 Dilihat

Paradigma integrasi – interkoneksi yang digagas oleh M. Amin Abdullah merupakan salah satu tawaran penting dalam filsafat ilmu kontemporer Islam, khususnya sebagai respons terhadap fragmentasi keilmuan antara ilmu agama dan ilmu umum. Paradigma ini tidak sekadar bersifat metodologis, melainkan merupakan konstruksi filosofis yang berangkat dari kritik epistemologis atas dikotomi ilmu yang mengakar kuat dalam tradisi pendidikan dan keilmuan modern di dunia Islam.

Secara ontologis, paradigma integrasi – interkoneksi berpijak pada pandangan bahwa realitas bersifat multidimensi dan saling terkait. Realitas keagamaan, sosial, alam, dan budaya tidak dapat dipahami secara terpisah melalui satu disiplin ilmu saja. Karena itu, Amin Abdullah menolak pandangan ontologi keilmuan yang menyederhanakan realitas dan menegaskan perlunya pendekatan pentingnya pendekatan menyeluruh terhadap objek kajian ilmu. Ontologi integratif ini mengandaikan bahwa kebenaran tidak dimonopoli oleh satu jenis pengetahuan, baik teks keagamaan maupun sains empiris.

Dari sisi epistemologi, integrasi–interkoneksi merupakan kritik atas epistemologi konflik dan independensi antara agama dan sains. Amin Abdullah menawarkan epistemologi dialogis, di mana ilmu-ilmu keislaman (ulumuddin), ilmu sosial-humaniora, dan ilmu alam saling berinteraksi, berdialog, dan memperkaya satu sama lain. Metafora jaring laba-laba (spider web) yang ia gunakan menggambarkan relasi epistemik yang cair, non-hierarkis, dan terbuka, berbeda dari model integrasi yang bersifat peleburan total atau dominasi satu disiplin atas yang lain.

Secara aksiologis, paradigma ini punya orientasi yang jelas, yakni ilmu harus memberi kontribusi nyata untuk kemanusiaan, keadilan sosial, dan kelangsungan peradaban. Ilmu tidak boleh hanya menghasilkan teori-teori, tetapi harus mampu menjawab tantangan nyata masyarakat modern mulai dari kerusakan lingkungan, keragaman agama, hingga masalah kemanusiaan global. Di sinilah integrasi-interkoneksi menjadi landasan moral dalam membangun keilmuan Islam yang relevan dengan zaman.

Dengan demikian, paradigma integrasi – interkoneksi Amin Abdullah dapat dipahami sebagai konstruksi filsafat keilmuan yang utuh, mencakup dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Paradigma ini tidak hanya relevan bagi reformasi pendidikan tinggi, tetapi juga berkontribusi pada diskursus filsafat ilmu global dalam merespons kompleksitas realitas modern secara lebih manusiawi dan transdisipliner ( lintas disiplin ilmu).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *