Penting untuk diketahui ya sobat Mahally, dalam fikih, niat adalah rukun puasa dan harus dilakukan pada malam hari. Lalu muncul pertanyaan:
Apakah niat puasa Ramadan cukup sekali di awal, atau justru wajib di setiap malamnya?
Nah, sampai sini para ulama berbeda pendapat.
Pendapat Imam Malik → Cukup diniatkan di malam pertama berpuasa (hari pertama puasa saja). Hari-hari berikutnya tidak perlu diniati. Karena sudah include di puasa pertama.
Pendapat Imam Syafi’i → Harus diniatkan di setiap malamnya. Dari malam pertama sampai malam terakhir bulan Ramadan, setiap malamnya wajib niat berpuasa.
Lantas, apa argumen serta bagaimana nalar ushuli dari Imam Malik maupun Imam Syafi’i sehingga berpendapat demikian?
Baik Imam Malik maupun Imam Syafi’i ternyata berangkat dari Hadis yang sama:
لا صيام لمن لم يبيّت الصّيام من الّيل
“Tidak ada puasa bagi orang yang tidak berniat puasa dari malam hari”
Hanya saja arah istidlal-nya berbeda. Masing-masing memiliki nalar argumen dalam memahami Hadis tersebut.
Argumentasi Imam Malik
1. Dalam Hadis tersebut tidak ada indikasi yang mewajibkan niat dilakukan di setiap malam.
2. Puasa Ramadan merupakan satu kesatuan ibadah. Sehingga tidak membutuhkan pengulangan niat. Beliau meng- qiyaskan_-nya dengan shalat, di mana hari-hari puasa diibaratkan seperti rakaat-rakaat shalat. Sedangkan niat shalat hanya cukup dilakukan pada rakaat pertama, maka niat puasa Ramada pun juga cukup dilakukan pada puasa pertama.
3. Argumen ini diperkuat dari dalil lain, yaitu Surat Al Baqarah 185 : فمن شهد منكم الشّهر فليصمه yang menyandarkan perintah puasa pada “bulan” secara keseluruhan. Bukan hari per hari.
Argumentasi Imam Syafi’i
1. Setiap hari Ramadan merupakan puasa wajib tersendiri, bukan satu kesatuan ibadah. Buktinya, jika satu hari batal, hari lain tetap sah. Sehingga tidak bisa diqiyas-kan dengan permasalahan shalat. Selain itu, setiap puasa juga perlu niat, maka secara otomatis setiap malamnya juga membutuhkan niat baru.
2. Puasa Ramadan adalah ibadah yang bisa ditunaikan baik secara ada’ maupun qadha’. Jika secara qadha’ saja jelas membutuhkan niat sendiri, maka secara ada’-nya pun juga begitu.
3. Argumen ini diperkuat dari dalil lain, yakni Surat Al Baqarah 187 : ثمّ أتمّوا الصّيام إلى الّيل yang menegaskan bahwa puasa merupakan ibadah yang pelaksanaannya hanya sampai malam atau hari per hari. Bukan sebulan penuh.
Sementara itu, konsekuensi praktis jika kita mengikuti nalar Maliki:
- Tidak perlu memperbarui niat setiap malam.
- Puasanya tetap sah, karena mencakup niat awal. Kecuali jika ia sengaja memutus niat atau ada hari yang terputus sebab safar yang membolehkan berbuka, sakit, dll. Maka membutuhkan niat baru.
Nah, meskipun terdapat perbedaan nalar, dalam praktiknya para ulama menganjurkan untuk ber-taqlid pada Imam Malik untuk mengambil manfaat jika lupa niat di kemudian hari. Sehingga tata caranya adalah:
1. Berniat satu bulan penuh di malam pertama mengikuti nalar Maliki sebagai antisipasi jika lupa di hari lain. Dengan redaksi niat:
نويت صوم جميع شهر رمضان هذه السنة تقليدا للامام مالك فرضا لله تعالى
2.Tetap berniat setiap malam mengikuti nalar Syafi’i sebagai bentuk ketaatan harian yang lebih kuat dalil tabyit-nya (menginapkan niat setiap malam). Dengan redaksi niat:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Referensi:
التوضيح في شرح مختصر ابن الحاجب ٣٩٧/٢، مركز نجيبويه للمخطوطات و خدمة التراث
الحاوي الكبير ٤٠٢/٣، دار الكتب العلمية، بيروت-لبنان
إرشاد السالك إلى أشرف المسالك في فقه الإمام مالك ١/٣٨ — ابن عسكر (ت ٧٣٢)
حاشيتا قليوبي وعميرة ٢/٦٦ — القليوبي (ت ١٠٦٩) [كتاب الصيام]←[فصل والنية شرط للصوم]
فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين ١/٢٦٣ — زين الدين المعبري (ت ٩٨٧)
